
Setelah
Cinta di perbolehkan pulang, mereka langsung pergi ke rumah mama dan papanya
Taufiq. Di sana mama dan papanya Taufiq menyambut kedangan sang besan beserta
anak dan cucunya. Mamanya Taufiq juga sudah memasak super banyak untuk mereka
semua. Mama dan papanya Taufiq emang sengaja tidak ikut pergi ke rumah sakit
karena ingin memberi kesempatan dan waktu buat sang besan bertemu dan tatap
muka dengan sang buah hati.
Setelah
selesai makan, Taufiq memberi tahu mama dan papanya bahwa ia dan sang istri
akan pergi untuk tinggal bersama ayah dan bundannya Cinta. Mama dan papanya
Taufiq tidak bisa melarang mereka karena bagaimanapun Cinta dan kedua orang
tuanya butuh waktu untuk bersama setelah sekian lama gak bertemu.
Setelah
berpamitan mereka langsung pulang ke tempat rumahnya dulu yang pernah ia
tinggali, yaitu rumah Cinta dengan kedua orang tuanya. Rumah itu emang di jual
tapi sampai sekarang masih belum ada yang membelinya sehingga Cinta dan kedua
orang tuanya bisa tinggal di tempat itu sampai sekarang.
Setelah
berada di rumah itu, mereka berempat langsung bersih bersih karena mereka belum
mencari asisten rumah tangga. Sehingga mau gak mau Cinta, Taufiq dan juga kedua
orang tua cinta harus gotong royong apalagi rumah ini sudah lama sekali gak di
tempati membuat mereka benar benar kelelahan.
Hampir lima
jam mereka bersih bersih, setelah selesai barulah mereka mandi dan langsung
istirahat. Kedua orang tua cinta tidur di kamar lantai bawah sedangkan Cinta
dan Taufiq tidur di kamar lantai atas, kamar yang pernah di tempati oleh Cinta
dulu. Kamar itu cukup luas bahkan lebih luas dari kamar Taufiq. Kedua orang tua
Cinta emang sengaja memperluas kamar itu sesuai permintaan Cinta. Sebenarnya itu
kamar 3 tapi di rombak menjadi satu kamar.
Di lantai
atas semuanya milik Cinta. Kamar pertama merupakan kamar pribadi Cinta. Kamar
kedua khusus kamar buku dan koleksi novel novel yang selalu Cinta beli. Bukan sekedar buku
novel tapi juga ada berbagai macam buku agama. Sedangkan kamar ke tiga khusus
kamar boneka karena Cinta juga suka mengkoleksi berbagai macam boneka yang
menurutnya imut.
Tengah
malam saat Naila tertidur dengan pulas, Taufiq terbangun karna kedinginan. Ia
memeluk Naila dengan sangat erat. Taufiq memerhatikan wajah sang istri yang
terlihat sangat imut dan menggemaskan. Ia tidak menyangka bahwa pernikahan yang
dulu sempat terhenti sekarang bisa di jalanin dengan kebahagiaan yang tiada
tara apalagi dengan kembalinya ingatan sang istri membuat Taufiq merasa
__ADS_1
bersyukur.
Karena
Taufiq gak bisa tidur lagi, akhirnya ia pun memutuskan untuk bangun. Ia mandi
malam, selesai mandi tak lupa ia mengambil wudhu. Taufiq segera pakai baju,
selesai pakai baju koko warna putih di tambah sarung yang di tata rapi dan juga
peci warna putih. Taufiq segera melaksanakan sholat tahajjud dan juga sholat
witir. Selesai sholat ia langsung berdzikir selama satu jam lebih. Selesai
berdzikir barulah ia melanjutkan dengan membaca Al qur’an.
Setelah
selesai membaca Al Qur’an, ia melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 4
pagi. Ia pun segera membangunkan sang istri.
“Sayang
bangun yuk, udah jam setengah 4. Kamu belum sholat tahajjud. Ayo bangun, sholat
dulu. Biar hidup kita jadi berkah. Jangan tidur terus…” Ucap Taufiq sambil terus
membangunkan istrinya, sesekali ia mencium pipi dan kening sang istri.
“Iya
sayang, aku udah bangun kog.” Ucap Cinta, ia membuka matanya dan langsung
tersenyum melihat suaminya yang begitu tampan. Setelah Cinta sadar 100%,
barulah ia segera pergi ke kamar mandi. Ia segera mencuci wajahnya lalu
menggosok gigi. Setelah seleesai ia mengambil wudhu dan langsung melaksanakan
sholat tahajjud.
Sedangkan Taufiq sambil menunggu sang istri, ia
Setelah
mereka selesai sholat shubuh, Taufiq dan Naila memutuskan untuk olah raga pagi
sekalian pergi ke pasar dngan jalan kaki, mereka belanja untuk masak hari ini.
Mereka kan baru pindah kemaren jadi di kulkas belum ada sayur mayur, beras dan
bahan bahan lainnya yang akan di masak.
Setelah
selesai belanja, mereka pulang dengan naik taxi karena mereka membawa belanjaan
yang begitu sangat banyak. Sesampai di rumah mereka langsung di sambut oleh
ayah dan juga sang bunda.
“Wau kamu
belanja banyak banget sayang.” Ucap sang bunda.
“Aku
belanja untuk satu bulan ke depan bun.” Jawab Cinta tersenyum.
“Sayang,
aku dan bunda ke dapur dulu ya untuk masak. Kamu temenin ayah aja. Oke.” Ucap
Cinta kepada sang suami. Taufiq pun tersenyum lalu menganggukkan kepala. Taufiq
mendekati sang ayah mertua sedangkan Cinta dan bunda pergi ke dapur untuk
masak. Di sana Cinta bercerita tentang ia dan bunda angkatnya serta RESTO yang
ia bangun. Bunda mendengarkan dengan seksama, sesekali ia bertanya kepada
__ADS_1
putrinya.
Tak terasa
satu jam sudah mereka memasak. Kini semua masakan sudah tersaji di atas meja. Cinta
memanggil sang suami dan juga ayahnya untuk sarapan pagi.
Di meja
makan mereka tidak hanya makan saja melainkan mereka bercerita, ngobrol dan
bercanda sehingga Taufiq tidak canggung lagi berhadapan dengan sang mertua.
“Oh ya
sayang, nanti kamu kuliah?” tanya sang ayah.
“Iya yah.”
“Terus
gimana dngan identitas kamu. Apakah kamu akan segera menggantinya?” tanya
bunda.
“Entahlah
bun. Aku gak tau caranya dan aku bingung gimana cara menjelaskan kepada pihak
kampus lagian aku juga gak tau gimana cara mengurusnya.” Ucap Cinta sedih.
“Biar nanti
semuanya aku yang urus sayang.” Ujar Taufiq tersenyum.
“Benarkah?”
tanya Cinta bahagia.
“Iya. Itu
masalah gampang, jadi tidak perlu di fikir terlalu pusing. Oke” ucap Taufiq
“Oke.”
Selesai makan,
Cinta segera pergi mandi dan bersiap siap untuk berangkat kuliah. Taufiq pun
juga segera bersiap siap untuk mengantarkan istrinya kuliah serta mau mengurus
identitas istrinya di kampus karena dulu ia menggunakan nama naila dan ijazah
yang ia berikan adalah ijazah palsu, entahlah kenapa pihak kampus gak menaruh
curiga atau dulu ayah angkat Cinta yang mengatur semuanya sehingga sang istri
bisa masuk kuliah dan saat ia pindah kampus bersama Elsapun seakan akan pihak
kampus bungkam kadang Taufiq benar benar tidak mengerti kenapa bisa terjadi
padahal menurut dirinya ini sangatlah ganjal. Tapi Taufiq tidak mau berfikir
terlalu sulit, yang penting saat ini ia harus mengurus semuanya sehingga sang
istri bisa kuliah dengan tenang dan nyaman. Setelah itu ia akan pergi ke
kantor. Yah, ngapain Taufiq di rumah jika sang istri pergi ke kampus. Mending
ia habiskan waktunya di kantor untuk mengurus pekerjaannya. Ia akan pulang jika
istrinya pulang karena ia harus mengantar jemput istrinya. Ia tak akan
membiarkan istrinya berangkat dan pulang sendirian. Ia tak ingin sang istri
kenapa napa lagi. Taufiq juga memasang mata mata untuk terus memperhatikan
istrinya tanpa sepengetahuan istrinya sehingga Taufiq bisa tau apa saja yang di
lakukan oelh sang istri. Bukan Taufiq menaruh rasa curiga kepada sang istri
__ADS_1
tapi melainkan Taufiq ingin menjaga sang istri, ia tak akan membiarkan istrinya
terluka sedikitpun.