
Setelah Ani dan Ana selesai makan, Pram datang bersama dengan Jay.
"Loh dek, kalian sudah pulang?" tanya Pram tanpa merasa bersalah.
"Iya." Jawab Ani cuek langsung masuk ke kamarnya tanpa mau mengobrol lebih lama lagi dengan Pram.
"Dia kenapa sih?" tanya Pram tak mengerti dengan sikap Ani yang mencoba menjauhinya.
"Kog tanya kenapa? Dia kayak gitu karena Kak Pram lho." Jawab Ana.
"Emang kenapa dengan kakak?" tanya balek Pram sedangkan Jay gak mau ikut campur, ia pergi mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya sedangkan Cinta juga gak mau ikut campur. Ia memilih pergi ke ruang tengah untuk nonton tivi sambil menunggu sang suami pulang.
"Tadi aku dan Ani nunggu kakak jemput kami. Tapi setelah lima belas menit menunggu kakak juga belum datang. Ani sempat von kakak tapi hp nya gak aktiv." Jawab Ana yang pengen marah tapi gak bisa karena bagaimanapun ini semua bukan salah kakaknya.
"Maaf, tadi kakak ada meeting dadakan. Terus selama kakak meeting kakak menon aktivkan hp kaka. Tapi kan kalian bisa menelvon Pak Dar. Jagi gak harus nunggu kakak?" tanya Pram.
"Tadi Ani juga sudah von Pak Dar tapi gak di angkat. Karena Pak Dar gak megang hp, ia bantu bunda bersih bersih di belakang rumah." Jawab Ana.
"Hemmm gitu. Tapi kan kalian bisa mesen grab. Kenapa gitu aja di buat pusing sih?" tanya Pram yang gak suka ruwet ruwet.
"Aku yang gak mau. Aku males naik grab." Jawab Ana.
"Terus kalian pulang ke sini naik apa?" tanya Pram.
"Angkot." Jawab Ana cuek.
"HA! cius?" taya Pram tak percaya.
"Iyalah, tadi aku dan Ani naik angkotan umum. Murah sih per orang cuma lima ribu. Tapi panas dan gerah banget apalagi di angkot itu sesak karena sang sopir terus aja berhenti tiap ada orang yang mau naik hingga angkot itu semakin sesak apalagi ada orang yang bawa ayam ke angkot membuat Ani kesal setengah mati. Terus aku dan Ani terpaksa deh meminta di turunkan ke sopir. Lalu aku dan Ani menunggu bis di trotoar. Tau gaka sih, panas banget pas kami berdiri di trotoar. Untung gak lama, karena setelah itu ada bis lewat. Tapi lagi lagi bis itu udah penuh n sesak. Tapi karena aku dan Ani sudah gak mau nunggu lagi akhirnya aku dan Ani masuk ke dalam bis itu dan berdiri sepanjang jalan karena kursi sudah pada penuh semua. Huh rasanya sungguh menyaktikan tapi aku coba menahannya apalagi Ani yang terus aja ngoceh gak jelas. Hehe............" Ujar Ana menceritakan secara detail dan di akhiri dengan senyuman mengingat kejadian barusan.
"Kamu seneng naik angkot?" tanya Pram.
"Seneng seneng gak seneng sih. Seneng karena aku bisa merasakan apa yang mereka rasakan. Paling tidak, aku tau apa yang mereka rasakan saat menaiki angkotan umum tapi gak senengnya karena gak ada tempat duduk pas naik bis. Terus capek dan gerah banget. Karena sudah gak ada Kipas Angin, gak ada Ac orang orangnya malah main sesak sesak an. dorong sana dorong sini, untung kami gak jatuh. Huh gak bisa bayangin deh kalau aku dan Ani sampai jatuh, kan malu maluin. Pokonya menyebalkan tapi seru." Ucap Ana tertawa.
"Mau nyoba lagi?" tanya Pram.
"Enggak deh. Eh maksudnya untuk saat ini mungkin masih enggak tapi gak tau nanti. Karena kan fikiran orang gampang berubah ubah." Jawab Ana tersenyum.
__ADS_1
"Hemmm oh ya bilangin ke Ani ya. Sebagai permintaan maafnya kakak, nanti kaka akan membawa Ani jalan jalan setelah habis sholat isya'." Ucap Pramm.
"Cuma Ani doang nih yang di ajak jalan jalan?" tanya Ana.
"Kamu juga." Jawab Pram sambil menyentuh kepala Ana.
"Hehe...Makasih."
"Kaka ke atas dulu ya mau mandi." Ucap Pram.
"Iya."
Setelah Pram pergi ke kamarnya, Ana langsung menghampiri Jay yang lagi asyik menikmati makanannya.
"Kog kakak baru pulang langsung makan? gak mandi dulu?" tanya Ana.
"Keburu lapar. Mandinya nanti aja pas udh selesai makan." Jawab Jay.
"Kak Wil mana?" tanya Ana.
"Gak tuh anak. Mungkin lagi mampir ke suatu tempat." Jawab Jay yang terus aja memasukkan nasi dan lauk pauknya ke dalam mulutnya yang masih penuh.
"Oh.....Kak Wil kapan mau nganerin aku dan Ani kulyah?" tanya Ana.
"Gimana kalau besok?" tanya Ana.
"Baiklah, besok aku akan mengantarkan kalian." Jawab Jay.
"Yee........makasih ya ka. Tapi jangan kayak Kak Pram ya. Kalau gak bisa jemput, paling tidak ngasih tau dulu. Jadi kan aku dan Ani gak terlalu berharap." Jawab Ana
"Iya ya bawel. Sana pergi. Kakak lagi makan nih lho di ganggu terus." Ucap Jay yang sedikit kesal karena gak suka jika pas lagi makan ada yang ganggu karena itu mengurangi kenikmatannya.
"Iya ya maaf." Ucap Ana yang langsung pergi menghampiri sang bunda yang lagi asyik nonton tivi.
"Ani mana sayang?' tanya Cinta yang melihat Ana duduk di sebelahnya.
"Ani ada di kamar bun." Jawab Ana sambil mengambil cemilan yang ada di meja.
"Kamu besok mau di antar siapa ke kampus?" tanya Cinta.
__ADS_1
"Kak Jay bun." Jawab Ana sambil memasukkan cemilan ke dalam mulutnya.
"Udah bilang sama Kak Jay?" tanya Cinta.
"Udah bun barusan dan katanya sih dia mau." Jawab Ana.
"Syukurlah. Lalu gimana tadi tugas kampusnya, lancar gak?" tanya Cinta.
"Lancar dong. Gak ada hambatan. Semua tugasku juga dapat nilai A semua begitupun degnan Ani." Jawab Ana tersenyum.
"Syukurlah bunda seneng dengarnya. Jangan pernah bikin bunda kecewa dengan nilai nila kamu yang tidak memuaskan. Jika gak ada yang tau atau gak bisa, tanya sama bunda atau sama ayah. Atau tanya sama ketiga kakakmu yang sudah lebih dulu lulus." Jawab Cinta dengan lembut.
"Iya bun tapi sejauh ini sih, aku dan Ani masih bisa mengerjakan semua tugas kami dengan sebaik mungkin." Jawab Ana.
"Syukurlah. Terus gimana hubungan kamu dngan Ila dan Ica?" tanya Cinta.
"Baik bun. Tadi pagi pagi kami juga sempet ngobrol sih, satu jam lebih malah." Jawab Ana.
"Emang ngobrol apa aja?" tanya Cinta.
"Ya banyak bund." Jawab Ana yang males jika harus mengulang menceritakan secara detail.
"Kamu pernah liat gak, Ica dan Ila di kampus dekat dengan cowok?" tanya Cinta yang pengen banget salah satu di antara mereka mau menjadi menantunya, kalau perlu dua duanya.
"Enggak tuh bun. Aku gak pernah liat mereka dekat dengan cowok." Jawab Ana curiga.
"Syukurlah."
"Apa bunda ingin menjodohkan salah satu anak bunda dengan mereka?" tanya Ana penuh selidik.
"Iya pengennya sih gitu. Itu pun jika mereka mau. Tapi jika enggak, ya bunda gak bisa maksa." Jawab Cinta.
"Sebenarnya sih aku juga pengen Ica dan Ila jadi kakak ipar aku bun. Tapi melihat mereka yang gak terlalu akrab dengan ketiga kakakku membuatku hanya bisa diam. Biarlah hati mereka yang memilih." Ucap Ana tersenyum.
"Kamu itu jangan manggil Ica dan Ila dnegan sebutan nama dong. Paling tidak harus ada embel embelnya. Bagaimanapun Ica dan Ila itu kan lebih tua dari kamu. Kamu tidak boleh kayak gitu. Kamu harus bisa menghormati yang tua dan menghargai yang lebih muda." Ucap Cinta
"Iya bun, maaf. Oh ya ayah sama kak wil kog belum pulang sih bun padahal udah mau maghrib loh?" tanya Ana.
"Ayah sih udah ada di perjalanan. Entar lagi juga nyampek tapi gak tau kalau Kak Wil." Ucap Cinta yang tadi sempat menghubungi suaminya dan Taufiq pun membalasnya kalau kini sudah ada dalam perjalanan pulang.
__ADS_1
"Kalau gitu, aku ke kamar dulu ya bun." Jawab Ana yang langsung pergi ke kamar menemui saudara kembarnya.
.