
Keesokan harinya, Cinta pergi ke sekolah dengan naik angkot. Ia sampai di SMA itu tepat jam 6.50, masih ada waktu 10 menit buat ia bersih bersih kelas.
"Cin, kamu gak capek apa bersih bersih terus?" tanya Ulfa sambil menikmati cemilannya.
"Enggak, Ul. Andaikan aku capek, aku tetep akan membersihkannya. Aku gak suka jika ruangan ini kotor. Aku juga gak bisa belajar dengan tenang jika melihat ada debu di mana mana. Sampah sampag juga berserakan." Cinta emang hampir setiap hari melihat sampah sana sini. Sudah sering Cinta memergoki teman temannya yang buang sampah sembarangan. Kadang di kolong meja, di bawah kursi, di bawah meja. Kadang di selipkan di kursi bahkan kadang numpuk di pojokan. Padahal di kelas sudah ada tempah sampahnya tapi mereka tetap saja buang seenaknya. Sudah beberapa kali Cinta menasehati mereka dan mereka bilang "iya" dan "maaf" dan janji tidak mengulanginnya lagi. Tapi kenyataanya mereka tetap saja kayak gitu hingga akhirnya Cinta jenuh dan males untuk menegur mereka lagi ataupun menasehatinya. Karena bagi Cinta itu percuma saja, hanya buang buang waktu dan tenaga saja.
Selesai bersih bersih, Cinta langsung duduk di kelas. Ia mencoba menghilangkan rasa lelahnya. Setelah ia merasa seger lagi, Cinta langsung mengambil buku MTK dan mempelajarinya.
"Hei." Elsa datang dan langsung duduk di dekat Cinta.
"Tumben datangnya, mepet. Biasanya juga jam setengah tujuh ada di sini." tanya Cinta tanpa menoleh ke arah Elsa
"Tadi, ban mobilku bermasalah. Terpaksa deh aku nelvon sopir buat bawa ke bengkel. Sedangkan aku ke sini naik grab.
" Oh..." Cinta tak lagi meresponnya. Ia terlalu fokus dengan rumus rumus MTK yang ia pelajari.
"Emang MTK ada Pr?" tanya Elsa.
"Enggak ada."
"Atau bentar lagi ada ulangan dadakan seperti kemaren?."
"Mana aku tau."
"Lalu kenapa kamu belajar."
__ADS_1
"Lah, emang aku gak boleh belajar."
"Boleh sih. Cuman heran aja. Kenapa kamu seserius itu belajarnya. Biasanya juga walaupun belajar, kamu masih mau di ajak ngobrol. Ini dari tadi cuek, gak kayak biasanya. Ngobrol cuma seadanya aja.."
"Bukannya aku dari dulu emang kayak gini El. Sudahlah, jangan mempermasalahkan hal sepele seperti ini. Lebih baik kamu belajar. Yah walaupun gak ada ulangan atau PR, paling gak kita harus siap siaga, siapa tau ada ulangan dadakan. Tapi jikapun gak ada, paling tidak otak kita masih bisa mengingat rumus rumus yang sudah pernah di ajari oleh Pak Ridwan. Jadi pasti nanti Ulangan semester, kita tidak terlalu ngoyok belajarnya karena kita sudah mempelajarinya tiap hari."
"Iya iya. Oh ya ngomong ngomong kapan ujian semester."
"Log gak salah sih 2 minggu lagi."
"Gak nyangka ya kita udah hampir dua tahun sekolah di sini. Bentar lagi kita udah kelas 3. Lalu lulus dan kita bisa kulyah. Biasanya kalau di kampus kampus, cowoknya ganteng ganteng."
"Jangan menghayal terlalu tinggi, El. Ini masih pagi, lagian kamu kulyah nantinya mau nuntut ilmu atau hanya sekedar cari cowok."
"Dua duanya hehe."
"Oh ya, kamu gimana dengan Alvin."
"Emang gimana?" Tanya Cinta balek.
"Kemaren aku lihat kamu sama dia. Kalian punya hubungan."
"Enggaklah. Aku kan udah bilang, aku gak akan pernah punya hubungan dengan siapapun sebeklum aku nikah. Aku gak mau mengecewakan suamiku. Aku ingin menjaga diriku untuk suamiku kelak."
"Tapi kak Alvin, apa dia mengungkapkan perasaannya sama kamu...emmmz seperti ungkapan suka, sayang, cinta atau gimana gitu." Tanya Elsa hati hati.
__ADS_1
"Iya. Tapi aku sudah bilang ke dia, aku gak bisa."
"Hemmm,,, oh ya kak Alvin bentar lagi lulus, dan kita akan segera naik ke kelas 3. Setelah kelulusan nanti, kamu gak akan pernah bisa libat kak Alvin lagi."
"Aku gak masalah, dia bukan orang yang spesial buat aku. Dulu aku dekat hanya sekedar membantunya, menasehatinya agar ia tidak terus menjadi anak nakal seperti itu. Setelag ia berubah, aku merasa tugasku udah selesai. Lalu buat apalagi aku deket deket sama dia. Aku gak memberikan harapab kepada siapapun, El. Kemaren emang aku sama kak Alvin sempat ngobrol tapi ya kayak gitu deh. Gak ada yang penting kog menurut aku. Jadi kamu jangan salah faham. Oh ya kamu tau, Ferdi temen Alvin? tanya Cinta
" Iya, emang kenapa?"
"Kemaren dia ngirim surat. Kamu pasti bisa menerka nerka apa isi suratnya."
"Ya Tuhannn itu orang ke 21 yang mengungkapkan perasaanya lewat surat. Aku jadi iri deh sama kamu. Banyak banget cowok yang suka sama kamu tapi sayang, mereka harus patah hati atas penolakan kamu. Bahkan kadang kamu mengabaikan mereka semua gitu aja."
"Aku tidak mau menyakiti mereka tapi aku juga bisa apa. Kan aku udah bilang, aku sekolah untuk nuntut ilmu bukan untuk cari pacar atau cowok. Jikapun kelak sudah waktunya, aku ingin dia bisa mencintai aku karena Allah, menerima aku dengan segala kekurangaku, mencintai ayah dan ibuku, yang tidak pernah meninggalkan sholat, pintar ngaji. Syukur syukur jika dia seorang hafidz al qur'an. Paham agama karena aku ingin kelak dia bisa membimbingku, mendidikku dan bisa membawaku ke surganNya. Jika kelak ada yang seperti itu, maka aku akan menerimannya tanpa harus mikir dua kali. Apalagi jika ia mampu menarik hatiku, membuatku selalu bergetar jika ada di dekatnya. Ah betapa senangnya jika punya calon imam seperti itu. Aku rela deh jika lulus SMA aku langsung nikah asal itu seperti pria yang aku idam idamkan. Setelag itu aku dan dia bisa membina keluarga yang SAMAWA. Aku gak butuh ijazah tinggi karena aku tidak ingin menjadi wanita karir, aku ingin menjadi istri yang sholehah untuk suamiku dan menjadi ibu yang terbaik untuk anak anakku kelak." Cinta senyum senyum sendiri membayangkannya.
"Ah, kamu Cin, mikirnya kejauhan. Masa iya kamu mau nikah dengan usia musa."
"Jika Allah berkehendak, kita bisa apa. Aku akan menerima semua takdirnya dengan ikhlas. Tapi jika pria yang aku idam idamkan tak juga datang, maka ya aku akan lanjut kuliah sambil terus berdoa memohon agar Allah memberikan aku jodoh yang terbaik yang bisa membahagiakan aku dunia akhirat." Belum juga Cinta menyelesaikan ucapannya, tiba tiba ia di kagetkan dengan kehadiran Ivan yang datang tiba tiba.
"Pagi, Van." Ucap Elsa dengan semangat
"Pagi juga, El. lagi ngobrol apa sih, serius banget." tanya Ivan, padahal sebenarnya ia tau apa yang di perbincangkan oleh mereka berdua karena sebenarnya Ivan udah datang dari tadi tapi ia gak segera masuk dan hanya berdiri di balik pintu. Tempat duduk Cinta dan Elsa dekat pintu. Sehingga Ivan bisa mendengarnya dengan jelas.
"Urusan perempuan, kamu gak boleh tau." Jawab Elsa, Cinta hanya tersenyum saja.
__ADS_1
Senyuman yang membuat hati Ivan bergetar. Entahlah melihat Cinta tersenyum seperti merupakan kebahagiaan tersendiri baginya
Ia tak pernah bosan melihat wajah Cinta. Apalagi ketika Cinta tersenyum, ia terlihat begitu manis. Dalam hati Ivan memohon agar Cintalah yang nanti akan menjadi istrinya, menjadi ibu dari anak anaknya.