
Taufiq dan Cinta sudah sampai di rumah sakit, mereka langsung menghampiri Ila, Ica, Ani, Ana dan kedua orang tuanya.
"Dimana ruangan Wil?" tanya Cinta.
"Di sana bun." Jawab Ila sambil menunjuk ke salah satu ruangan.
Taufiq dan Cinta meminta kepada salah satu dokter untuk melihat keadaan Will. Dokter itu mempersilahkan Cinta dan Taufiq untuk menjenguknya namun tidak boleh lama lama. Cinta dan Taufiq hanya mengangguk faham, mereka pun mengganti pakaian mereka dengan pakaian berwarna hijau yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Taufiq dan Cinta melihat putranya yang kini terbaring lemah di atar brankar. Begitu banyak alat alat dan beberapa selang yang menempel di tubuhnya. Ia melihat tubuh Will yang penuh dengan luka, wajahnya tampak begitu sangat pucat namun ia tetap terlihat sangat tampan. Di kepalanya juga terdapat perban yang menutupi kening hingga kepala bagian belakang. Sungguh mengenaskan bagi siapa saja yang melihatnya.
Cinta dan Taufiq mendekati tubuh putranya. Cinta memegang tangan putranya.
__ADS_1
"Sayang, bangunlah nak. Kami sangat menyayangimu, jangan pernah tinggalkan kami sayang." Ucap Cinta, ia mengucapkan kata kata itu di dekat telinga Will. Cinta meneteskan air matanya melihat Will yang terus menutup kedua matanya tanpa mau membukanya sedikitpun.
"Sayang, kamu lagi mimpi indah ya sampai kamu gak mau bangun bangun. Sayang, jangan bikin ayah dan bunda hawatir, saudara dan adik kamu juga sedih melihat keadaan kamu yang kayak gini. Bangun sayang, bunda sangat menyayangi dan mencintaimu nak. Bangunlah demi bunda, demi ayah, demi orang orang yang kamu cintai." Ujar cinta.
"Sayang, maafkan bunda ya jika selama ini bunda jarang memberikan perhatian sama kamu. Maafkan bunda jika selama ini bunda ada salah tapi jangan hukum bunda seperti ini. Hati bunda sakit melihat putra bunda, putra kesayangan bunda yang terbaring lemah seperti ini. Sayang, kamu anak yang hebat. Jadi bangunlah nak, jangan tidur terus. Bangun sayang......" Ujar Cinta. Ia menggenggam erat tangan putranya. Taufiq hanya menangis dalam diam, ia gak tega melihat putranya menderita seperti ini. Taufiq bersumpah akan membalas orang orang yang sudah membuat putranya jadi seperti ini.
"Sayang, ayo kita keluar. Dokter mengatakan kita gak boleh lama lama di sini." Ucap Taufiq.
"Tapi itu tidak baik untuk keselamatan Will sayang. Ayo kita keluar, biarkan dokter yang merawatnya. Kita akan tetep jaga putra kita dari luar. Yang di butuhkan Will sekarang bukan sebuah tangisans melainkan doa dari kita semua." Ucap Taufiq mencoba untuk menguatkan istrinya.
"Kenapa semua ini harus terjadi sama putra kita mas. Aku gak tega melihat dia seperti ini. Biasanya dia begitu cerita tapi sekarang ia hanya bisa diam menutup mata tanpa mau bergerak sedikitpun. Aku sedih mas, hatiku rasanya sakit..SakitĀ mas...sakit banget. Aku takut jika Will gak mau membuka mata lagi, aku takut jika dia meninggalkan aku untuk selama lamanya. Aku takut sekali mas." Ucap Cinta menangis sambil memeluk suaminya dengan erat.
__ADS_1
"Percayalah, Will pasti sembuh. Dokter disini pasti akan memberikan perawatan terbaik untuk putra kita. Aku juga kan mendatangkan dokter dari luar untuk bisa membuat putra kita kembali lagi seperti dulu." Ucap Taufiq.
"Apakah putra kita akan segera sembuh?" tanya Cinta.
"Iya, aku jamin. Dia pasti sembuh. Sekarng ayo kita keluar dulu. Kita juga harus fokus mencari menantu kita, sampai sekarang tak ada satupun orang yang menemukan dia." Ucap Taufiq. Cinta hanya mengangguk. Ia mengikuti saran dari suaminya. Cinta dan Taufiq segera melepas baju yang ia pakai dan pergi menghampiri keluarganya yang menunggu di depan ruangan Will.
"Gimana keadaannya?" tanya Papanya Taufiq.
"Ya begitulah." Jawab Taufiq.
"Sabar, dia anak yang kuat. Dia pasti sembuh." Ujar Papanya Taufiq. Ia faham dengan apa yang di rasakan oleh putranya. Taufiq hanya tersenyum dikit dan menganggukkan kepala.
__ADS_1