
Hari ini adalah hari Minggu, hari di mana Pram libur kerja dan Ica libur kuliah.
Pram mengajak Ica untuk liburan ke sebuah taman yang tak jauh dari rumahnya. Mereka tidak memakai mobil atau sepeda motor melainkan jalan kaki. Toh jaraknya cuma satu km. Hehe......
Biasanya sejauh apapun jarak jika jalan berdua dengan pasangan tak akan terasa dan kini Pram mencoba membuktikannya.
Baru 500 meter, Ica sudah mengeluh capek. Pram dan Ica berhenti jalan dan mencari warung terdekat. Di sana ada yang jual Mie ayah, mereka pun memesan dua mangkog mie ayam dan dua gelas es teh.
Mereka makan bersama tanpa memperdulikan keadaan sekitar.
"Aku fikir, kamu gak mau yank makan di tempat kayak gini." Ucap Pram di sela sela makannya
"Aku mah di mana aja mau yank. Yang penting halal dan tempatnya bersih." Jawab Ica sambil menikmati makanannya.
"Aku makin cinta deh sama kamu yank. Walaupun kamu kaya tapi kamu gak seperti wanita kebanyakan. Banyak orang di luar sana mentang mentang banyak uang, mereka tak pernah sekalipun menginjakkkan kaki ke warung kaki lima. Entah apa karena mereka gengsi atau karena mereka emang gak suka makan di warung yang ada di pinggir jalan. Padahal makanan di pinggir jalan rasanya jauh lebih enak ketimbang di resto. Harganya pun lebih murah. Aku senang makan di sini. Tapi kadang kadang juga makan di resto sih, tapi aku lebih suka makan di resto bunda. Kalau di resto orang lain, aku kurang suka." Ucap Pram panjang lebar.
"Kenapa gak suka?" tanya Ica.
"Ya gak tau, gak suka aja." jawab Pram tersenyum.
Saat mereka lagi asyik asyiknya makan, tiba tiba ada dua anak kecil yang datang meminta minta. Pram yang gak tega pun langsung menyapannya.
"Adek gak sekolah?" tanya Pram lembut.
"Enggak om. Ayah dan ibu gak punya uang buat menyekolahkan kami." Jawab laki laki yang sedikit dewasa, perkiraan umurnya baru 8 tahun sedangankan adik perempuannya sekitar 5 tahun.
"Emang ayah dan ibu kalian dimana?" tanya Pram.
"Ada di sana om. Jauh. Ayah dan ibu saki om jadi mereka gak bisa cari uang." Ucap laki laki itu tersenyum.
"Kalian sudah makan??" tanya Pram.
__ADS_1
"Belum om." Jawab anak laki laki itu.
"Iya sudah kalau gitu, kalian makan dulu ya di sini. Mau kan?" tanya Pram.
"Tapi kami gak punya uang om." Jawab dia.
"Gak papa biar om yang bayarin. Oh ya kalau boleh tau, siapa namanya?" tanya Pram.
"Aku Anam om dan ini adikku, namanya Nia." Jawab Anam.
"Baiklah, sekarang Anam dan Nia boleh makan sampai puas. Oke. Nanti biar om yang bayarin semuanya." Ucap Pramm.
"Tapi bolehkah jika makanannya kami bungkus. Ayah dan ibu belum makan sejak kemaren." Ucap Anam.
"Masalah itu nanti om yang ngurus." Ucap Pram.
"Beneran om?" tanya Anam senang.
"Iya." ucap Pram lembut.
Anam dan Nia makan makanan itu dengan sangat lahap. Pram dan Ica senang melihat mereka berdua. Selesai makan, Ica memberikan dua mie yang sudah di bungkus.
"Ini buat ayah dan ibu kalian." Ucap Ica.
"Makasih tante." Ucap Anam tersenyum ramah.
"Apakah om boleh ikut kalian menemui ayah dan ibu kalian?" Tanya Pram.
"Boleh om." Jawab Anam.
Pram dan Ica pun berjalan mengikuti kemana Anam pergi setelah hampir 2 jam, akhirnya mereka pun tiba di rumah kecil dan gak layak untuk di huni.
__ADS_1
"Yakin ini rumah kalian?" tanya Pram tak percaya. Ia tak menyangka bahwa tak jauh dari rumahnya ternyata ada rumah yang kecil dan tak layak untuk di huni manusia.
"Bener om." Jawab Anam tersenyum.
"Ayo masuk om, tante." Ucap Anam mempersilahkan keduanya untuk masuk ke dalam rumanya.
"Ayah, ibu." Ucap Anam duduk di samping kedua orang tuanya.
"Aku punya makanan untuk ayah sama ibu." Ucap Anam senang sedangkan Nia duduk di samping kakaknya.
Kedua orang tua itu tersenyum senang melihat keuda buah hatinya sudah datang.
"Ayah ibu ini om dan tante, mereka tadi memberikan aku makan dan mereka juga yang membelikan makanan ini." Ucap Anam memperkenalkan Pram dan Ica.
"Terima kasih nak sudah memberikan kami makanan. Semoga Allah membalas kebaikan kalian." ucap ayah Anam yang hanya bisa tidur tanpa bisa menggerakkan tubuhnya sedankan istrinya, ia masih bisa duduk tapi ia gak bisa kemana mana karena tubuhnya lumpuh.
"Iya sama sama. Kalau boleh tau kenapa bapak sama ibu bisa seperti ini?" tanya Pram lembut.
"Tiga tahun yang lalu kami kecelakaan dan kami tak punya uang untuk ke rumah sakit. Jadi kami hanya bisa menahan sakit, kami sudah meminta tolong kepada warga namun tak ada satupun di antara mereka yang mau menolong kami." Ucap ibunya Anam. Pram dan Ica sangat sedih mendengarnya.
"Kalau gitu izinkan kami merawat bapak dan ibu serta kedua anak kalian. Saya akan segera membawa bapak dan ibu berobat." Ucap Pram terssenyum.
"Tapi nak, apa gak mereptokan?" tanya ayahnya anam.
"Enggak pak. Kami ikhlas membantunya. Tunggu ya, saya akan meminta adik saya segera membawakan mobil kes ini. Adik saya seorang dokter, dia pasti akan merawat bapak dan ibu sampai sembuh total. Jika kalian sudah sembuh, kalian bisa kerja di rumah saya, itupun kalau kalian mau. Kebetula kami butuh tukang kebun dan seseorang untuk membantu istri saya membersihkan rumah. Saya akan menggaji kalian berdua dengan gaji yang yang sangat pantas. Saya juga akan menyekolahkan Anam dan Nia di sekolah terbaik yang ada di Jakarta." ucap Pram.
Ayah dan ibunya Anam sangat bahagia akhrinya doa mereka terkabulkan.
Pram segera menelvon Will dn menyuruh Will untuk membawa ambulans. Will pun yang lagi duduk santai dengan sang istri langsung pergi setelah sebelumnya ia pamit kepada Aisyah untuk menolong orang yang lagi kesusahan. Aisyah mengizinkan Will bahkan Aisyah memberikan semangat kepada suaminya. Aisyah akan selalu mendukung suaminya selagi suaminya ada di jalan yang benar.
__ADS_1
Will pergi ke rumah sakit dan menukar mobilnya dengan mobil ambulans. Will menyetir sndiri ambulans itu dan langsung pergi ke tampat di mana Pram kini berada.
Sesampai di tempat tujuan, Will langsung memeriksa keadaan ayah dan ibunya Anam. Setelah itu Wiil pun langsung membawa kedua orang itu masuk ke ambulans. Sedangkan Anam dan Ila ikut Pram dan Ica naik mobil yang lain karena kebetulan tadi Pram sudah menyuruh sopirnya untuk menjemputnya.