Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Menjenguk Ibu dan Adiknya Denis


__ADS_3


Kini Rachel dan Ani sudah sampai di rumahnya Denis.


"Assalamualaikum ibu." ucap Denis sambil membuka pintu rumahnya yang sudah sedikit reyot.



Sedangkan Rachel dan Ani memilih nunggu di liar, gak berani masuk takut rumahnya ambruk. Bagaimanapun Ani sedang hamil, dan ia gak mau terjadi apa-apa dengan kehamilannya.


"Waalaikumsalam, nak. Kenapa dengan penampilan mu? kenapa berubah? Kamu pakai bajunya siapa? dan juga, kapan kamu potong rambut?" tanya ibunya yang bernama Fatma.


"Tadi aku ketemu orang baik, namanya Kak Ravhel dan Kak Ani. Mereka berdua beliin aku bakso. Kak Rachel dan Kak Ani juga membelikan bakso ini buat ibu dan adek." ucap Denis sambil memberikan kresek yang berisi bakso lima bungkus namun sudah pada dingin semua. Mungkin karena kelamaan, jadinya keburu dingin.


"Mereka juga membawa aku ke Mall. Mereka beliin aku baju. Bukan cuma aku tapi adek dan ibu juga di beliin." ujar Denis sambil memberikan beberapa baju kantong kresek berisi baju baru buat ibu dan adiknya.


"Mereka juga yang membawa aku ke salon dan memotong rambutku. Mereka juga membawa aku ke resto dan makan makanan mahal seperti orang kaya." ujar Denis tersenyum.


"Kamu jangan mau deket deket sama orang baru, takutnya mereka akan culik kamu. Kamu itu anak ibu, harta terindah dan berharga buat ibu. Ibu gak mau kamu kenapa-napa." ujar Ibu Fatma menasehati.


"InsyaAllah mereka orang baik bu, oh ya mereka juga membelikan ibu kursi roda 3. Cuma ada di luar gak aku masukin ke sini." ucap Denis.

__ADS_1


"Mereka ada di mana sekarang?" tanya Ibu Fatma.


"Ada di depan." jawab Denis.


"Gak di suruh masuk?" tanya Ibu Fatma.


"Kak Ani lagi hamil bu, dia gak berani masuk ke rumah kita. Ayo aku bantu ibu berdiri. Dek bantuin kakak ya." ucap Denis. Memang tadi Ani sempat mengatakan dirinya gak bisa masuk karena lagi hamil.


"Iya kak." Dimas hanya menurut aja apa yang di ucapkan oleh kakaknya.


Denis bersusah payah membawa ibunya keluar dengan di bantu oleh Dimas yang tubuhnya masih kecil.


"Assalamualaikum bu." ucap Rachel dan Ani bersamaan.


"Maaf kami ke sini secara dadakan." ucap Rachel.


"Gak papa nak." jawab Ibu Fatma.


"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Ani basa-basi.


"Alhamdulillah seperti yang kalian lihat, ibu sehat walafiat." jawab Ibu Fatma ramah.

__ADS_1


"Maaf tadi kami membawa Denis tanpa izin dulu." ujar Rachel.


"Gak papa nak, yang penting Denis bisa kembali ke rumah ini lagi tanpa kurang sesuatu apapun." jawab Ibu Fatma.


"Oh ya ini tadi kami belikan ibu Kursi Roda, semoga bermanfaat." ucap Rachel sambil memberikan 3 kursi roda. Dan yang satu langsung di pakai oleh Ibu Fatma.


"Terimakasih ya nak." ucap Ibu Fatma tersenyum


"Sama-sama. Tapi saya sarankan agar ibu dan kedua anak ibu pindah dari tempat ini. Rumah ini sudah sangat tak layak untuk di huni. Maaf, bukan masksud menghina hanya saja Alangkah lebih baik jika Ibu dan kedua anak ibu pindah ke tempat yang jauh lebih layak." ujar Rachel.


"Yah, kami pengen nya seperti itu, tapi apalah daya. Kami tak punya uang buat membeli rumah, hanya ini yang kami punya. Kami sudah bersyukur setidaknya kami punya rumah untuk tempat berteduh." ujar Ibu Fatma.


"Lebih baik ibu dan kedua anak ibu ikut saya. Saya punya rumah dan gak di huni, sudah lama gak di pakai. Jika di abaikan dan gak di rawat bisa-bisa rumahnya jadi rusak. Mungkin Allah mempertemukan kita agar saya bisa memberikan rumah itu buat ibu." ujara Rachel.


"Nak Rachel serius?" tanya Ibu Fatma yang tau namanya Rachel karena tadi Denis sempat menyebut namanya.


"Iya bu, saya serius. Denis, kamu ambil barang barang berharga kamu dan kita pindah sekarang juga." ujar Rachel.


Denis mengangguk. Denis mengambil baju yang tadi sempat ia beli dan juga bakso yang belum di makan.


Setelah selesai, mereka semua masuk ke dalam mobil. Rachel juga memasukkan kembali kursi roda ke dalam mobil.

__ADS_1


Dan setelah itu mereka menuju rumah baru pemberian Rachel dan Ani.


__ADS_2