
Hari ini adalah Hari Minggu, dan tak biasanya putra putrinya gak datang tapi sebelumnya mereka juga sudah bilang kalau memang hari ini gak bisa datang karena mereka mau berlibur dengan pasangan mereka masing-masing tentunya.
Yah Cinta dan Taufiq tau betul, selama ini mereka jarang pergi dan liburan karena setiap Minggu dan Hari Libur, mereka di sibukkan dengan berkunjung ke rumah orang tua, ke rumah mertua dan juga ke rumah saudara mereka masing masing.
Dan mungkin ini saatnya mereka untuk berlibur dengan pasangan mereka masing-masing kecuali Pram dan Ica yang hanya diam di rumah mengasuh putri mereka, Angel.
Membahas Pram dan Ica, membuat Cinta dan Taufiq jadi sedih, pasalnya sebelum putri mereka lahir, kedua orang tua Taufiq meninggal. Awalnya hanya papanya saja yang kena serangan jantung dengan di ikuti mamanya Taufiq, ia meninggal dalam keadaan sholat shubuh, tepat satu Minggu setelah kematian papanya Taufiq.
Sedih, jangan di tanya.. Mana ada orang yang gak sedih jika melihat orang orang yang mereka cintai meninggal. Tapi mereka juga sadar, mereka tak bisa berlarut-larut dalam kesedihan karena mereka juga harus tegar demi orang orang di sekitarnya yang juga sangat mereka sayangi dan sangat mereka cintai. Seperti anak, menantu, cucu dan besan mereka tentunya.
\=\=\=\=\=\=\=
Setelah Cinta dan Taufiq selesai olah raga, menyiram tanaman mereka, mandi dan sarapan pagi, mereka duduk duduk santai sambil liat ikan yang berselancar kesana kemari. Seneng dan adem rasanya liat ikan yang Taufiq taruh di dalam rumahnya. Kini ikannya sudah mulai banyak karena beranak Pinak.
Kalian masih inget tentunya kolam ikan yang Taufiq buat di dalam rumahnya. Kolam yang terlihat keren dan mewah.. Dulu cuma ada dua kini sudah bertambah satu jadi total semuanya sudah ada 3. Dari pertama bikin sampai sekarang sudah ada 4 ikan yang mati, entah mati kenapa padahal ikan yang di pelihara adalah ikan yang sangat mahal.
Mungkin memang sudah waktunya mereka mati hehe.
Saat mereka sedang duduk di kolam ikan, Cinta menyenderkan kepalanya di bahu suaminya. Di saat saat seperti ini, tak ada asisten rumah tangga yang berani nongol atau keluar mendekati dan menghampiri mereka kecuali ada hal hal yang sangat penting.
"Yank?" panggil Cinta.
"Iya, ada apa?" tanya Taufiq lembut.
"Anak, menantu dan cucu kita gak ada yang kesini, sepi banget rasanya padahal hari Minggu dan Hari Libur (tanggal merah) adalah hari yang selalu kita tunggu tunggu." ujar Cinta sedih.
"Sabar mereka juga butuh waktu sendiri untuk berlibur, gak selamanya hanya memikirkan kita saja. Mereka sudah punya keluarga masing-masing yang harus mereka fikirkan." ucap Taufiq yang mengerti betul bagaimana perasaan istrinya itu.
"Iya kamu bener mas, kalau Mama dan Papa masih ada, pasti kita akan kesana untuk liburan juga ternyata aku baru sadar selama ini, aku jarang ke rumah mama dan papa dan rasanya hampa seperti ini. Aku baru mengerti bagaimana perasaan mama dan papa, saat kita tak kunjung kesana dan rasanya itu sangat sedih sekali." ucap Cinta yang sangat menyesal karena saat orang tua mereka masih hidup, mereka jarang ke rumah mama dan papanya Sofyan.
"Sudahlah tidak perlu di sesali apa yang sudah terjadi. Lebih baik ke depannya kita harus melakukan sesuatu agar tidak menyesal di kemudian hari." ujar Taufiq yang selalu memberikan kekuatan dan kesabaran untuk istri satu satunya itu.
"Mas, bagaimana kalau kita ke rumah Bu Wati, sudah lama kita gak kesana, setelah itu lanjut ke Panti Jompo yuk mas, lalu pulangnya kita mampir ke rumah Pram dan Ica." ucap Cinta bersemangat.
"Boleh, aku setuju..Iya udah ayo kita siap siap." ujar Taufiq yang langsung bangun dari tempat duduknya begitupun dengan Cinta.
Taufiq dan Cinta pun segera ganti baju, mereka tak perlu mandi karena sebelumnya mereka sudah selesai mandi. Mereka hanya perlu ganti baju aja, karena tak pantas rasanya jika mereka keluar hanya menggunakan baju rumahan saja.
Setelah selesai ganti baju, Cinta memberi tahu asistennya kalau dirinya dan sang suami mau berkunjung ke panti jompo, Cinta tak menjelaskan secara detail kalau dirinya bersama sang suami juga mau ke rumah Bum Wati dan pulangnya mau mampir ke rumah Pram dan Ica untuk melihat cucu mereka, Angel.
Setelah pamit ke asisten rumah tangganya, Taufiq pun bersama sang istri masuk ke dalam mobil dan merekapun siap meluncur.
"Yank, kita gak mungkin kan ke rumah Bu Wati dengan tangan kosong begini." ujar Taufiq sambil fokus menyetir dan sesekali melihat ke arah istrinya.
"Hehe iya juga ya mas, aku lupa, efek tua mungkin haha. Iya udah, ayo kita mampir ke toko buah duku buat beli parsel buah dan juga mampir ke toko kue, kita bisa membeli berbagai macam kue di sana." ucap Cinta tersenyum, untunglah Cinta di ingetin oleh sang suami. Kalau tidak, mungkin dirinya akan bener bener kesana dengan tangan kosong.
Ketika ada toko buah, Taufiq pun segera memberhentikan mobilnya. Dan Cintapun turun dari mobil untuk beli buah sendiri sedangkan Taufiq menunggu di dalam mobil.
Cinta keluar nya gak terlalu lama, karena dia cuma tinggal pilih satu parsel buah, setelah menemukan yang menurutnya paling bagus, ia tinggal ambil lalu bayar dan setelah itu langsung kembali ke mobil dimana sang suami menunggu diri nya.
"Maaf ya yank, lama ya nunggunya." ucap Cinta.
__ADS_1
" Gak kog, malah kamu keluar gak Sampai 15 menit. Iya udah kita cari toko kue kan sekarang. ujar Taufiq.
"Iya yank." ujar Cinta yang memanggil suaminya dengan sebutan mas kadang juga manggil dengan ucapan sayang atau yank.
Taufiq pun mulai menjalankan mobilnya kembali dan berhenti lagi ketika ia melihat ada toko kue di pinggir jalan. Lagi lagi Cinta turun sendirian untuk beli beberapa kue untuk di bawa ke rumah Bu Wati.
Setelah selesai beli beberapa kue, Cinta pun kembali ke mobil lagi.
"Cepet banget yank? tanya Taufiq karena Cinta keluar gak sampai dari 10 menit.
"Kan cuma beli kue doang mas, tinggal milih, bayar. Udah deh." jawab Cinta tersenyum.
"Ini kita gak ada yang di beli lagikan?" tanya Taufiq
" Gak sudah mas, kita langsung ke rumah Bu Wati aja." jawab Cinta tersenyum. Taufiq hanya mengangguk anggukan kepala, setelah itu Taufiq tancap gas menuju rumah Bu Wati.
Sesampai di rumah Wati, rumah itu terlihat sangat sepi dan tak berpenghuni.
"Mas kog sepi banget?" tanya Cinta
"Entahlah, aku juga tidak tau yank. Coba kamu tanya ke salah satu tetangga sekitar sini." jawab Taufiq.
Cintapun setuju, dari pada cuma debat sama fikiran kita sendiri mending cari kebenarannya, cari tau apa yang terjadi.
Rumah yang di tempati oleh Bu Wati dan anaknya sebenarnya adalah rumah milik Cinta yang ia bangun dan ia beli dari seseorang untuk Bu Inah, Ibu Angkat Cinta (Seseorang yang sudah sangat berjasa menolong dirinya dari kecelakaan maut) jika gak ada Bu Inah dan suaminya, entah apa yang terjadi dulu, mungkin Cinta sudah mati.
Sejak suami Bu Inah meninggal, Cinta hanya hidup berdua dengan Bu Inah. Waktu itu Cinta lupa ingatan hingga ia lupa jati dirinya sendiri. Tapi walau begitu Bu Inah sangat baik dan sangat menyayangi dirinya seperti anak kandungnya sendiri. Untuk itulah, Cinta juga menyayangi Bu Inah layaknya ibu kandung.
Saat ada tetangga yang lewat, Cintapun menghentikan nya.
"Assalamualaikum bu." ucap Cinta sopan.
Waalaikumsalam. Wh ini Ibu Cinta yang punya Resto Barokah itu ya, yang punya rumah yang kini di tempati Bu Wati itu kan?" tanya Ibu itu itu kaget melihat kedatangan Cinta yang tiba tiba.
"Iya bu, benar." jawab Cinta tersenyum.
"Ya Allah bu, Ibu kemana aja selama ini. Lama gak kelihatan." ujar ibu itu yang berusaha sok akrab
"Selama ini saya sedikit sibuk, jadi jarang ke sini." ujar Cinta memang dirinya sudah lama banget gak ke rumah Bu Wati, seingat nya terakhir kali ke sini tuh saat jemput Ibu Inah untuk tinggal di rumahnya.
"Yah, Ibu Cinta pasti memang sangat sibuk sekarang, secara ibu Cinta sudah menjadi orang kaya, restonya sudah di mana mana." ujar Ibu itu.
"Oh ya bu, saya mau nany kenapa rumah Bu Wati itu sepi banget ya? kayak gak ada penghuninya gitu." tanya Cinta
"Ibu Cinta emangnya gak tau? beberapa bulan kemaren, Ibu Wati sakit sakit-sakitan, dia harus bolak balek ke rumah sakit, dan rumah ibu Cinta yang di berikan buat Ibu Wati sudah di jual buat pengobatan Ibu Wati karena gaji putranya gak cukup buat berobat. Tapi setelah 4 bulan lamanya, saya denger kabar. Bu Wati sudah meninggal dan di kubur di kampung halamannya, kampung kelahirannya. Dan rumah ini sepi karena sudah terjual dan belum ada yang menempati karena yang beli rumah masih ada di luar kota dan belum sempet ke sini." ucap ibu itu sedih yang membuat jantung Cinta berdebar debar. Cinta selama ini tak tau menau masalah ini karena Cinta fikir ibu wati sudah bahagia, mengingat putranya juga sudah menikah dan ia pun kerja di perusahaan yang sangat besar. Jadi Cinta tak pernah berfikir sedikitpun mereka akan kesulitan. Tapi kenapa putranya itu gak minta tolong padanya, kenapa dia tak memberitahu, padahal jika Cinta dan suaminya tau, pasti mereka akan bantu dengan senang hati.
"Bu, kenapa bengong?" tanya ibu itu mengagetkan Cinta.
"Gak papa bu, kalau gitu saya pamit pulang dulu. Oh ya ini ada pastel buah sama beberapa kue, buat ibu aja." ucap Cinta sopan. Yah tadinya pastel buah dan kie itu mau ia berikan kepada Bu Wati tapi jika Bu Wati sudah gak ada, tak mungkin ia bawa parsel buah dan kue iti pulang. Mengingat di rumahnya juga surah banyak berbagai macam buah yang tersimpan di dua kulkasnya sekaligus.
"Terimakasih ya bu, gak nyangka dapat rezeki kayak gini." ujar ibu itu berbinar karena mendapatkan rezeki yang tak terduga.
"Iya bu, sama sama. Saya pamit pulang dulu ya bu. Assalamualaikum."
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Setelah itu Cintapun berjalan ke arah mobilnya dan langsung masuk. Taufiq merasa heran kenapa istrinya terlihat sangat sedih.
"Kenapa yank?" tanya Taufiq sambil memeluk istrinya.
"Ibu Wati mas, Ibu Wati......hiks hiks."
"Kenapa dengan Ibu Wati?" tanya Taufiq penasaran.
"Ibu Wati sudah meninggal mas." jawab Cinta dengan suara paraunya karena sambil nangis.
"Meninggal gimana maksudnya yank, aku gak ngerti." ujar Taufiq, tadi memang Taufiq mau ikut Cinta turun tapi ngeliat rumah sepi, ia masuk dalam mobil lagi dan membiarkan sang istri bertanya kepada seseorang yang kebetulan lewat. Hanya saja saat mereka berbincang, suaranya tak terdengar karena Taufiq juga sibuk membaca sesuatu yang kebetulan masuk ke dalam email-nya.
"Ibu Wati sudah gak ada, dia sudah meninggal. Beberapa bulan yang lalu, Ibu Wati sakit-sakitan dan harus bolak balek ke rumah sakit, gaji putranya bahkan tak cukup untuk mengobati Ibu Wati, sampai sampai putranya itu menjual rumah pemberian kita untuk bisa terus mengobati Ibu Wati. Namun setelah 4 bulan sakit, Ibu Wati meninggal. Dan dia di makamkan di kampung halamannya, kampung kelahirannya. Aku tidak mengerti, kenapa Putranya itu tidak datang dan meminta bantuan kita. Padahal jika dia mau, aku pasti akan dengan senang hati membantu pengobatan Ibu Dewi, bahkan aku akan memberikan pengobatan terbaik untuknya." ucap Cinta yang terus menangis bagaimanapun, Cinta juga sudah menyayangi Ibu Wati seperti ibunya sendiri.
"Sabar yank, mungkin memang sudah jalannya seperti ini. Bukankah maut, rezeki, jodoh sudah ada yang mengatur. Walaupun kamu membawakan Ibu Wati keluar negeri untuk berobat di rumah sakit terbaik sekalipun jika memang sudah saatnya Ibu Wati pergi, dia pasti akan pergi. Kita tak bisa menolak ataupun memajukan dan memundurkan kematian kita. Semua itu sudah ada garisnya masing-masing termasuk kita. Untuk itu, karena kita tak tau kapan ajal akan menjemput, kita harus selalu melakukan kebaikan dan jangan sesekali melakukan keburukan, kita juga hasrus selalu mendekatkan diri sama Allah. Agar Ketika ajal menjemput, kita sedang dalam melakukan kebaikan bukan sebuah kejahatan. Dan kita juga harus menumpuk amal kebaikan atau amal sholeh, karena amal itulah yang akan memberatkan timbangan kita kelak, agar kita bisa masuk ke surga Nya.
Masalah putranya tak datang ke rumah kita, kita harus berfikir positif. Mungkin putranya Bu Wati malu jika terus menerus membantu mereka. Untuk itulah mereka berusaha untuk berjuang sendiri tanpa belas kasih orang lain.
Masalah rumah yang di jual untuk pengobatan Ibu Wati, kita ikhlaskan saja. Toh rumah itu juga sudah kita berikan kepada Ibu Wati dan putranya." ucap Taufiq menjelaskan panjang lebar.. Taufiq memang selalu bisa membuat hati istrinya tenang.
"Sebenarnya kalau masalah rumah, aku tidak terlalu mempermasalahkan mas, toh rumah itu juga sudah jadi hak mereka. Yang membuatku sedih, aku tak tau kalau Ibu Wati itu sakit bahkan sampai berbulan-bulan lamanya. Kita juga tidak datang saat pemakaman nya. Bahkan aku tak tau Ibu Wati di makamkan dimana, karena aku tak pernah nanya Ibu Wati dulunya tinggal dimana atau di lahirkan dimana.
Putranya Ibu Wati sekarang juga entah ada dimana." ujar Cinta yang masih terus saja menangis.
"Tapi kita kan tau putranya itu kerja dimana? Kita bisa ke tempat kerjanya kalau perlu. Tapi tidak sekarang karena ini hari libur. Besok kita kesana, kamu mau?" tanya Taufiq.
"Iya mas aku mau. Aku pengen tanya langsung ke dia tentang Ibu Wati." jawab Cinta.
"Iya sudah, jika memang besok mau kesana, gak boleh nangis lagi. Cantiknya nanti luntur." goda Taufiq.
"Apaan sih mas, aku mah dari dulu selalu cantik. Kecantikan ku ini gak akan pernah luntur walaupun usia tak lagi mudah." ujar Cinta kesal karena di saat seperti ini, suaminya malah berusaha menggodanya.
"Terus gimana nih, jadi gak ke panti jompo?" tanya Taufiq.
"Enggak dulu mas, suasana hatiku lagi kacau. Mending tunda aja dulu, kita kesana lain hari aja." jawab Cinta yang sudah berhenti menangis.
"Iya sudah, gak papa. Ke rumah Pram dan ica jadi gak?" tanya Taufiq.
"Jadi mas." jawab Cinta.
"Jadi sekarang kita ke rumah Pram dan Ica dulu nih, baru kita pulang?" tanya Taufiq.
"Iya mas."
Taufiq oun mengangguk kan kepala dan setelah itu, ia pun menghidupkan mobilnya dan langsung meluncur ke rumah Pram dan Ica. Sepanjang perjalanan, Cinta tak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam, mungkin karena Cinta masih tak percaya jika Ibu Wati sudah meninggal.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa like, komen n votenya ya. Terimakasih 😊
__ADS_1