Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Fani Ingin Kerja


__ADS_3

Satu Minggu setelah penangkapan suaminya, Fani pun menghubungi Ica dan mengajaknya untuk ketemuan.


"Assalamualaikum." ucap Fani lewat chat Wa yang di kirim untuk Ica.


"Waalaikumsalam, bagaimana kabarnya Fan?" tanya Ica.


"Alhamdulillah baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Fani.


"Alhamdulillah baik juga."


"Syukur Alhamdulillah. Kamu ada waktu hari ini?" tanya Fani.


"Ada. Kenapa?" tanya Ica.


"Aku ingin ngajak kamu ketemuan."


"Bisa gak ketemuannya di rumah ku aja soalnya aku harus jaga anakku."


"Oke baiklah, gak papa. Tapi aku gak tau di mana rumah kamu." ujar Fani


"Baiklah, bentar ya aku kirim alamat ku lewat Maps aja biar lebih enak."


"Oke. Aku tunggu ya."


"Iya Fan."


Setelah itu Ica pun mengirim alamat rumahnya menggunakan Maps biar lebih mempermudah Fani mencari rumahnya.


"Sudah aku kirim Fan."


"Iya, ini sudah aku terima. Makasih ya. Sekarang aku langsung mau otw ke rumah kamu."


"Iya, aku tunggu di rumah ya."


"Iya, Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu Fani pun pergi ke rumah Ica.

__ADS_1


Dan setelah 45 menit perjalanan, akhirnya Fani pun sampai dengan sepeda motor matic nya.


"Assalamualaikum." ucap Fani setelah memarkirkan sepeda motor nya di depan rumah Ica dan menaruh helmnya di jok sepeda motornya dan setelah itu, Fani pun menekan bel yang ada di samping pintu.


"Waalaikumsalam. Ayo masuk." ujar Ica.


Fani pun masuk dan duduk di kursi sofa.


"Bentar ya aku ke dalem dulu." ucap Ica tersenyum.


Ica mengambil minuman dan makanan ringan yang barusan ia buat sendiri.


Ica menaruhnya di atas meja.


"Silahkan di minum, maaf ya adanya cuma ini." ucap Ica Setelah menaruh minuman dan makanan ringannya di atas meja


"Gak papa, ini aja sudah sangat mewah. Maaf aku ke sini malah jadi ngerepotin kamu."


"Gak papa, santai aja. Lagian aku gak merasa di repotkan sama sekali." jawab Ica sambil menaruh nampan di kursi sebelah nya.


"Sebenarnya kedatangan ku ke sini, untuk mengucapkan kata terima kasih sebesar-besarnya sama kamu." ucap Fina.


"Berkat kamu sekarang suamiku sudah masuk penjara dan istri mudanya langsung kabur setelah ia menggugat cerai suami aku. Dan harta suami akupun jatuh ke tangan aku dan anakku. Aku sangat bersyukur dan sekarang aku sedang mengajukan surat cerai juga, aku menyuruh om aku sebagai pengacara ku." jawab Fani dengan mata berbinar-binar, seakan-akan beban yang ia pikul selama ini sudah terangkat.


"Alhamdulillah, aku seneng mendengar nya. Sebenarnya ini juga berkat bantuan saudara iparku." ujar Ica.


"Sampaikan salam ku buat saudara ipar kamu. Aku sangat berterimakasih padanya."


"Iya nanti, akan aku sampaikan."


"Oh ya mengenai pekerjaan, apakah kamu bisa membantu ku?" tanya Fani.


"Iya, aku sudah berbicara dengan suami aku dan kebetulan ada lowongan pekerjaan tapi hanya sebagai karyawan biasa, apa gak papa?" tanya Ica hati-hati, takut menyinggung perasaan temannya itu.


"Gak papa, yang penting pekerjaannya halal dan aku bisa menghidupi anakku dan juga membantu meringankan ekonomi keluargaku. Sekarang, suamiku bentar lagi akan jadi mantan suami. Dia juga tak lagi bisa memberikan aku uang untuk menghidupi aku dan anakku. Jadi apapun pekerjaannya, aku terima." jawab Fani tersenyum.


"Kamu seperti sangat bahagia?" ujar Ica.


"Iya aku sangat bahagia karena akhirnya aku bebas dari beban ku selama ini. Rasanya sakit di duakan suami tapi sekarang aku bisa hidup bebas dan tak lagi merasakan sakit hati sepanjang hari." ujar Fani.

__ADS_1


"Syukur Alhamdulillah, aku ikut senang mendengarnya."


"Iya. Ngomong ngomong, aku kapan boleh masuk kerja?" tanya Fani


"Nanti aku tanyakan ya ke suami aku."


"Iya, terimakasih ya Ica. Kamu banyak membantu ku."


"Kita memang harus saling bantu membantu, apalagi kita teman."


"Iya, oh ya anak kamu kemana?" tanya Fani.


"Dia tidur, makanya aku gak bisa keluaran. Kamu, tumben gak bawa anak kamu?..." tanya Ica


"Dia aku titipkan sama ibu."


"Oh gitu. Oh ya ayo minum juz nya mumpung masih dingin dan kue nya juga masih hangat."


"Iya."


Fani pun meminum juznya hingga tersisa sedikit, Fani juga makan kue keringnya.


"Kue ini buatan kamu sendiri?" tanya Fani.


"Iya, gimana rasanya?" tanya Ica.


"Enak banget. Aku suka." jawab Fani.


"Nanti kalau kamu pulang, aku bawain ya. Kebetulan aku buat banyak tadi "


"Eh, gak usah. Aku gak mau ngerepotin kamu. Aku juga ke sini, gak bawa apa-apa." ujar Fani gak enak hati .


"Gak papa, santai aja. Lagian aku buat banyak tadi." ujar Ica sambil mengambil kresek dan memasukkan semua kue kering yang ada di atas meja.


"Ini kamu taruh dalam tas kamu, biar nanti kamu gak lupa." ujar Ica dan Fani pun mengambilnya dan menaruhnya ke dalam tasnya. Sebenarnya ia sangat malu tapi ia juga tak bisa menolaknya karena takut menyinggung perasaan Ica.


Setelah selesai bercakap-cakap, akhirnya Fani pun pamit pulang.


Di perjalanan Fani lagi-lagi lupa, ingin menanyakan perihal Ila. Tapi ya sudahlah, Fani bisa tanya langsung jika mereka bertemu kembali.

__ADS_1


__ADS_2