Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Keguguran


__ADS_3

Sesampai di rumah Cinta, kedatangan mereka berempat di sambut hangat oleh keluarga Cinta dan juga Taufiq. Rachel sangat tersentuh dengan apa yang mereka lakukan kepadanya.


"Ayo sayang masuk." Ucap Cinta ramah.


Rachel, Arsha, Will dan Aisyah pun duduk di sofa.


"Bagaimana keadaan Nak Rachel?" tanya Taufiq.


"Alhamdulillah baik om." Jawab Rachel tersenyum.


"Jangan panggil om, panggil aja ayah. Sama seperti Will dan Aisyah." Ucap Taufiq.


"Iya yahh." Jawab Rachel tersenyum.


"Dan kamu juga harus manggil saya bunda. Bukan tante, oke." Ucap Cinta.


"Oke bunda. Terus di sampingmu in siapa?" tanya Cinta penasaran.


"Ini Arsha bun. Dia sahabatku yang sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri." Jawab Rachel.


"Perkenalkan om,  tante saya Arsha." Ucap Arsha mencoba memperkenalkan diri sendiri.


"Oh nak Arsha. Mulai hari ini kamu juga gak boleh manggil kami dengan sebutan om dan tante tapi ayah dan bunda sama seperti mereka." Ucap Cinta.


"Baik ayah bunda." Ucap  Arsha.


"Kalian nanti malem nginep di sini kan?" tanya Taufiq.


"Gak yah, aku pengen nanti langsung pulang aja ke rumah ku sendiri." Tolak Will halus.


"Hemm kenapa harus pulang. Nginep aja dulu. Ayah dan bunda kan juga ingin bisa berlama lama sama menantu kesayanga." Ucap Taufiq.


"Baiklah tapi hanya untuk nanti malam ya yah. Besok pagi aku akan balek ke rumahku sendiri. Tapi minggu depan, aku janji akan menginap lagi di rumah ayah dan bunda." Ucap Will.


"Baiklah bunda setuju." Ucap Cinta.


"Rachel sama Arsha juga harus menginap ya di sini. Bunda dan ayah gak menerima PENOLAKAN lho." Ucap Taufiq.

__ADS_1


 


"Baiklah, malam ini kami akan menginap." Ucap Rachel.


"Sip." Ujar Cinta.


Tak lama kemudian Ani dan Ana datang membawa minuman.


"Silahkan di minum kak." Ucap Ani dan Ana stelah menaruh minuman dan makanan ringan di atas meja.


Rachel menatap Ani sedangkan Arsha menatap Ana dengan senyuman. Ani dan Ana hanya membalas senyuman mereka dan duduk di samping ayah dan bundannya.


"Perkenalkan Ani Ana, ini namanya Kak Rachel dan ini Kak Arsha." Ucap Taufiq memperkenalkan mereka berdua.


"Hallo ka. Aku ani" Ucap Ani.


"Dan aku Ana." Ujar Ana tersenyum.


 


"Aku Rachel." Ujar Rachel


"Kakak juga ganteng kog." Ucap Ana menunduk membuat yang ada di ruangan itu hanya menggeleng gelengkan kepala.


 


"Hmmmm kayaknya ada yang jatuh cinta nih." Goda Taufiq.


"Apaan sih yah." Ucap Ana dengan menahan rasa malu.


"Gimana kalau mereka di tunangkan aja. Tahun depan nikah." Usul Will.


"Ayah  sih gak masalah asal mereka suka sama suka dan Arsha mau bertanggung jawab dan tak akan menyakiti putri ayah." Ucap Taufiq.


"Aku janji yah tak akan pernah menyakiti hati dan perasaann putri ayah." Ucap Arsha tegas.


"Lebih baik kalian pendekatan dulu jangan langsung di satukan dalam ikatan pertunganan apalagi dalam ikatan pernikahan. Bukannya bunda gak mendukung. Ini kan kalian baru bertemu beberapa menit yang lalu belum 15 menit. Mending kalian pendekatan dulu biar tau sifat dan watak masing masing lagiankan Ani dan Ana masih di bawah umur. Jika dalam 3 bulan kalian bisa bertahan dan sudah tau karakter pasangan masing masing. Baru Bunda akan merestui kalian dan kalian boleh naik ke tahap lamaran atau tunangan dan pernikahannya bisa di adakan satu tahun ke depan. Tapi jika dalam 3 bulan kalian tak bisa bersatu dan tak bisa memahami sifat pasangan kalian dan sama sama mementingkan ego mending kalian cari psangan lain yang bisa memahami watak dan sifat kalian. Bagaimanapun menjalin pernikahan itu kan tidak mudah, jadi mending fikirkan baik baik agar tak menyesal di kemudian hari. Bunda bicara seperti ini bukannya tak mendukung hanya saja bunda takut ada penyesalan di kemudian hari." Ucap Cinta lembut sambil tersenyum.

__ADS_1


"Iya bunda aku faham." Ucap  Ana dan Arsha tersenyum sedangkan Ani dan Rachel hanya curi curi pandang.


"Pram dan Jay mana bun?" tanya Will yang faham bahwa suasananya mulai gak enak jadi Will mencoba untuk mencairkan suasana lagi.


"Ada tuh di belakang bersama Ila dan Ica." Jawab Cinta.


"Kog gak kumpul di sini?" tanya Will.


"Mereka sibuk memasak untuk menyambut kedatangan kalian. Entar lagi juga selesai. " Jawab Cinta.


Tapi tiba tiba.


Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa


Ica menjerit karena terpeleset hingga ia pingsan sedangkan darah mengalir deras membasahi pahan dan kakkinya.


Cinta dan Taufiq pun langsung lari menuju ke dapur.


"Ada apa ni nak?" tanya Cinta panik melihat banyak darah.


"Ica terpeleset bun" Jawab Pram panik.


"Cepet bawa ke rumah sakit." Ujar Will.


"Siapakan mobil." Ucap Jay yang juga ikutan panik.


Rachel pun yang ada di situ langsung lari menyiapkan mobil. Pram menggendong istrinya menuju mobil yang sudah di siapkan.


"Biar aku yang nyetir." Ucap Will.


Mereka punn pergi ke rumah sakit. Ila sampai menangis melihat saudara kembarnya yang pingsan dengan darah yang terus mengalir. Ani dan Ana serta Aisyah mencoba untuk menangkan Ila karena bagaimanapun ia juga sedang hamil.


Ila, Ani, Ana, Aisyah pergi menaiki mobil bersama Arsha. Kali ini Arsha naik mobil yang ada di garasi. Kuncinya ia dapatkan dari Ani.


Rachel sendiri menyetir dengan menggunakan mobilnya dengan membawa Jay dan juga Taufiq. Sedangkan Cinta ada bersama Ica dan juga Pram dan Will yang menyetir..


Sesampai di rumah sakit, Will dan Pram langsung memanggil salah satu dokter. Will meminta dokter itu untuk segera menolong adik iparnya. Will ikut masuk ke dalam membantu beberapa dokter. Walaupun Will gak terlalu faham mengeni perihal kandungan tapi paling tidak, ia pernah belajar tentang itu.

__ADS_1


Pram, Jay, Ila, Ani, Ana, Cinta, Taufiq, Rachel, Arsha dan Aisyah menunggu di luar. Pram ke sana kemari karena takut jika istri dan anaknya kenapa napa. Cinta dan Taufiq hanya bisa diam memohon pertolongan tuhan begitupun dengan yang lainnya.


__ADS_2