Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Perang Dingin


__ADS_3

Keesokan harinya, Cinta berangkat sekolah pagi pagi. Ia sampai di sekolah jam 6.40. Ia langsung bersih bersih kelas lalu belajar karena tadi malam ia gak sempat belajar karena kedatangan Taufiq dan keluargannya. Setelah selesai belajar, Elsa datang dan langsung duduk di sebelahnya.


"Hei El, tumben belajar di kelas." tanya Elsa....sebenarnya sejak ujian, mereka beda kelas. Tapi Elsa menyempatkan waktu untuk menemui sahabatnya terlebih dahulu.


"Tadi malem gak sempet belajar."


"Kenapa?"


"Karena calon suamiku datang."


"Ha! Serius loh?"


"Iya."


"Terus gimana dengan Ivan?"


"Gak usah bahas dia deh.! Ucap Cinta dengan nada ketus. Sampai saat ini, ia belum bisa memaakannya bahkan rasa sakit itu masih ada.


"Kamu marahan sama dia?"


"Bukan marahan tapi aku udah terlanjur benci sama dia."


"Kenapa?"


"Diam, El. Lebih baik kamu pergi deh! Aku males ngomong." Ucap Cinta. Tapi Elsa gak mau pergi, sebelum Cinta menceritakan apa masalahnya.

__ADS_1


"Tapi Cin?"


"Please...."


"Aku gak mau!"


"Aku butuh sendiri lagian aku harus belajar."


"Iya sudah belajar aja, aku gak akan ganggu." Ucap Elsa sambil melihat wajah Cinta. Ia yakin pasti ada sesuatu yang membuat sahabatnya sampai semarah ini.


"Cin jika ada masalah, aku harap kamu bisa cerita sama aku. Aku sudah menganggap kamu sebagai saudaraku sendiri. Aku gak mau kamu sedih seperti ini." Ucap Elsa dengan nada pelan, takut jika Cinta akan mengusirnya lagi.


"Dia berhianat!"


"Dia siapa?"


"Ah, jangan bercanda deh Cin."


"Aku gak bercanda."


"Kamu tau dari mana?"


"Aku lihat dengan kedua mataku sendiri. Kemaren sore aku pergi ke Caffe untuk beli es krim. Tapi sesampai di sana, aku melihat dia bermesraan dengan cewek lain."


"Kamu jangan salah faham dulu. Siapa tau dia adalah saudaranya."

__ADS_1


"Tidak mungkin. Jika dia memang saudaranya, gak mungkin Ivan memeluk dia dan mencium bibirnya."


"Astaga, aku fikir dia pria baik baik ternyata............."


"Yah untuk itu, aku membencinya. Sangat membencinya. Aku dan dia memang tidak ada hubungan tapi dia berjanji bahwa dia tidak akan dekat sama cewek lain selain aku. Dia juga berjanji setelah lulus sekolah, dia akan melamarku. Tapi nyatanya, dia malah menghianatiku. Aku gak mau bertemu dia lagi."


"Iya sudah, jangan di bahas lagi." Elsa memeluk sahabatnya, ia seperti merasakan apa yang di rasakan oleh sahabatnya. Entah kenapa tiba tiba ia juga sangat membenci Ivann. Ia tak menyangka bahwa Ivan akan seperti itu.


"Kamu jangan nangis lagi ya. Lupain dia, dia gak pantas buat kamu." Elsa melepaskan pelukannya.


"Iya. "


"Iya sudah kamu belajar dah. Aku ke kelas dulu."


"Oke."


Sejakk saat itu, Elsa dan Cinta tak pernah lagi tegur sapa dengan Ivan. Jangankan untuk sekedar ngobrol, melihat wajah Ivan pun mereka ogah. Ivan merasa tersiksa dengan sikap mereka padahal di sekolah, Ivan cuma dekat sama mereka berdua. Ia benar benar menyesal sudah menghianati Cinta. Kemaren ia benar benar khilaf. Kemaren ia bertemu lagi dengan mantan pacarnya dan entah kenapa lagi lagi ia terjebak dengan rayuan wanita itu. Hingga akhirnya pas tiba di caffe, ia memeluk dan mencium bibir itu. Ivan benar benar menyesal, ingin rasanya dia minta maaf sama Cinta tapi ia takut apalagi sikap Cinta begitu dingin padanya. Sungguh, itu membuat hatinya begitu sakit. Ia tak menyangka bahwa dia dan Cinta akan berakhir seperti ini.


-------------------


Ujian pun selesai, kini Elsa sudah bisa satu kelas lagi dengan Cinta. Ivan pun juga senang bisa satu kelas lagi dengan mereka. Tapi sikap mereka juga masih sama, mereka tidak mau lagi ngobrol sama Ivan..


Cinta dan Elsa lagi asyik ngobrol berdua. Kini Cinta tidak lagi seperti dulu yang begitu sibuk. Kini Cinta sudah sedikit berubah, entah siapa yang membuat ia berubah seperti ini. "Enak ya El kalau gak ada pelajaran seperti ini. Kita bisa ngobrol sampai jam pulang. Oh ya by the way, aku bisa naik kelas gak sih. Soalnya kemaren soalnya sulit sulit banget. Dari 25 soal, aku hanya bisa mengisi 5 soal doang sedang yang lainnya aku jawab asal asalan aja, ada juga sih yang nyontek ama temen." Ucap Elsa yang mengingat betapa ia begitu susahnya untuk bisa menjawaab soal ujian itu.


"Entahlah, tapi aku yakin. Kamu pasti naik kelas."

__ADS_1


"Yah, semoga aja."


Saat Ivan masuk kelas, Cinta dan Elsa langsung pergi ke kantin. Dan itu membuat IVan benar benar sedih dan tersiksa.


__ADS_2