Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Rumah Tangga Will dan Aisyah


__ADS_3


 


Rumah tangga Will dan Aisyah sampai sekarang masih adem ayem, tak ada pertengkaran sedikitpun, yang ada mereka selalu tampak harmonis. Will seakan rela melakulan apapun yang di ucapkan oleh Aishah. Will sangat menyayangi dan mencintai Aisyah, sangat menyayangi dan mencintanya bahkan melebihi rasa cintanya kepada dirinya sendiri. Will juga selalu berusaha untuk terus menjaga dan melindunginya sepenuh hati agar tak ada orang lain yang menyakitinya. Will tak akan membiarkan siapapun menyakiti istri dan anaknya walaupun itu hanya seujung kuku. Will juga selalu berusaha untuk jaga jarak dengan wanita lain selain keluargannya. Will takut kejadian dulu akan terulang kembali. Jadi selama Will bekerja dan Aisyah tak ada di sampingnya, Will akan memasang wajah datar dan hanya bicara jika memang ada hal penting, beda dengan dulu sebelum Aisyah kecelakaan, Will selalu ramah kepada siapapun hingga kadang seseorang malah salah menafsirkan sikapnya itu.


 


Saat ini putra mereka sudah berumur hampir satu tahun dan sedang lagi gemes gemesnya. Dulu saat Aisyah di nyatakan hamil, Will sangat bahagia sekali. Setelah pernikahannya di terpa badai, di uji dengan begitu hebatnya tapi setelah itu, mereka bersatu kembali dan mendapatkan kebahagiaan yang tak terkira. Will begitu antusias sekali bahkan ia tak pernah menyangka di usianya yang sekarang, ia telah menjadi seorang ayah beranak satu. Apalagi saat Aisyah melahirkan, Will melihat putra mereka pertama kali yang hampir mirip dengannya, putra yang akan menambah kebahagiaan mereka. Will sangat sangat bahagia sekali. Apalagi ketika itu, saat Aisyah melahirkan, saudara iparnya, Ica juga hamil kembali setelah sebelumnya keguguran, dan itu membuat keluar besar Will bahagia karena Ica sudah tak lagi murung.


Dulu saat Ila melahirkan, putranya sudah berumur 8 bulan. Dan sekarang Angel, putrinya Ica dan Pram sudah berumur 3 bulan lebih satu minggu yang artinya, putri mereka saat ini sudah berumur 11 bulan lebih dikit. Dan bentar lagi sudah genap umur 12 bulan atau satu tahun. Sedangkan Alina, anaknya Jay dan Ila sudah umur 19 bulan, mengingat dulu Ila lahir saat Aisyah hamil satu bulan. Dan ketika putrinya,, Alina berumur 8 bulan, Aisyah melahirkan.


Jika Ica dan Pram beserta putri mereka, Angel datang ke rumah Cinta dan Taufiq, ditambah juga saat Jay dan Ila beserta putri mereka, Alina juga datang ke rumah kedua orang tuanya, ditambah lagi dengan dirinya beserta anak dan istrinya, dan di tambah lagi dengan Ani dan Ana beserta suaminya, rasanya rumah Cinta dan Taufiq, jadi rame banget. Cinta dan Taufiq juga tak pernah membanding bandingkan antara cucu satunya dengan yang lain, Cinta dan Taufiq selalu adik kepada semua anak, menantu dan juga cucunya.


Wil dan Aisyah begitu sangat bahagia memiliki keluarga yang begitu sempurna tapi memang selama kita hidup di dunia, pasti akan ada aja cobaan entah itu apa, tapi selama bisa menghadapinya dengan sabar dan doa. InsyaAllah kita bisa melaui ujian itu.


Setiap rumah tangga juga pasti akan ada ujiannya masing masing. Tak mungkin jika tak ada ujiannya sama sekali, karena setiap orang yang bernyawa pasti akan menghadapi suatu masalah entah itu masalah ringan, sedang atau bisa jadi masalah yang berat hingga orang yang imannya tak kuat, memilih untuk mengakhiri hidupnya.


Sama seperti Aisyah, dari kecil ia sudah terpisah dengan kedua orang tuanya, dari kecil ia hidup di panti asuhan tanpa merasakan cinta dan kasih sayang hingga akhirnya, ia memilih untuk menikah dengan orang yang sungguh sungguh ingin menjadikan dirinya permaisudi di dalam hatinya. Dan itupun ujiannya tak sampai di situ, ia juga mengalami siksaan dari wanita, yang sudah tergila gila kepada suaminya. Hingga akhirnya wanita itu tega memisakahkan dirinya dari suami yang sangat ia cintai. Ia terpisah dengan waktu yang sangat lama. Dan itu adalah ujian terberat bagi Will dan Aisyah.


Namun Aisyah percaya, setiap ujian itu pasti hikmahnya tersendiri. Contohnya dengan kecelakaan yang menimpa dirinya, ia malah di pertemukan dengan saudara kandungnnya yang mana dia telah mencari Aisyah sejak dulu. Andai kecelakaan itu tak terjadi, apakah mungkin sampai detik ini Aisyah bisa bertemu dengan Rachel. Jika kecelakaan itu terjadi, apakah mungkin ia tau siapa nama kedua orang tuanya dan bagaimana wajahnya. Ya walaupun kedua orang tua Aisyah kini sudah tiada dan Aisyah belum sempat merasakan kasih sayang mereka berdua tapi paling tidak, Aisyah tau bagaimana wajah mereka dan Aisyah juga tau bahwa dirinya bukan anak yang tak di inginkan tapi keadaanlah yang membuat dirinya harus terpisah selama bertahun tahun lamanya.


Aisyah juga sangat sangat bahagia karena dirinya masih mempunyai kakak kandung yang sangat menyayangi dirinya dan rela melakukan apapun demi kebahagiaannya. Walaupun kecelakaan itu menyakitkan dan sedikit membuat Aisyah trauma tapi paling tidak kecelakaan itu membawa berkah untuk semuanya. Buktinya Ani dan Ana bisa menikah dengan Rachel dan Arsha lewat dirinya.


Aisyah percaya dan sangat percaya sekali bahwa setiap ujian itu pasti akan hikmahnya tersendiri begitupun dengan Will, walaupun dulu ia sangat marah dengan ujian yang ia terima karena dirinya harus terpisah dengan orang yang sangat ia cintai tapi sekarang, ia sangatlah bersyukur karena bisa bersatu kembali dan mempunyai putra yang sangat tampan seperti dirinya.


 


\=========


Saat ini, Aisyah dan Will ingin liburan ke puncak sesekali. Jika biasanya tiap liburan ke rumah saudara dan kedua orang tuanya, tapi kini Will ingin liburan bertiga dengan anak dan istrinya tanpa di ganggu oleh orang lain. Will juga sudah izin ke dua orang tuanya bahwa hari ini ia tak bisa kesana karena ingin liburan bersama Aisyah dan juga Khaleed.


Sesampai di puncak, di Villa pemberian Rachel untuk hadian pernikahan mereka berdua, Aisyah dan Khaleed merasa bahagia menghirup udara segar. Villa ini termasuk Villa terluas dan termewah yang ada di puncak. Sejak Rahcel tau bahwa Aisyah adalah adik kandungnya, Rachel selalu menjaga dan melindunginya dari jauh walau saat ini ia telah resmi jadi suami dari orang lain tapi Rachel tak akan pernah melupakan kewajibannya untuk terus menjaga adik kandung satu satunya itu yang merupakan keluarganya. Apalagi ia sudah berjanji kepada kedua orang tuanya, apapun yang terjadi jika dia sudah menemukan adik yang selama ini menghilang, Rachel akan terus menjaga dan melindunginya sampai akhir hayatnya.


Rachel juga memberikan Villa dan juga beberapa perusahaannya kepada Will dan Aisyah. Awalnya Will dan Aisyah menolak karena Will sendiri pun sudah punya perusahaan tapi karena Rachel sedikit memaksa akhirnya mereka berduapun menerimannya.


\==============


Will membawa tas yang berisi pakaian dirinya dan juga anak istrinya. Di tas itu juga ada beberapa pempers, makanan ringan dan juga beberapa kebutuhan khaleed, semuanya lengkap di tas itu.


"Yank, ayo masuk. Di luar udaranya dingin." ucap Will lembut, kedua tangannya memegang tas besar.


"Iya mas." jawab Aisyah tak kalah lembutnya.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumahnya, villa ini sebenarnya ada yang jaga dan juga ada yang bersihkan tapi tidak tiap hari hanya seminggu dua kali bahkan kadang cuma seminggu sekali. Dan kemaren sore sudah di bersihkan saat Wil dan Aisyah mengatakan akan berkungjung ke Villa.


Will menaruh tas itu ke dalam kamar utama sedangkan Aisyah yang menggedong Khaleed duduk di sova. Will menghampiri istrinya setelah ia menaruh tas itu ke kamar.


"Capek?" tanya Will


"Lumayan." jawab Aisyah tersenyum, melihat istrinya tersenyum seakan memberikan kecantikan tersendiri bagi Will. Ya menurut Will, wanita tercantik di dunia ini adalah bundannya dan juga istrinya sedangkan yang lain entah masuk urutan nomer keberapaa hehe...


"Khaleed tidur?" tanya Will karena Khaleed memejamkan mata dari tadi.


"Iya mas." jawab Aisyah.


"Iya sudah sini, biar Khaleed aku taruh di kamar." ucap Will sambil mengambil Khaleed dari gendongan Aisyah.


"Emangnya, kamarnya sudah di bersihkan yank, soalnya kan Khaleed risih dan jadi nangis terus jika ada debu walaupun itu sedikit." ujar Aisyah yang faham betul dengan putranya itu. Baru segini aja, tapi Khaleed cinta kebersihan dan akan menangis jika tangan atau tubuhnya kotor. Bahkan ia merasa sesak jika kena debu.


"Sudah yank, kamarnya malah bersih banget. Iya udah ya, aku naruh Khaleed dulu, nanti aku kembali lagi ke sini." ujar Will sambil berjalan menuju kamar utama, sampai sekarang Khaleed masih tidur bersama kedua orang tuanya karena Aisyah dan Will khawatir jika membiarkan anak sekecil itu tidur sendiri di kamarnya. Apalagi kalau malam kadang Khaleed nangis jika kehausan. Sampai sekarang, Aisyah masih harus begadang malam karena Khaleed masih butuh Asi dari dirinya.


Berat memang, tapi jika di jalaninya dengan tulus, insyaAllah beban itu tergantikan dengan rasa kebahagiaan yang tiada tara.


Will menaruh Khaleed di atas kasur dan di taruh tepat di tengah kasur karena kalau terlalu ngesamping, takut jatuh. Will juga menaruh bantal dan guling di samping kanan kiri Khaleed bahkan atas dan bawah juga di kasih jadi Khaleed ada di tengah tengah dan di kelilingi bantal guling hehe.


Setelah memastikan Khaleed aman, Will pun kembali menghampiri istrinya.

__ADS_1


"Yank, kamu lapar enggak? Kalau lapar, aku belanja dulu ya di pasar deket sini kayaknya ada. Aku naik mobil tapi kalau jalan kaki jauh. Kamu mau nitip apa?" tanya Will.


"Apa ya mas, terserah mas aja deh." jawab Aisyah yang tak mau mikir berat berat karena dirinya lelah.


"Kalau kamu ngantuk dan capek, kamu tidur aja di samping Khaleed, kasihan juga putra kita tidur sendirian." ujar Will yang kasihan melihat istrinya seperti capek banget. Memang perjalanan tadi menempuh perjalanan kurang lebih 4 jam.


"Aku gak papa tidur duluan?" tanya Aisyah.


"Gak papa, biar urusan belanja, aku yang pegang. Nanti setelah selesai belanja, aku langsung ke sini lagi, aku gak akan meninggalkan kamu dan putra kita terlalu lama." jawab  Willl.


"Iya udah mas hati hati ya dan maaf merepotkan." ucap Aisyah.


"Gak ada yang di repotiin, aku senang melakukannya." ujar Will tersenyum.


"Iya udah mas hati hati ya di jalan." ucap Aisyah.


"Iya sayang, aku berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalam."


 


Setelah kepergian suaminya, Aisyah pun pergi ke kamarnya untuk tidur di samping Khaleed sedangkan Will, dia pergi kepasar untuk beli bahan bahan pokok. Will tak pernah malu jika ia harus belanja sendiri, tak ada rasa malu jika ia lakukan demi istrinya. Memang kadan ada yang muji, ada yang nyinyir, ada yang bilang suami takut istri jika sudah bertemu dengan emak emak rempong. Tapi Will, gak ambil pusing dengan semua perkataan mereka di belakangnya. Will suka melakukannya dan Will merasa gak keberatan sama sekali, bukan karena Wil, suami yang takut istri melainkan karena Will sangat menyayangi istri dan putranya hingga Will akan melakukan apapun demi kebahagiaan mereka. Will gak gensi, Will gak takut, Will biasa aja dan tak mau memperdulikan omongan orang di luaraan sana.


 


Setelah Will selesai belanja, Will langsung pulang dengan menaiki mobil. Sesampai di depan Villa, Will langsung masuk ke dalam Villa. Ia melihat anak dan istrinya yang tertidur lelap. Will tersenyum melihatnya bahkan Will mengambil hp dan mengabadikan moment itu. Setelah mengambil foto beberapa kali, barulah Will masuk ke dapur dengan membawa belanjaannya.


Di Villa sudah lengkap semua peralatannya, jadi Will bisa masak dengan sendirinya. Will kali ini hanya masak nasi, ayam goreng, sambel terasi pedas, telur mata sapi dan juga sayur bening dan oseng oseng. Dulu Will gak terlalu mahir memasak tapi sekarang Will sudah lumayan bisa.


Setelah selesai masak, Will langsung mandi dan sholat dhuhur. Selesai sholat, ia membangunkan istrinya.


"Sayang." panggil Will pelan takut membuat istrinya kaget.


"Iya mas, maaf aku ketiduran lama banget ya." ujar Aisyah merasa bersalah.


"Emang mas sudah selesai belanja?" tanya Aisyah.


"Iya sayang, sudah. Aku juga sudah masak buat kita sarapan siang." jawab Will.


"Astaufirullah mas, maafkan aku. Gara gara aku tidur, kamu sampai masak sendiri padahal itu kan tugas aku." ucap Aisyah merasa bersalah karena membiarkan suaminya masak sendiri.


"Gak papa, sudah sana mandi dulu. Biar Khaleed aku yang jaga." ujar will tersenyum.


"Iya mas." Aisyah pun segera mengambil handuk dalam tasnya, tap ia cari cari gak ada.


"Lho mas, perasaan aku bawa handuk dari rumah kog gak ada ya?" tanya Aisyah kebingunga.


"Hehe tadi aku yang ambil handuknya, tuh di gantung. Tadi aku pakai saat sudah selesai mandi." jawab Will.


"Oh gitu, iya udah aku mandi dulu ya mas."


"Iya sayang."


Aisyah pun masuk ke kamar mandi sedangkan Will melihat putrnya yang tertidur nyenyak sambil sesekali ia memencet pipi putranya yang sedikit tembem itu hingga membuat putranya jadi terbangun dari tidurnya.


"Eh, anaknya aby bangun ya. Aby tadi ganggu tidurnya dedek ya. Maafkan aby ya." ujar Will seperti anak kecil yang hanya di tatap oleh putranya itu. Will yang merasa gemas langsung menggendong putranya.


Will terus mengajak putranya itu ngobrol walaupun tak di respon. Khaleed, sudah mulai belajar berjalan ya walaupun masih belum bisa tapi Will yakin cepat atau lamat, Khaleed pasti bisa.


Tak lama kemudian, Aisyah pun keluar dari kamar mandi.


"Lho, dede Khaleed sudah bangun?" tanya Aisyah melihat Khaleed ada di gendongan suaminya.


"Iya, umy." jawab Will seperti anak kecil.


"Aku sholat dulu ya mas." ujar Aisyah setelah memakai baju dan ia pun segera memasang mukenahnya.

__ADS_1


"Iya sayang." ucap Will tersenyum.


Will terus menggendong putranya sambil menungu Aisyah selesai sholat.


Aisyah sendiri setelah sholat, ia menyisir rambutnya, memoles wajahnya dengan sedikit bedak dan tak lupa sedikit lipstik agar wajahnya tak pucat. Setelah itu ia mengambil hijabnya untuk ia pakai.


"Gak usah pakai hijab sayang, di sini gak ada orang dan cuma ada kita." ucap Will lembut.


"Gak papa pas, aku lebih suka pakai hijab." jawab Aisyah tersenyum. Setelah itu, Aisyah mengambil Khaleed dari gendongan suaminya.


"Aku menyusui Khaleed bentar ya mas, setelah itu kita makan." ujar Aisyah.


"Iya sayang." ucap Will.


Ia melihat putranya begitu semangat menyusu.


"Kayaknya anak kita sedikit rakus ya." ujar Will.


"Iya mas, mungkin karna dia cowok dan sangat aktiv jadi gampang haus dan lapar." ucap Aisyah.


Setelah selesai menyusui Khaleed, Aisyah pun menaruh Khaleed di tempat ayunan bayi. Kebetulan will selalu membawa tempat ayunan itu jika bepergian.



 



Khaleed mempunyai dua tempat ayunan bayi yang berbeda, tergantung mana yang ingin di pakai oleh Khaleed.


Setelah Khaleed di taruh di ayunan itu, Aisyah dan Will pun bisa makan bersama sambil sesekali Aisyah mengayunkan tempat bayi itu agar terayun ayun.


 


Selesai makan, Aisyah mencuci piring dan membersihkan dapur yang sedikit berantakan dan setelah itu, mereka pun pergi ke ruang keluarga untuk nontn tivi.


 


Rencana mereka akan menginap di Villa ini selama 3 hari.


"Mas, nanti malam bakar bakar yuk." ujar Aisyah.


"Mau bakar apa sayang?" tanya Will.


"Bakar ikan mungkin." jawab Aisyah.


"Oh oke, biar nanti sore aku akan beli ikan jadi malamnya bisa bakar bakar sendiri di sini." ujar Will.


"Iya sayang, makasih ya." ucap Aisyah yang merasa dirinya sangat bahagia mendapatkan suami seperti Will. Asiyah merasa sangat beruntung karena Will begitu sangat menyayangi dan mencintainya bahkan selalu memberikan perhatian penuh dan memanjakannya. Aisyah merasa menjadi wanita yang paling bahagia.


Will memeluk istrinya sedangkan sang putra masih ada di kursi ayunan dengan memainkan mobil mobilan yang ia pegang.


 


 


 


 


 



 


__ADS_1


__ADS_2