
Setelah puas jalan jalan, Ila mengantarkan Ica ke rumah barunya. Di mana rumah itu tempat tinggal Ica dan Pram. Setelah mengantarkan Ica, Ila pun mengantarkan Ani dan Ana. Tapi kali ini Ila gak ikut masuk ke dalam menumui mertuanya karena ia harus segera pulang untuk menyambut kedatangan suaminya.
Di kediaman Cinta dan Taufiq.
"Assalamua'aikum ayah, bunda." Ucap Ani dan Ana.
"Waalaikum salam." Jawab Taufiq.
"Bunda mana yah?" tanya Ani dan Ana sambil mencium tangan ayahnya lalu duduk di samping ayahnya.
"Ada tuh di kamar lagi dandan." Jawab Taufiq tersenyum. Ia menaruh laptop yang ia pegang di atas meja.
"Kog sampai sore gini pulangnya?" tanya Taufiq.
"Tadi kami jalan jalan sama Kak Ica dan Kak Ila sama Kak Asiyah juga." Jawab Ani tersenyum.
"Oh ya, gimana jalan jalan sama Aisyah. Seneng?" tanya Taufiq.
__ADS_1
"Seneng dong. Apalagi Kak Aisyah orangnya asyik. Dia sangat baik yah. Aku rasa Kak Will sangat beruntung mendapatkan istri seperti Kak Aisyah." Jawab Ani.
"Tapi yah tadi pas aku ke rumah sakit, aku liat Kak Aisyah di siksa sama seorang dokter." Ucap ANa kesal mengingat kejadian di rumah sakit tadi siang.
"Di siksa. Siapa yang berani menyiksa menantu bunda?" tanya Cinta yang tiba tiba aja sudah ada di hadapan mereka dan duduk di samping Ana.
"Kalau gak salah sih namanya Nadia bun. Gila, dia tega banget dorong Kak Aisyah sampai Kak Asiyah terbentur ke tembok bahkan wanita gila itu juga menarik kerudung Kak Aisyah dan menjambak rambutnya." Jawab Ana kesal.
"Iya bun. Bahkan tadi dia juga mau menampar aku lho bun." Ucap Ani pura pura sedih.
"Emang kenapa dia sampai mau menampar adek dan nyiksa Aisyah?" tanya Taufiq.
"Terus Aisyah diam aja di siksa gitu sama wanita itu?" tanya Bunda.
"Iya bun. Bahkan Kak Aisyah gak melawan sama sekali. Saat Kak Will datang dan memberikan hukuman, Kak Asiyah malah menyuruh Kak Will memaafkannya. Kadang aku heran, kenapa Kak Aisyah baik banget setelah ia di perlakukan gitu. Aku aja yang liat kesel banget tapi Kak Aisyah, ia masih mau memaafkannya." Ucap Ani yang kadang tak habis fikir dengan apa yang di lakukan oleh kakak iparnya itu.
"Iya seperti itulah kakak iparmu. Ia tak akan pernah membalas kejahatan orang dengan sebuah kejahatan. Kakakmu terlalu baik jadi orang, tapi bunda sangat bangga karena kakak iparmu itu bukan type orang yang suka tersulut emosi. Will sangat beruntung mendapatkan istri seperti dia." Ucap Cinta senang dan bangga mendapatkan menantu seperti Aisyah.
__ADS_1
"Aku juga bangga mendapatkan kamu sayang." Ucap Taufiq tersenyum.
"Ah mas bisa aja." Jawab Cinta tersenyum malu.
"Tapi bun, entah kenapa aku merasa kalau cewek gila itu tidak akan tinggal diam setelah apa yang terjadi di rumah sakit tadi siang. Aku seperti melihat ada ada rasa benci di kedua matanya." Ucap Ani yang bisa menilai sifat dan watak seseorang.
"Iya, entah kenapa aku juga merasakan bahwa ia akan membalas rasa sakitnya. Aku takut ia akan melakukan hal yang lebih gila lagi ayah, bunda." Ucap Ana sedih, ia takut jika Nadia akan mencelakai kakak iparnya.
"Kalian tenang aja, aku akan menyewa seseorang untuk menjaga kalian dan juga Aisyah." Ucap Taufiq.
"Tapi Kak Aisyah gak akan mau deh." Ujar Ana.
"Iya jangan sampai Aisyah tau dong. Ayah akan meminta seseorang untuk mengawasinya dari jarak jauh. Tapi kalian juga gak boleh bilang kepada siapapun. Cukup ini menjadi rahasia kita berempat oke." Ucap Taufiq.
"Oke yah." Ujar Ani dan Ana senang.
"Iya sudah, kalian mandi dulu gih terus makan." Ucap Cinta.
__ADS_1
"Oke bun." Ani dan Ana pun langsung masuk kamar dan mandi.
Sedangkan Cinta dan Taufiq sedang berbicara tentang bagaimana caranya agar mereka bisa melindungi buah hatinya dan juga menantunya serta keluarga besarnya.