
Sesampai di rumah Pram dan Ica, Cinta dan Taufiq di persilahkan untuk duduk.
"Tumben ayah dan bunda kesini?" tanya Pram karena beberapa hari ini, kedua orang tuanya dan saudara saudaranya gak ada yang bisa di hubungi.
"Eh, bunda gak boleh kesini nih, ya udah bunda mau pulang aja. Ayo mas pulang, kehadiran kita gak di harapkan." ucap Cinta pura pura marah.
"Bukan gitu maksudku bun, duduk dulu ayo. Jangan marah marah nanti cepet tua." ujar Pram yang merasa bersalah karena membuat bundanya kesal. Cinta pun duduk kembali sambil tersenyum sedikit karena berhasil mengerjai putranya itu.
"Bunda habis nangis ya?" tanya Pram melihat mata bundanya yang bengkak seperti habis nangis.
" Pram, kamu harus tau." ucap Cinta yang mulai sedih lagi.
"Tau apa bunda?" tanya Pram penasaran.
"Ibu Wati sudah meninggal." jawab Cinta serak karena ia ngomong sambil menangis.
"Innalilahi Wainnailaihi Rojiun. Bunda kata siapa? Ibu Wati yang pernah di tolong bunda itukan? Yang tinggal sama Ibu Inah dan sekarang menempati rumah Ibu Inah? Ibu Wati itukan yang di maksud bunda?" tanya Pram panjang lebar.
"Iya nak, dia." jawab Cinta yang terus menitikkan air mata. Taufiq berusaha mengelus elus punggung istri nya seakan memberikan kekuatan kepada ibu anak lima itu.
"Bunda tau dari siapa?" tanya Pram.
"Tadi ayah sama Bunda mau ke panti jompo tadinya, tapi sebelum itu mau mampir dulu ke rumah Ibu Wati, karena sudah lama juga gak kesana tapi saat nyampek sana, rumahnya sepi dan seperti tak berpenghuni. Terus ibu nanya ke tetangga sana yang kebetulan lewat dan dia bilang Ibu Wati sudah meninggal dan rumah pemberian bunda sudah di jual buat pengobatan Ibu Wati karena gaji putranya itu tak cukup untuk mengobati Ibu Wati. Dia juga sakit selama 4 bulan, dan setelah itu meninggal. Ibu Wati juga di makamkan di kampung halamannya, kampung kelahirannya tapi bunda gak tau dimana. Rencananya besok ayah sama bunda mau ke tempat kerja putranya itu mau nanya nanya tentang Ibu Wati, bunda juga mau nanya makam ibu Wati agar ayah sama bunda bisa berziarah ke makam nya." ucap Cinta menjelaskan panjang lebar.
__ADS_1
"Ya Allah aku gak nyangka lho bun, Ibu Wati sudah meninggal. Kenapa putranya gak ke rumah bunda jika waktu itu sangat butuh uang buat berobat Ibu Wati?" tanya Pram.
"Entahlah nak, mungkin dia malu jika terus menerus minta tolong ke keluarga kita." ujar Cinta.
"Yah mungkin memang sudah takdirnya juga." ucap Pram yang ikutan sedih juga bagaimanapun ia pernah deket dengan Ibu Wati.
"Oh ya istri dan anakmu mana Pram?" tanya Taufiq.
"Mereka sedang tidur yah, tadi malem Angel sedikit rewel dan gak mau tidur jadi kami terpaksa semalaman begadang." ujar Pram yang sebenarnya nahan ngantuk juga, tadinya ia mau tidur tapi karena denger bel rumah berbunyi. Ia segera membuka pintu dan gak menyangka kedua orang tuanya yang datang setelah beberapa hari tak pernah datang kemari dan di telpon pun gak diangkat, chat juga gak di bales.
"Kamu baru satu aja, seperti itu sayang. Sudah kewalahan bagaiman dengan ayah dan bunda dulu, saat kami harus mengurus 3 anak sekaligus dalam waktu yang bersamaan dan tak ada yang bantu apalagi saat itu Will juga sedang sakit leukimia dan harus di rawat di rumah sakit Singapura. Rasanya sungguh melelahkan tapi kami bahagia bisa merawat 3 anak sekaligus tanpa bantuan siapapun. Kelak jika Angek sudah dewasa, kamu akan merasa waktu begitu cepat dan kamu ingin Angel menjadi bayi lagi agar kau terus bisa merawat nya. Bunda gak ingin kamu menyesal di kemudian hari, bunda ingin kamu dan Ica bisa merawat putrimu dengan tangan kalian sendiri tanpa ada ikut campur tangan orang lain. Bikinnya aja berdua, masak iya merawat anaknya butuh bantuan orang lain." goda Cinta yang mulai sedikit lupa dengan kesedihannya.
"Ya gak gitu juga bun, tapi jujur aku kadang memang bener bener kewalahan merawat Angel terutama Ica, kasihan rasanya melihat dia harus mengurus Angel siang malam bahkan Ica kadang gak sempet mandi jika Angel sudah sedikit rewel. Tapi dengan begini aku dan Ica tau bagaimana perjuangan ayah dan bunda merawat kami sejak bayi hingga kami dewasa, makasih ya ayah bunda." ucap Pram yang sangat terharu denga perjuangan kedua orang tuanya saat mengasuh dan merawat Jay, Will dan Pram dalam waktu bersamaan. Merasa satu bayi aja rasanya kesusahan, bagaimana jima langsung 3 sekaligus, Pram tak bisa membayangkan semua itu karena pasti akan sangat sangat lelah sekali.
"Tapi aku belum ngasih makanan dan minuman buat ayah dan bunda." ujar Pram yang ingat dari tadi hanya di ajak ngobrol dan lupa untuk menyuguhi mereka makanan dan minuman.
"Gak papa sayang, kami tadi sudah makan sebelum berangkat. Kamu tidur aja, nanti bisa sakit kalau kurang istirahat. Salam aja buat istrimu." ujar Cinta tersenyum.
"Iya bunda, nanti Pram akan sampaikan salam bunda untuk Ica."
"Ayah pulang dulu nak, jaga diri baik baik dan bantu istrimu jika dia kesusahan dan kewalahan merawat Angel. Suami istri itu harus bisa di ajak kerjasama biar gak berat sebelah." ucap Taufiq menasehati.
"Iya yah."
"Kami pulang dulu."
__ADS_1
"Iya yah. Ayah dan bunda hati hati di jalan."
"Iya sayang. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah ayah dan bundanya pergi Pram pun segera menutup pintunya dan segera masuk kamar dimana istri dan anaknya tertidur lelap. Pram berbaring di samping istrinya dan tak lama kemudian iapun ikut terlelap.
Sedangkan Cinta dan Taufiq langsung pulang menuju rumahnya dan gak kemana mana lagi.
Sesampai di rumah, Cinta dan Taufiq langsung turun dari mobil dan mereka langsung masuk ke dalam rumahnya. Mereka duduk sebentar di sofa melepaskan rasa lelah. Asisten rumah tangganya yang melihat tuan rumahnya sudah datang, dengan gesit nya ia langsung membawakan minuman untuk Taufiq dan juga Cinta.
"Makasih ya bi." ucap Cinta tersenyum.
"Sama sama nyonya. Saya permisi ke belakang dulu." ujar sang bibi yang langsung pergi setelah memberikan minuman yang ia buat.
Taufiq dan Cintapun meminum minuman yang ada di depannya, rasanya dingin, segar dan manisnya pun pas. Gak salah Cinta mempekerjakan asisten rumah tangga yang begitu handal dan peka.
Setelah minum, mereka langsung pergi ke kamar untuk membersihkan tubuhnya dan setelah itu mereka pun langsung istirahat. Tapi jujur Cinta tak bisa istirahat dengan tenang karena fikirannya masih terus tertuju kepada Ibu Wati dan anaknya.
Pengen rasanya, segera esok pagi agar suaminya bisa mengantarkan dirinya ke tempat kerja di mana Anaknya Ibu Wati Bekerja.
Cinta ingin menanyakan kabar Ibu Wati langsung dari putra tunggalnya itu.
__ADS_1