Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Kue Untuk Taufiq


__ADS_3

Keesokan harinya Elsa bangun pagi pagi sekali..Sehabis sholat shubuh, Elsa tidak langsung olah raga melainkan langsung pergi ke dapur untuk membuat sebuah kue khusus untuk Taufiq. Dengan hati yang berbunga bunga, ia memotong beberapa buah dan ia juga tidak lupa menyiapkan bahan bahannya.


"Non, apa perlu bibi bantu?" tanya Bi Inah.


"Tidak usah bi, aku pengen bikin sendiri. Bibi bersih bersih aja deh." Jawab Elsa sambil tersenyum. Bukan maksud ia ingin menolak hanya saja ia tak ingin kue ini ada campur tangan orang lain. Bi Inah yang melihat Elsa hanya tersenyum saja. Sejak setahun terakhir ini Elsa emang sering pergi ke dapur untuk membuatkan makanan khusus Taufiq.


"Baiklah. Oh ya tadi malem bibi sudah menelvon anak bibi, mungkin nanti siang dia sudah sampai." Ucap Bi Inah memberi tahu bahwa anak semata wayangnya akan datang siang ini.


"Oh gitu, iya sudah bi gak papa. By the way dia kelas berapa bi?" tanya Elsa sambil terus fokus dengan kue yang ia bikin.


"Dia sudah kuliah non. Semester 3."


"Oh kalau gitu, dia seumuran denganku dong."


"Iya non."


"Kalau boleh tau, dia ambil jurusan apa?"

__ADS_1


"Akuntans non."


"Oh sama kalau gitu bi. Iya sudah bilang ke dia untuk pindah kulyah di sini aja bareng aku. Masalah biaya, nanti aku akan bilang ke mama dan papa agar anak bibi di biayain oleh papaku."


"Tapi non...."


"Gak boleh pakek tapi tapian bibi. Bibi tau sendirikan, aku gak suka di bantah. Pokok nanti bibi harus von dia lagi dan bilang dia harus pindah di kampus yang sama denganku. Oh ya namanya siapa?" tanya Elsa penasaran.


"Naila Pertama Sari. Nama panggilanannya Naila."


"Namanya sangat cantik. Pasti orangnya juga cantik."


"Oke."


"Oh ya non, nanti bibi masakin apa untuk sarapan pagi?" tanya Bi Inah


"Hemm kayaknya aku gak sarapan di sini deh bi. Lagian ini juga udah agak siang. Nanti pasti telat. Aku makan di luar aja. Kalau nanti bibi mau sarapan, bibi masak aja sekalian nanti juga masakin buat anak bibi."

__ADS_1


"Oh gitu. Iya sudah non. Bibi pamit ke kamar dulu ambil Hp."


"Oke bi."


Setelah bi Inah pergi, Elsa kembali fokus. Ia memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Sebelum jam 6 kue itu harus sudah jadi. Sambil dengerin musik n bikin kue, Elsa mengingat ingat wajah Taufiq yang sangat tampan. Hingga tak terasa tepat jam 05.50 kue itu pun sudah jadi. Elsa senyam senyum sendiri melihatnya. Walaupun kuenya tidak terlalu bagus tapi Elsa sudah berusaha semaksimal mungkin untuk bisa bikin kue itu sebagus mungkin dan seenak mungkin.



Elsa menaruh kue itu di meja makan. Setelah itu ia segera pergi ke kamar untuk siap siap pergi ke tempat kerja Taufiq. Tak butuh waktu lama karena dalam waktu 15 menit, Elsa sudah rapi dan cantik. Elsa kembali ke ruang dapur untuk mengambil kue yang ada di atas meja makan. Di sana ia melihat bibi yang bikin nasi goreng n telur mata sapi.


"Bi, aku berangkat dulu ya." Ucap Elsa.


"Tapi non, bibi sudah terlanjur bikinin non Nasi goreng nie n telur mata sapi juga."


"Emmm nasi goreng n telurnya bibi aja ya yang makan. Aku buru buru lagian tadi aku kan udah bilang aku gak bisa sarapan di rumah. Iya sudah ya bi, aku berangkat dulu. Jangan lupa nanti masak yang banyak untuk menyambut kedatangan anak bibi."


"Iya non."

__ADS_1


Setelah berpamitan, Elsa pun segera naik mobil yang ada di garasi. Dengan hati hati kue itu di taruh di kursi samping Elsa. Kue itu di bungkus dengan kotak sehingga terlihat bagus apalgi di tengahnya di kasih peta sehingga membuat penampilannya semakin bagus.


__ADS_2