Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Salsa Balik Pondok


__ADS_3


Setelah beberapa hari berada di rumah, akhirnya nanti sore Salsa pun harus kembali ke pondok karena jika telat sehari aja, Salsa bisa kena hukuman.


Saat ini Nadia dan Salsa ada taman belakang rumah. Taman belakang itu sudah di rubah sedemikian mungkin sejak kematian Ila. Karena taman belakang itu hanya mengingatkan Jay tentang bagaimana tragisnya sang istri pertama dalam bunuh diri.



"Kak, nanti sore aku sudah balik lagi ke pondok." ucap Salsa sambil menggendong Afnan.


"Iya, kakak jadi sedih karena harus berpisah lagi sama kamu. Padahal baru beberapa hari kita bertemu tapi nanti kamu sudah harus kembali ke pondok. Lalu kapan kamu bisa pulang lagi?" tanya Nadia.


"Tahun depan kak, setelah selesai ujian lagi." jawab Salsa.


"Masih lama ya." ujar Nadia sedih.


"Iya kak. Tapi kalau kakak kangen, kakak bisa ke pondok ya walaupun hanya di kasih waktu 15 menit, tapi lumayanlah bisa mengobati rasa kangen kita. Namun ya itu, kakak gak bisa tiap hari. Paling gak, sebulan sekali kakak boleh bertemu denganku." jawab Salsa.


"Hemm jujur kakak sedih banget, tapi mau bagaimana lagi. Ini sudah jadi pilihan kamu. Kakak, cuma berharap kamu di sana jaga diri baik-baik ya. Kalau ada apa-apa, bisa hubungi kakak, pinjem hp sama Ibu Nyai ya. Gak papa kan pinjem Hp Bu Nyai?" tanya Nadia.

__ADS_1


"Gak papa kak, jika memang darurat." jawab Salsa.


"Kamu gak kangen sama Afnan?" tanya Nadia


"Kangen kak. Tapi mau bagaimana lagi, aku kan harus menuntut ilmu agama biar hidup ku jadi berkah." jawab Salsa.


"Hemmm iya sudah deh. Setelah menyelesaikan sekolah kamu, kamu maunya gimana dek?" tanya Nadia.


"Aku mau kuliah kak di Mesir. Dan setelah itu aku pengen jadi dosen agama di Universitas Ternama di Jakarta." jawab Salsa.


"Apapun keputusanmu. Kakak akan selalu mendukung nya." ujar Nadia.


Namun saat mereka asyik ngobrol, tiba-tiba Afnan menangis. Nadia pun mengambil Afnan dari gendongan Salsa. Dan menyusuinya.


"Kak, nanti sebelum aku berangkat mondok, aku mau pergi ke makam Kak Putri dulu ya." ujar Salsa.


"Iya tapi maaf kakak gak bisa nemenin." jawab Nadia sambil terus menyusui putranya.


"Gak papa kak, santai aja." ujar Salsa.

__ADS_1


"Nanti biar kakak menyuruh Kak Jay aja buat nganterin kamu ke makam Kak Putri." ucap Nadia.


"Gak perlu kak, aku gak mau merepotkan Kak Jay." ujar Salsa.


"Gak merepotkan kog. Lagian kamu itu adik kakak satu-satunya yang artinya kamu juga jadi adik Kak Jay juga. Jadi wajar jika kakak dan Kak Jay memberikan perhatian buat kamu." ucap Nadia


"Iya sih kak. tapi aku gak enak sendiri rasanya. Kayak seringkali ngerepotin gitu. Seharusnya aku jadi tanggung jawab ayah dan ibu tapi malah Kakak n Kak Jay yang nanggung semua biayaku." ujar Salsa.


"Gak papa lagiankan kakak dan kak Jay hidupnya nggak kekurangan. Kakak dan Kak Jay masih sanggup memenuhi semua kebutuhan mu. Jadi jangan kamu fikirkan. Oh ya uang yang kakak kasih kurang gak, kalau kurag bilang aja. Nanti kakak tambahi." ucap Nadia.


"Uangnya lebih dari kata cukup kaka. Malah aku cuma menghabiskan uang 1 juta sampai 1,5 juta. Sedangkan sisanya aku tabung." ujar Salsa.


"Tabung dimana?" tanya Nadia.


"Di Koprasi kak." jawab Salsa.


"Syukurlah. Oh ya mending kamu istirahat aja, katanya nanti mau ke makan Kak Putri dan setelah itu langsung balik lagi ke pondok. Jadi sekarang istirahat dulu biar nanti gak pusing." ujar Nadia.


"Iya kak, aku istirahat dulu ya."

__ADS_1


"Iya dek"


Dan setelah itu, Salsa pun langsung pergi ke kamarnya sedangkan Nadia juga masuk ke dalan rumah dan duduk di ruang keluarga. Afnan sudah tak lagi menyusu, dirinya sudah tidur dan Nadia menaruhnya di sampingnya karena Nadia gak bisa jauh-jauh dari Afnan, takut jika Afnan kenapa-napa hingga Nadia pun menjaga Afnan 24 jam.


__ADS_2