Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Curhat


__ADS_3

Keesokan harinya Cinta bangun lebih dulu dari pada suaminya. Ia pun melihat jam di sampingnya, jam masih menunjukkan pukul setengah 3 pagi. Ia membangunkan suaminya dengan pelan.


"Sayang, bangun yuk." Ucap Cinta dengan pelan.


"Sayang, kita mandi bareng yuk lalu sholat tahajjud." Ucap Cinta sekali lagi.


"Cium aku dulu, baru aku mau bangun." Ucap Taufiq dengan mata yang masih terpejam. Cintapun memenuhi permintaannya, ia mencium kening suaminya tapi tiba tiba saja Taufiq menarik Cinta dalam pelukannya. Cinta tak menolak, ia pun membalas pelukan suaminya.


"Terima kasih sayang untuk tadi malam. Aku sungguh bahagia." ucap Taufiq mengingat tadi malam bagaimana istrinya melayani dia sampai benar benar puas.


"Tidak perlu bilang terima kasih sayang, sudah kewajibanku untuk melayanimu." balas Cinta dengan senyuman.


"Iya sudah, ayuk kita mandi bareng." Taufiq melepaskan pelukannya. Ia segera berdiri lalu menggendong Cinta dan membawanya ke kamar mandi. Cukup lama mereka berada di kamaar mandi hingga jam menunjukkan pukul 03.15..


Selesai mandi, mereka segera pakai baju lalu sholat tahajjud berjamaah. Setelah selesai merekapun ngaji bersama. Cinta yang mengaji, Taufiq yang menyimak. Setelah itu gantian, Taufiq yang mengaji, Cinta yang menyimak. Hingga tak terasa adzan shubuhpun berkumandang. Mereka segera sholat shubuh berjamaah di kamar. Setelah selesai sholat, Taufiq mengajak untuk lari pagi. Cinta tak menolak, sebenarnya ia benar benar malas tapi karena suami yang mengajak, iapun menurutinnya.


"Kalau capek bilang ya." ucap Taufiq ketika mereka sudah ada di depan rumah.


"Iya sayang." Taufiq dan Cintapun lari lari secara beriringan. Kadang kadang Taufiq memegang tangan istrinya. Setelah hampir 20 menit mereka lari, merekapun memilih untu mencari toko terdekat untuk membeli air mineral.


"Ini sayang, minum dulu biar gak haus." Taufiq memberikan sebotol air untuk Cinta. Cinta segera mengambil botol itu dan meminumnya lalu memberikan botol itu kepada Taufiq untuk meminumnya juga. Karena Taufiq cuma beli satu botol sehingga mereka harus gantian.


"Mas, setelah ini pulang ya. Aku mau masak."


"Iya sayang."


"Merekapun segera pulang ke rumah, tak lupa Cinta berbelanja dulu, ia belanja di tempat yang tak jauh dari rumahnya. OH ya kini Cinta dan Taufiq tinggal berdua di sebuah rumah yang tak terlalu mewah tapi cukup bagus dan layak untuk mereka berdua. Rumah itu ia beli dari hasil kerja Taufiq selama mengajar jadi dosen. Ia emang sengaja mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk beli rumah  agar ketika ia menikah, ia bisa membawa istrinya ke rumah itu jadi tidak harus kumpul sama orang tua lagi. Karena Taufiq ingin bertanggung jawab seutuhnya, ia ingin memenuhi semua kebutuhan istrinya tanpa harus di bantu oleh orang tua mereka. Taufiq ingin belajar mandiri, tidak melulu bergantung sama mama dan papanya.

__ADS_1


Sesampai di rumah, Cinta langsung mencuci tangan dan langsung pergi ke dapur. Pertama tama, ia membuat teh hangat untuk suaminya. Sebenarnya ia ingin bikin kopi tapi ternyata suaminya itu tidak suka minum kopi. Ia mau buat susu  tapi lagi lagi suaminya juga tidak menyukainya akhirnya ia memilih untuk bikin teh hangat. Setelah selesai bikin teh, Cinta langsung masak untuk dirinya dan juga suaminya. Di rumah ini tak ada pembantu, sopir atau tukang kebun. Jadi Cinta harus mengerjakan semuannya sendirian tapi Cinta tak masalah karena ia sudah terbiasa di rumahnya. Hanya butuh waktu satu jam buat Cinta memasak dan setelah itu semua makanan sudah ada di atas meja.


"Wau kayaknya enak nih. Makasih ya sayang." Ucap Taufiq, ia segera mengambil nasi dan lauk pauknya. Cinta hanya tersenyum memandang Taufiq, sungguh ia benar benar bahagia dengan pilihan orang tuanya. Mereka memang tidak salah pilihm Taufiq memang pria idaman. Hanya dalam semalam, ia sudah bisa membuat dirinya jatuh cinta dan melupakan rasa sakit itu.


"Kenapa gak makan, sayang?" tanya Taufiq. Melihat istrinya dari tadi hanya senyam senyum melihat ke arahnya.


"Iya sayang, ini mau makan."Cinta segera mengambil nasi  dan lauk pauknya lalu ia makan dengan lahap. Setelah mereka selesai makan, Cinta segera mencuci piring lalu duduk berdua sama suaminya di ruang tengah sambil nonton tivi. Cinta duduk di samping suaminya.


"Makasih ya, masakanmu enak. Kamu emang jago. Selain Cantik, Pintar, Sholehah, ternyata kamu juga jago masak. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu sayang." Ucap taufiq lalu memeluk istrinya dan mencium keningnya berulang ulang.


"Aku juga beruntung bisa menikah dengan mas Taufiq. Oh ya ada beberapa hal yang ingin aku katakan." ucap Cinta dengan nada was was.


"Katakan saja sayang."


"Mas setelah aku lulus sekolah, aku ingin kulyah. Menurut mas gimana?"


"Tapi bukankah mas ingin membantu usahanya papanya mas. Katanya mau jadi pengusaha."


"Itu bisa di atur sayang, mas bisa ngajar sambil bantu papa di kantor."


"Kalau aku kuliah sambil kerja, boleh gak?"


"Kenapa kamu harus kerja sayang, apa kamu takut aku gak bisa mencukupi kebutuhan kamu?" tanya Taufiq dengan nada kecewa."


"Bukan mas."


"Lalu?"

__ADS_1


"Sebenarnya dari aku SMP kelas 3, aku selalu membantu anak panti mas. Kasihan mereka, karna anak anak panti selalu kekurangan. Sehingga aku harus sekolah sambil kerja mas untuk bisa menyumbang setiap bulannya."


"Kamu sekolah sambil kerja?" tanya Taufiq.


"Iya mas, uang sakuku tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehingga aku kerja di kantor ayah. TApi gak setiap hari mas, hanya kadang kadang jika ayah butuh bantuan. Terus ketika ayah harus keluar kota, aku yang mengambil alih tugasnya. Sehingga dulu aku selalu sibuk mas, hampir gak ada waktu karena waktuku selalu aku habaiskan buat sekolah dan bekerja. Di rumah aku juga harus belajar, agar aku bisa mempertahankan prestasiku agar aku bisa membahagiakan kedua orang tuaku. Sekarang aku sudah nikah, ayah dan bunda tak mungkin lagi memberikan aku uang saku dan jika aku gak kerja bagaimana aku bisa bantu mereka mas. Aku sayang sama mereka semua. Mereka adalah kebahagianku mas." Ucap Cinta, tak terasa air matanya mengalir, ia gak bisa membayangkan nasib anak panti jika ia tak lagi membantu keurangan mereka. Taufiq yang mendengar cerita dari istrinya benar benar merasa terharu sekaligus bangga, ia tak menyangka betapa mulia dan betapa tulus hati istrinya. Ia mau membantu mereka yang lagi kesusahan.


"Kamu jangan hawatir sayang, mas akan bantu mereka. Kita akan menjadi donatur tetap di sana dan mas akan memberikan uang yang lebih agar hidup mereka semua cukup dan tak lagi kesusahan." Ucap TAufiq. Mendengar itu, Cinta langsung tersenyum dan memeluknya.


"Terima kasih mas, kau memang suami yang pengertian.  Aku tambah cinta sama kamu mas. Tapi mas?" ucap Cinta ragu ragu.


"Iya ada apa sayang. Bicaralah, mas akan mendengarkannya."


"Masih ada satu lagi mas?"


"Apa itu sayang?"


"Dulu aku pernah membantu seorang ibu ibu, Dia bersama anaknya. Waktu itu aku menemukan mereka di pinggir jalan, Anaknya sedang sakit, aku pun membawa ibu itu untuk memeriksa anaknya dan ternyata anaknya demam dan aku lihat mereka begitu kurus mungkin karena kurang makan. Akhirnya aku memutuskan mencarikan mereka kontrakan dan aku berjanji bahwa selama mereka tinggal di sana, aku yang akan bertanggung jawaab untuk membayar kontrakannya. Sebenarnya aku sudah memberikan mereka uang buat modal usaha buka warung di depan kontrakannya tapi keuntungan dari warung itu cuma sedikit hanya cukup buat mereka makan sehari hari. Jadi apa mas keberatan jika mas bantu aku untuk membayar kontrakan ibu itu?" tanya Cinta hati hati. Taufiq tersenyum lalu ia menjawab,


"Sedikitpun mas gak keberatan sayang. Bukankah dari rezeki yang kita terima, itu ada haknya mereka. Mas seneng jika kamu mau bantu mereka. Nanti tiap bulan mas akan transfer uang di rekening kamu. Nanti jika kurang, kamu tinggal bilang sama mas. Kamu jangan hawatir. JIka ada apa apa, kamu langsung bilang ya sama mas. GAk perlu di tutup tutupi. Kita harus saling terbuka."


"Makasih mas. Aku sayng sama mas."


"Aku juga sayang sekaligus bangga punya istri kayak kamu. Aku sangat bersyukur. Oh ya gimana kalau hari ini kita jalan jalan. Mas mau ke panti sekaligus ke rumah ibu yang kamu tolong itu."


"Baik mas, kalau gitu. Aku mau mandi dulu ya."


"Oke sayang."

__ADS_1


__ADS_2