Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Bunda dan Coklat dari pria lain


__ADS_3

Keesokan harinya, Jay mengantarkan kedua adik kembarnya sampai di depan kampus. Melihat Ani dan Ana turun dari mobil, Ica pun langsung menghampiri tapi betapa kecewanya dia kalau yang mengantarkan Ani dan Ana kali ini bukanlah Pram melainkan Jay. Wajah Ica yang tadinya cerita pun langsung murung seketika beda dengan Ila yang senyum senyum sendiri melihat Jay yang menatap ke arah dirinya. Dan setelah sekian detik saling tatap tatapan,  Jay pun langsung menancapkan gas meninggalkan keempat gadis yang menatap kepergiaannya.


"An, kog yang ngantarkan bukan Mas Pram sih?" tanya Ica kesal.


"Kak Pram sibuk jadi gak bisa antar jemput aku." Jawab Ani tersenyum.


"Kak Ica kenapa? Pagi pagi kog udah cemberut?" tanya Ana yang harus terbiasa memanggil Ica dan Ila dengan sebuta kakak bukan lagi nama atau kamu apalgi Lo. Hehe............


"Paling dia lagi datang bulan makanya wajahnya cemberut gitu kayak Kak Pram aja. Dari kemaren pulang dari Mall, wajahnya di tekut mulu. Gak ada cerianya sama sekali. Heran aku. Apa mungkin kalian jodoh ya?" tanya Ani ceplas ceplos.


Ica yang mendengar ucapan Ani langsung tersenyum seketika.


"Emang Mas Pram cemberut kenapa?" tanya Ica mulai kepo.


"Entahlah, aku juga gak tau. Pokok pulang dari Mall, Mas Pram gak lagi ceria kayak orang lagi patah hati aja. Dan sekarang kamu juga gitu, tadi cemberut tapi sekarang kayak orang kepo. Heran daku." Ucap Ani


"Sudahlah gak usah bahas Mas Pram di sini. Nanti dia bersin bersin mulu karena kita gosipin dia terus." Ujar Ana.


"Iya udah kita ke mana nih enaknya?" tanya Ila yang dari tadi diam.


"Kak Ila masuk kulyah jam berapa?" tanya Ana.


"Jam 8.20." Jawab Ila.


"Kak Ica masuk kuliah jam berapa?"


"Jam 8.00. Kalian sendiri masuk kuliah jam berapa?" tanya Ica


"Jam setengah delapan." Jawab Ani dan Ana bersamaan.


"Masih ada waktu. Ini juga masih jam 7 lewat lima kan. Kita ngumpul ngumpul dulu yuk di taman samping kampuss." Ujar Ila.


"Iya udah ayo." Ujar Ana.

__ADS_1


Mereka berempat pun pergi ke taman kampus. Namun saat jalan baru beberapa langkah. Seorang laki laki datang menghampiri.Ica.


"Ica?" Panggi laki laki itu.


"Apa?" Jawab Ica cuek n jutek.


"Ini buat kamu." Ujar Brian sambil memberikan bunga mawar + Kue coklat berbentuk love


"Makasih." Ucap Ica sambil mengambil bunga dan kue dari tangan Brian. Brian tersenyum karena hadiah yang ia beli akhirnya di terima oleh wanita pujaan hatinya.


"Sama sama. Mau kemana?" tanya Brian sok akrab.


"Ke taman." Jawab Ica yang masih aja cuek.


"Aku boleh ikut?" tanya Brian.


"Gak." Jawab Ica tegas.


"Iya sudah gak papa kalau aku gak boleh ikut. Aku ke kantin dulu ya." Ucap Brian, lalu ia pun pergi meninggalkan Ica dan teman temannya.


"Masa bodo' yang penting aku gak suka dia." Jawab Ica.


"Kalau gak suka kenapa bunga dan coklatnya di ambil." Ujar Ila.


"Aku gak mau bikin dia malu karena di liatin oleh banyak orang. Liat nah di sekelilingmu. Kalau sampai aku gak menerimanya pasti Brian akan sangat malu sekali." Jawab Ica, walau dia gak suka sama cowok yang suka terang terangan atau secara sembunyi sembunyi menyimpan perasaaan terhadapnya tapi bukan berarti ia tega mempermalukan mereka. Bagaimanapun Ica juga harus memikirkan hati dan perasaan mereka.


"Iya juga ya........Aku dari tadi gak fokus ke sekelilingku. Aku cuma fokus melihat kamu dan Brian hehe. Aku boleh minta coklatnya gak?" tanya Ila.


"Nih ambil kamu aja." Jawab Ica sambil memberikan coklat dan bunga untuk Ila.


Sampai di taman, Ila membuka coklatnya.


"Wow, enak banget nih." Ujar lla. Ia pun mengambil satu coklat lalu ia makan dengan begitu lahapnya. 'Ani dan Ana ikut ikutan ngambil coklatnya dan memakannya.

__ADS_1


"Iya enak banget." Ucap Ani senang.


"Kamu gak mau nyoba?" tanya Ila yang melihat Ica hanya diams saja.


"Aku gak suka coklat." Jawab Ica.


"Sejak kapan kamu gak suka coklat. Bukannya kamu paling hobi kalau di suruh makan coklat." Ucap Ila.


"Aku emang suka tapi aku gak suka jika itu pemberian dari cowok yang gak aku suka dan hanya ngambil perhatianku saja; Menjijikkan." Ucap Ica.


"Gak boleh gitu, jangan membenci orang berlebihan. Nanti kakak jatuh cinta sama dia loh." Ucap Ana.


"Amit amit. Aku gak mau dan jangan sampai deh." Ujar Ica.


"Emang kenapa, dia baik, pintar, tampan, kaya, baik hati, lemah lembut, sopan. Apa lagi?" tanya Ani.


"Aku gak cinta sam dia. Itu masalahnya." Ucap Ica kesal.


"Kalau gitu belajar untuk mencintai dia." Ujar Ani asal ceplas ceplos.


"Gak bisa karena hatiku dan cintaku sudah di miliki oleh orang lain." Jawab Ica.


"Oh gitu, bilang dong dari tadi. Kalau sudah ada laki laki lain di hati kakak. Ya berarti kakak harus tegas sama cowok yang mendekati kakak biar mereka gak salah tafsir dengan sikap kakak. Jangan seperti tadi, kalau kakak seperti tadi itu sama saja kakak ngasih harapan ke cowok barusan." Ucap Ana.


"Tapi kan tadi aku sudah cuekin dia." Ucap Ica membela diri.


"Walau kakak cuek tapi tetep aja mereka masih naruh harapan jika kaka gak bilang dengan terus terang kalau kaka sudah mencintai pria lain biar mereka bisa mundur dan gak berharap lagi sama kakak. Kasihan loh jika mereka menaruh rasa sama kakak tanpa kakak memberikan kejelasan apapun." Jawab Ani.


"Nah tumbern Ani dan Ana bener omongannya." Puji Ila yang merasa bahwa apa yang di ucapkan oleh Ani dan Ana itu benar.


"Aku dari dulu emang selalu benar dan gak pernah salah. Karena apa yang aku ucapkan sudah aku fikir dan aku saring. Jadi aku gak asal ceplas ceplos dalam menasehati orang. Walau umurku masih 13 tahun lebih dikit tapi bukan berarti aku gak ngerti dengan urusan orang dewasa." Ucap Ani.


"Iya ya kalian emang pintar dan selalu benar." Ucap Ila mengalah karena ia gak mungkin bisa menang berdebat dengan Ani dan Ana.

__ADS_1


"Baiklah, besok aku akan tegas sama mereka semua." Ucap Ica.


"Nah gitu dong. Itu baru Kak Ica yang cantik dan penuh dengan ketegasan." Puji Ani sambil memeluk Ica.


__ADS_2