Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Pram dan Ica


__ADS_3

Sepulang Pram kerja, ia langsung di sambut oleh Ica. Ica membantu suaminya untuk melepas kaos kaki dan sepatunya. Lalu mengambil tas kerja suaminya dan menaruhnya di meja kerja sang suami. Ica juga membantu membuka jas suaminya dan membuka setiap kancing yang melekat di tubuhnya dan melepas baju yang berwarna biru polos. Setelah itu Ica pun mengambil baju santainya untuk Pram.


Setelah itu, Ica langsung menyiapkan makanan dengan di bantu asisten rumah tangganya dan menemani Pram makan bareng. Sesekali Pram menyuapi istrinya makan begitupun dengan Ica.


Selesai makan, Pram dan Ica pun duduk di ruang keluarga.


"Sayang, gimana perkembangan Mas Wil?" tanya Ica memecahkan keheningan.


"Dia masih tetep begitu sayang. Dingin, tak lagi ceria seperti dulu. Ia masih berharap kalau istrinya kembali lagi dalam pelukannya. Sampai sekarang juga ia masih mencari keberadaan istrinya. Will juga jarang berbicara dengan mas ataupun keluarga yang lainnya. Will lebih suka diam. Dia keluar hanya jika ada jadwal operasi, rapat, dan mencari keberadaan Aisyah. Jika gak ada urusan lagi, ia akan pulang dan mendekam di dalam kamarnya sambil memeluk foto istrinya. Mas sudah bingung bagaimana agar mas bisa mengembalikan keceriaan Will. Bunda juga mencoba untuk mencari pengganti Aisyah, namun bukannya Will senang. Ia malah marah sama bunda dan membentak bunda." Ucap Pram sedih.

__ADS_1


"Sabar ya mas. Aku percaya kelak Mas Will pasti bisa melalui semua ini. Semuanya hanya butuh waktu. Kelak Mas Will pasti bisa menemui kebahagiannya. Kita juga gak perlu terus menerus menjodohkan Mas Will dengan wanita di luaran sana. Aku tau jika niat bunda itu dan sekeluarga itu baik. Ingin membuat Mas Will lupa dengan keberadaan Aisyah di hatinya tapi kan itu gak gampang apalagi Aisyah adalah cinta pertamanya. Selama ini Aisyah selalu ada di dekatnya dan sudah mengisi hari harinya lalu bagaimana mungkin dengan mudahnya Mas Will bisa melupkan sosok orang yang begitu dekat dengannya, yang sudah rela memberikan semuanya demi Mas Will. Mencintai orang itu gampang tapi untuk melupakannya itulah yang susah. Biarlah Mas Will yang menentukan bagaimana jalan hidupnya ke depannya. Selama dia tidak melakukan hal hal yang aneh, kita tetep diam dan melihatnya dari jarak jauh. Jika dia butuh bantuan, maka kita sebagai keluarga harus siap membantunya. Jika dia salah arah, kita harus menasehati dan mengingatkannya. Jika dia melakukan kesalahan, kita bisa meneger dan memberikan arahan padanya. Tapi selama dia tidak melakukan apapun yang merugikan dirinya, biarlah. Biarkan dia melakukan hal hal sesuai dengan apa yang ada di hatinya. Yang penting kita terus berdoa agar tuhan memberikan yang terbaik untuk nya dan memberikan kebahagiaan untuk dia." Ucap Ica menasehati Pram.


"Sekarang kamu sudah bisa ya memberikan nasihat kepada Mas." Goda Pram.


"Sekarang, aku kan bukan anak kecil lagi mas. Aku sudah menjadi seorang istri dan bentar lagi aku akan menjadi seorang ibu. Jadi aku gak boleh lagi bersifat kekanan kanakan. Aku harus bisa bersikap dewasa dan berfikir dewasa." ucap Ica tersenyum.


"Uh, mas sangat beruntung sekali mempunyai istri seperti kamu sayang." ucap Pram.


"Besok kita jalan jalan yuk." Ajak Pram. Sejak Will kecelakaan, gak pernah sekalipun Pram mengajk istrinya jalan jlaan karena ia di sibukkan dengan menjaga Will dan mencari kakak iparnya. Sekarang Will sudah sembuh dn bisa bekerja lagi. Jadi Pram tidak harus menjaga Will terus, ia bisa mengajak istrinya jalan jalan mumpung besok hari Minggu. Karena hari seninnya ia akan sebuk lagi untuk mencari nafkah sampai hari sabtu.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Ica antusias karena ia juga bosen di rumah terus.


"Ke mana aja terserah kamu dah yank." Ucap Pram.


"Kita ke rumah mama dan papa aja yuk. Kita sudah lama gak ke sana. Nanti pulangnya kita mampir ke resto untuk makan bareng lalu kita bisa mampir ke Mall untuk mencari barang barang untuk anak kita kelak setelah ia lahir." Ujar Ica memberi ide.


"Oke, mas setuju." Ucap Pram senang.


"Iya sudah sekarang kita istirahat yuk. Mas capek seharian kerja, apalagi jadwalnya padat sampai mas gak bsia istirahat sejennak." Ujar Pram.

__ADS_1


"Ayo." Ica pun mengiyakan ajakan suaminya walau sebenarnya ia belum ngantuk sama sekali.


__ADS_2