
Setelah masuk ke dalam kamar, Cinta dan Taufiq tidak langsung tidur karena mereka juga gak terlalu ngantuk banget.
Akhirnya Taufiq pun mengungkapkan uneg-uneg yang ia rasakan sejak tadi, saat mereka bermusyawarah tentang kepergian dirinya dan sang istri keluar negeri.
"Yank, apa kita batalin aja ya keluar negeri nya?" tanya Taufiq
"Emang kenapa mas? Kenapa tiba-tiba mas ingin membatalkan acara pergi keluar negerinya?" tanya Cinta shok karena tak menyangka bahwa suaminya akan berbicara seperti itu. Sedangkan semuanya sudah di bicarakan baik-baik dengan anak dan menantunya, dan mereka semua pun setuju. Lalu apakah yang membuat suaminya itu tiba-tiba ingin membatalkan acara pergi keluar negerinya sedangkan semuanya sudah di fikirkan secara matang-matang.
"Karena tadi aku melihat Will seperti merasa berat banget menerima keputusan kita. Dia seakan gak ikhlas membiarkan sang istri bekerja di resto menggantikan posisi kita tuk sementara waktu. Kamu tau sendiri, dulu Will pernah kehilangan istrinya dan sejak saat itu Will menjaga istrinya dengan sangat baik. Apalagi ketika Will punya anak, Will menjaga mereka dengan sangat ekstra, karena Will ingin selalu memberikan yang terbaik buat mereka, anak dan istrinya. Bahkan Will selalu menjadikan mereka berdua sebagai perioritas nya. Nah tiba-tiba kita minta tolong, agar Aisyah menjaga resto yang entah sampai kapan. Karena kita juga tak tau berapa lama kita akan tinggal di luar negeri.
Jujur itu sangat berat buat Will, karena jika resto kita ada masalah. Mau gak mau, Aisyah pasti akan bekerja keras bahkan kalau perlu, Aisyah juga akan seringkali pergi keluar kota.
Aisyah juga akan jauh dari putranya. Padahal Will sampai menyuruh Aisyah berhenti kerja beberapa kali, hanya takut Aisyah kelelahan dan Will juga takut, Khaleed akan kekurangan kasih sayang. Apalagi saat ini Aisyah sedang program kehamilan.
Entah kenapa, aku merasa Will begitu berat dengan permintaan kita. Hanya saja karena ia gak mau mengecewakan kita, makanya ia menyetujui dan mengiyakan permintaan kita. Tapi, entah kenapa aku merasa bersalah. Aku seperti sudah menabur luka di hati mereka berdua.
__ADS_1
Sedangkan aku melihat Arsha, dia seperti acuh tak acuh dengan usaha yang di Amanahkan kepadanya. Arsha seperti tak ada rasa tanggung jawab sendiri. Mungkin kalau kelak restonya bangkrut pun, Arsha juga tak kan peduli.
Aku tau Arsha sangat sedih, tapi ini sudah berbulan-bulan lamanya. Apakah gak ada sedikitpun ia mau berubah? Ia hanya sibuk mengurus Arshi, Arshi dan Arshi. Aku tau Arshi itu sangatlah penting, tapi apa mesti seperti ini sedangkan hidup terus berjalan.
Jika kita gak membantu dia, apakah resto akan tetap bertahan sampai sekarang. Aku rasa hanya dalam hitungan beberapa bulan pasti akan jatih bangkrut dan keuangan dia juga akab menipis dan setelah itu apa? Dia gak akan bisa mengurus Arshi jika ia gak punya sedikit uang buat menghidupi dirinya sendiri apalagi putrinya.
Ingin rasanya, aku mengatakan hal ini tapi gak bisa karena aku takut di kira mengatur kehidupannya." ujar Taufiq mengungkapkan isi hatinya kepada sang istri.
"Sabar mas. Itu kan hanya firasat mas saja. Aku yakin Will gak punya fikiran seperti itu. Aku lihat Will dan Aisyah biasa aja dan untuk Arsha. Memang dia sedikit egois tapi ya sudahlah, bagaimanapun dia sudah menjadi menantu kita, menjadi ayah dari cucu kita bahkan dia juga selalu membahagiakan putri kita hingga akhir hayatnya. Sudahlah jangan di bahas.
Lebih baik kita tidur sekarang, ini juga sudah malam. Besok pagi kita harus berangkat habis sholat shubuh." ujar Cinta yang selalu berfikir positif.
Akhirnya Taufiq pun segera berbaring di tempat tidur sambil memeluk istrinya hingga Cinta pun terlelap di dalam pelukannya. Sedangkan Taufiq ia gak bisa tidur, ia terus memikirkan perasaan Will.
Taufiq seakan mengerti bagaimana perasaan putranya saat ini tapi dirinya juga gak bisa berbuat apa-apa. Ia gak bisa membatalkan acara pergi keluar negeri karena bagaimanapun, Cinta pasti gak mau, apalagi ini sudah di fikirkan jauh-jauh hari.
__ADS_1
Tapi Taufiq juga gak mau membebani Will, ia sangat kasihan padanya.
Gara-gara memikirkan itu semua, Taufiq sampai gak bisa tidur hingga adzan shubuh berkumandang.
Taufiq segera bangun lalu mandi agar tubuhnya segar. Setelah selesai mandi, ia membangunkan istrinya.
"Yank, bangun. Sudah adzan Shubuh." ujar Taufiq.
"Iya mas." jawab Cinta.
Cinta pun segera bangun untuk mandi. Selesai mandi, ia segera memakai baju. Dan setelah itu mereka pun sholat berjamaah di kamar.
Selesai sholat, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke bandara. Mereka ingin berpamitan kepada Arsha namun karena mereka melihat kamar Arsha masih tutup, mereka pun mengira Arsha masih tidur dan mereka gak mau ganggu. Akhirnya Taufiq dan Cinta hanya menitip salam kepada asisten rumahnya.
Setelah itu mereka pun pergi ke Bandara, dengan di antar oleh sang sopir.
__ADS_1
Jujur di dalam hati Taufiq, sedikit kecewa karena di saat kepergian nya menuju luar negeri, Arsha bahkan tak menampakkan batang hidungnya.
Tapi ya sudahlah, Taufiq mencoba untuk mengerti dan tak mau membesar besarkan masalah ini.