Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Di kediaman rumah Will


__ADS_3

Will sudah sampai rumah, ia segera mencari istrinya yang kini lagi ada di ruang keluarga.


"Assalamu'alaikum sayang." Ucap Will sambil mencium kening istrinya lalu duduk di samping istrinya.


"Waalaikum salam." Jawab Aisyah tersenyum, senyuman manis yang selalu membuat Will ingiin sekali mencium bibirnya dan mengemutnya secara pelan, pasti akan terasa lembut dan manis. gumam Will.


"Sayang, kog bengong. Ada apa?" tanya Aisyah membuyarkan lamunan Will.


"Enggak ada. Oh ya kamu sudah makan?" tanya Will lembut.


"Belum. Aku nunggu kamu." Jawab Aisyah tersenyu. Sebenarnya Will sudah makan tadi di rumah bunda tapi karena ia tak ingin mengecewakan istrinya, ia pun mengiyakan ajakan sang istri.


"Iya sudah ayo kita makan bareng." Ucap Will sambil menggendong sang istri menuju ruang makan.


"Turunkan aku. Aku berat." Ujar Aisyah malu karena ia di gendong layaknya anak kecil.


"Gak berat kog. Lagian walaupun berat, aku pasti bisa gendong kemanapun kamu mau. Aku kan kuat." Goda Will sambil menurunkan Aisyah dan menarik salah satu kursi agar Aisyah bisa duduk dengan tenang dan nyaman. Setelah itu Will pun duduk di dekat sang istri.


"Wow, ini siapa yang masak?" tanya Will.


__ADS_1


"Aku tapi di bantu oleh seseorang." Jawab Aisyah tersenyum.


"Siapa orangnya?" tanya Will penasaran.


"Bi Jumi." Jawab Aisyah.


"Siapa dia sayang?" tanya Will.


"Dia pembantu kita mulai hari ini." Jawab Will.


"Kamu nemu orang itu dimana?" tanya Will lebih lanjut.


"Baiklah, aku terserah kamu aja. Selama kamu senang dan bahagia, apapun keputusanmu dan apapun yang kamu lakukan. Aku akan dukung kamu. Nanti kita gaji dia sebulan sekali sama seperti yang lainnya." Jawab Will tersenyum.


"Makasih sayang. Aku bahagia mempunyai suami sepertimu, kamu sangat baik dan perhatian. Aku bersyukur karena Allah mempertemukan kita dan menyatukan kita dalam ikatan yang halal." Ucap Aisyah sambil memeluk sang suami.


"Aku lebih bersyukur karena tuhan memberikan aku seorang istri yang baik hati dan penurut seperti kamu." Ujar Will membalas pelukan sang istri.


"Iya sudah ayo makan, jangan peluk pelukan melulu." Ucap Will.


"Iya."

__ADS_1


Merekapun makan bersama dan sesekali Will menyuapi sang istri. Setelah selesai makan, Will langsung menatap makanan di atas meja yang masih tersisa banyak.


"Sayang, ini makanan masih banyak. Lalu mau kamu apain?" tanya Will.


"Aku akan kasihkan ke asisten kita terus sebagian lagi, akan aku kasih ke tetangga sebelah yang kurang mampu. Nanti aku akan minta Bi Jumi mengantarkannya." Jawab Aisyah tersenyum.


"Oh gitu, iya sudah gak papa." Ucap Will.


"Aku kekamar dulu ya mau mandi." Ujar Will.


"Iya. Nanti aku juga akan ke kamar, menyiapkan bajunya. Sekarang aku mau beresin ini dulu." Ucap Aisyah. Ia mengumpulkan piring piring kotor dan menaruhnya di tempat cucian. Setelah itu, ia memanggil Bi Jumi.


"Bi?" panggil Aisyah.


"Iya non." Jawab Bi Jumi.


"Ini makanan banyak banget. Makanan ini untuk bibi dan anaknya bibi. Nanti kalau masih ada, bibi bisa kasihkan ke tetangga sekitar sini yang kurang mampu. Pokoknya jangan sampai ada yang terbuang ya bi. Soalnya kita gak boleh membuang makanan. Oh ya ini ada uang satu juga, ini buat bibi buat beli baju baru untuk bibi dan anak bibi. Bibi gak mungkin kan menggunakan baju itu." Ucap Aisyah melihat baju Bi Jumi dan anaknya yang sangat kotor.


"Terima kasih non." Jawab Bi Jumi sambil mengambil uang yang di berikan oleh Aisyah.


"Kalau gitu, aku ke atas dulu ya bi. Mau menyiapkan baju buat suami saya. Nanti jika ada waktu, akan saya kenalkan bibi dengan suami saya." Ucap Aisyah lalu pergi meninggalkan Bi Jumi dan anaknya. Bi Jumi sangat senang karena mendapatkan majikan yang sangat baik hati.

__ADS_1


__ADS_2