Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Akan Segera Pindah Rumah


__ADS_3

Di Mall, Taufiq mentraktir Naila untuk beli apa aja. Tapi Naila hanya beli es krim dan


permen kapas. Taufiq hanya menggeleng gelengkan kepala. Naila masih aja gak


berubah tapi ya sudahlah selama itu bisa membuat Naila bahagia, itu gak jadi


masalah. Setelah keliling sana sini, akhirnya mereka memilih untuk pulang ke


RESTO.


Di sepanjang jalan Naila tidur di dalam mobil Taufiq dan Taufiq pun tidak berani


menganggu tidur Naila yang terlihat sangat nyenyak apalagi ketika Taufiiq ingat


ucapan Naila tadi pagi bahwa Naila semalaman gak tidur gara gara pesanan yang


terlalu banyak darinya.


Setelah sampai di depan RESTO, barulah Taufiq membangunkan Naila dengan pelan.


“Sayang, bangun. Udah sampai nih.” Ucap Taufiq pelan.


“Hemm.” Ujar Naila. Ia mencoba untuk membuka matanya sedikit demi sedikit. Setelah ia


benar benar sadar dari tidurnya, barulah ia tersenyum ke arah Taufiq.


“Maaf ya ketiduran.” Imbuh Naila.


“Iya gak papa. Sekarang kamu turun aja, bunda  kamu pasti hawatir karena tadi kamu pergi terlalu lama. Oh ya jangan lupa bilang ke bunda kalau nanti malam kamu akan pindah rumah dan bilang juga


ke bunda kalau besok kamu akan belikan dia rumah yang tak jauh dari  RESTO ini. Oke. Nanti habis isya, aku akan


kembali ke sini untuk jemput kamu.” Ucap Taufiq.


“Oke, kalau gitu aku keluar dulu ya. Kamu hati hati di jalan. Jangan ngebut ngebut. Jangan


jadikan aku janda muda hehe.”


“Siap bos, tak akan ku biarkan istrikku jadi janda muda hehe. Iya sudah, aku pergi dulu


ya. Assalamu’alaikum.”

__ADS_1


“Waalaikumsalam.” Ucap Naila. Ia segera turun dari mobil dan setelah ia turun, Taufiq pun


langsung pergi meninggalkan Naila yang terus senyum kepadanya sampai mobil itu


lenyap tak terlihat.


Naila masuk ke dalam restoran dengan wajah yang penuh dengan kebahagiaan bahkan semua


pegawai RESTO sampai terheran heran melihat atasannya yang terus mengumbarkan


senyum. Naila menemui sang bunda dan mengajak bunda untuk naik kelantai 3.


“Bun?” panggil Naila.


“Iya sayang, ada apa?” tanya Inah.


“Nanti malem, aku berencana untuk pindah rumah. Soalnya aku ingin pindah ke tempat


yang lebih dekat dengan kampusku. Aku kan selama ini sering bolos kuliah demi


RESTO dan berhubung RESTO sudah mulai berkembang jadi aku bisa menitipkan RESTO


juga akan pindah dari RESTO ini. Aku akan belikan bunda rumah di dekat RESTO


jadi bunda gak akan tidur di RESTO ini lagi. Dan nanti lantai 3 ini akan di


buat untuk pelanggan, kan masih banyak setiap harinya yang kekurangan kursi.


MEnurut bunda gimana?” tanya Naila.


“Iya jika menurut kamu itu baik, ya bunda gak papa sayang. Bunda akan nurut.”


“Syukurlah kalau gitu bun. Oh ya untuk RUKO yang kita tempati ini, aku sudah bayar ke


Naila tadi pagi. Aku sudah mentrasnfer uang 1 Miliar ke dia dan aku juga udah


membeli RUKO di sebelah RESTO ini jadi besok bunda dan pegawai lainnya bisa


bantuin aku untuk membereskan ruko di sebelah. Aku juga akan menambah karyaawn


sepuluh lagi. Jadi nanti semua karyawan sama yang di sini ada 25 orang. Nah

__ADS_1


berhubung ke depannya, aku akan sibuk jadi aku butuh bantuan dari Bunda untuk


mengatur semuanya. Bunda mau kan?” tanya Naila.


“Iya bunda mau sayang.”


“Oh ya besok selain aku beliin bunda rumah, aku juga akan bikinin bunda rekening jadi


nanti keuntungan RESTO ini, 25 persennya akan aku kirim ke rekening bunda setiap


bulannya jadi jika bunda butuh apa apa, bunda tinggal beli aja sesuai keinginan


bunda.”


“Tapi kenapa sampai 25 persen sayang, apa itu gak kebanyakan?”


“Enggak kog bun.”


“Baiklah terserah kamu. Terus nanti kamu akan berangkat jam berapa dari sini sayang.”


“InsyaAllah habis sholat isya’ bun. Nanti RESTO nya bunda aja ya yang nutup.”


“Iya sayang.”


“Iya sudah sekarng bunda istirahat aja deh, bunda pasti sibuk banget kan biar Naila aja


yang kerja.”


“Tapi sayang, bunda gak capek kog.”


“Walaupun bunda gak capek, bunda tetep harus istirahat karena Naila gak ingin jika bunda


sakit karena kelelahan. Oke.”


“Oke deh, bunda akan nurut sama putri bunda yang sangat cantik ini.”


“Iya sudah, aku turun dulu ya bun.”


“Iya sayang.”


Naila pun segera turun dan membantu pegawainya untuk melayani para pelanggan.

__ADS_1


__ADS_2