Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Cari Kontrakan


__ADS_3

Cinta kembali ke kelas, di sana ia melihat Elsa yang lagi bercanda bareng Ivan. Cinta berusaha untuk bersikap sebiasa mungkin agar mereka tidak tau apa yang kini sedang ia rasakan. Cinta tersenyum dan bergabung sama mereka.


"Lagi ngobrol apa sih, seru banget kayaknya." Ucap Cinta.


"Ini loh, Ivan lagi bercerita tentang masa kecilnya pas dia jadi anak nakal. Ternyata dulu ia sering mengambil mangga punya tetangganya dan akhirnya ia ketahuan. Lalu Ivan lari terbirit birit bersama teman temannya dan gak sengaja jatuh ke sungai. Dan sampai rumah, ia dapat hukuman karena bajunya yang basah. Ia di suruh ngaji sehari semalam tanpa henti." Jawab Elsa sambil tertawa tiada henti. Ivan cuma terdiam mendengarkan omongan Elsa.


"Owallah, aku fikir ada apa."


"Kamu dari mana tadi, aku dan Ivan nunggu kamu loh di kantin. Tapi kamu malah gak datang datang."


"Aku ada di taman belakang."


"Sama siapa?" tanya Elsa


"Sama Kak Alvin." Jawab Cinta.


"Oh..." Hanya itu yang keluar dari mulut Elsa. Sedangkan Ivan yang mendengar Cinta bareng Alvin di taman belakang merasa cemburu. Padahal ia selalu berusaha untuk bisa ngobrol berdua sama Cinta tapi kenapa Cinta malah berduaan sama dia. Ivan merasa kesal, benar benar kesal. Ia pun memilih untuk cabut dari kelas itu.


"Loh Van, kamu mau kemana. Ini sudah masuk, loh." tanya Elsa yang melihat Ivan membawa tasnya keluar dari kelas.

__ADS_1


"Mau pulang." Jawab Ivan lalu lari menuju parkiran. Cinta hanya menatapnya dengan perasaan yang tak menentu. Elsa ingin sekali mengejarnya tapi bu guru sudah lebih dulu masuk kelas sehingga dengan terpaksa ia kembali duduk dan mengikuti pelajaran bahasa indonesia.


Jam istirahat kedua, Elsa dan Cinta memilih berdiam diri di kelas. Karena kebetulan mereka sama sama lagi datang bulan sehingga mereka tidak perlu pergi ke musholla untuk sholat berjamaah.


"Cin, kamu merasa ada yang aneh gak sih dengan Ivan. Masa gak ada angin, gak ada hujan. Tiba tiba ia keluar dari kelas tanpa ngasih tau alasannya bahkan tadi aku lihat wajahnya merah seperti nahan amarah."


"Aku mana tau, El. Biarlah mungkin dia emang lagi ada masalah. Dan ia butuh waktu sendiri."


"Iya sudahlah, tapi jujur aku takut ia kenapa napa."


"Kamu doakan aja biar dia gak kenapa napa." Jawab Cinta sekedarnya.


Merekapun lagi lagi diam dan sibuk dengan fikiran masing masing.


--------------------------------


Jam 13.00 bell berbunyi pertanda pulang. Cinta segera pergi ke kantor, di tengah perjalanan ia melihat ada seorang ibu ibu dan anak kecil yang menangis. Cintapun turun dari mobil dan menanyakan ada masalah apa sehingga mereka menangis di jalan. Ibu itu menceritakan bahwa anaknya lagi sakit dan ia tak punya uang untuk membawa anaknya ke rumah sakit. Ia sudah meminta pertolongan kepada orang sekitar tapi tak ada yang mau membantunya. Ia juga tidak punya pekerjaan dan dengan terpaksa ia harus mengemis karena sudah bingung harus melamar kerja di mana lagi karena tak ada satupun yang mau menerimannya. Saat Cinta nanya tempat tinggalnya dimana, ibu itu menjawab bahwa ia tidak punya rumah, ia tinggal di emperan toko. Lagi lagi Cinta merasa hatinya begitu sakit. Iapun menolong ibu itu. Cinta membawa mereka ke rumah sakit untuk menolong anaknya. Sesampai di rumah sakit, anak kecil itu segera di periksa oleh seorang dokter.


"Gimana dok keadaanya, apakah ia baik baik saja?" tanya Cinta penuh rasa hawatir sedangkan ibu itu hanya bisa menangis.

__ADS_1


"Dia cuma deman, saya akan tuliskan resepnya agar bisa menurunkan panasnya."


"Baik dok." Cinta mengambil kertas yang berisi resep obat. Lalu menebus obat itu di apotik. Setelah selesai, Cinta membawa mereka untuk mencari kontrakan. Setelah berkeliling akhirnya Cinta menemukan kontrakan yang pas, tidak terlalu kecil tapi juga tidak terlalu besar.


"Ibu, mulai hari ini. Ibu dan anak ibu bisa tinggal di sini. Jangan mikirkan masalah uang kontrakannya, karena saya yang akan membayar semuannya termasuk uang listrik."


"Makasih, nak. Kamu sangat baik. Semoga Allah membalas kebaikanmu."


"Amin. Oh ya, ini juga ada sedikit uang buat ibu. Semoga uang ini bisa buat modal ibu untuk buka warung kecil kecilan di sini. Jika ibu butuh apa apa, ibu bisa telvon saya. INi nomer saya." Cinta memberikan kartu namanya kepada ibu itu.


"Sekali lagi terima kasih nak, kamu sangat baik. Kamu sudah bantu ibu membawa anak ibu ke rumah sakit bahkan menebus obatnya. Sekarang kamu bantuin ibu mencari kontrakan dan membayarnya, sekarang kamu juga memberikan ibu uang buat modal buka warung. Ibu tidak tau lagi harus ngomong apa. Ibu hanya bisa bilang, terima kasih banyak."


"Sudah bu, ibu gak perlu bilang terima kasih kepada saya. Saya hanya perantara, lebih baik ibu berterima kasihlah kepada tuhan. karen DIA yang bantu ibu dengan menggerakkan hati saya untuk menolong ibu."


"Ya nak, mulai hari ini ibu berjanji. Ibu tidak akan lagi meninggalkan kewajiban ibu sebagai umat muslim. Ibu juga akan membantu mereka yang juga lagi kesusahan." Ucap ibu itu yang bernama WATI. Cinta hanya tersenyum mendengarnya.


"Ibu saya gak bisa lama lama, saya harus pergi ke kantor. Semoga ibu betah tinggal di sini. Saya pamit ya bu, Assalamamu'alaikkum."


"Wa'alaikum salam." Ucap ibu itu lalu masuk ke dalam rumah kontrakannya.

__ADS_1


Cinta segera melajukan mobilnya menuju kantor. Untunglah tadi pagi ayahya memberikan dia uang sebesar 10 juta, jadi bisa membantu ibu itu dan sekarang uang itu cuma sisa satu juga. Semoga uang ini cukup untuk seminggu ke depan sampai kedua orang tuanya pulang.


__ADS_2