Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Pamit Untuk Pergi


__ADS_3

Setelah kepergian Taufiq dari RESTO tak lama kemudian datanglah Elsa dengan wajah yang


sumringah.


“Gimana hari ini rame gak?” tanya Elsa.


“Iya Alhamdulillah rame banget.”


“Syukurlah. Aku senang dengarnya. Maaf ya seharian ini aku gak bisa bantu karena harus ada


presentasi.”


“Iya gak papa. Gimana presentasinya, dapat nilai bagus gak?” tanya Naila.


“Tentu. Siapa dulu Elsa gitu loh mana mungkin aku dapat nilah jelek.”


“Syukurlah, gak sia sia berarti kamu belajar tadi malam. Oh ya kita ngobrol di ruanganku


yu. Ada yang ingin aku obrolkan.” Ucap Naila.


“Oke.”


Mereka berduapun langsung pergi menuju ruangan Naila.


Elsa : “Ada apa Nai, kayaknya penting banget deh?”


Naila : “Aku ingin minta no rekeningmu.”


Elsa : “Untuk apa?”


Naila : “Aku ingin membayar RUKO yang aku tempati saat ini.”


Elsa : “Emangnya kamu sudah ada uang tah?”


Naila : “Iya Alhamdulillah.”


Elsa : “Kamu yakin mau membayarnya sekarang. Kalau masih belum ada uang, gak papa. Aku gak


akan nagih kog lagian aku kan udah bilang, kamu boleh bayar bayar nyicil


terserah nyicil berapa aja. Aku akan menerimanya.”


Naila : “Gak El. Aku gak akan bayar nyicil, aku akan bayar CASH.”


Elsa : “Kamu gak bercandakan?”


Naila : “Aku gak bercanda. Aku serius.”


Elsa : “Tapi kamu dapat uang itu dari mana?”


Naila : “Ada seseorang yang ingin ngajak kerja sama denganku. Dan dia memberikan aku uang


yang sangat lumayan  jadi uang itu akan


aku bayar untuk uang RUKO ini sekaligus aku juga akan membeli RUKO yang ada di


sebelah. Itu RUKOkan juga mau di jual jadi aku akan membelinya, aku ingin RUKO

__ADS_1


ini semakin di perluas.  Soalnya makin


hari makin banyak pelanggan dan rencana aku akan menambah lagi karyawan 10


orang. Soalnya aku juga jual lewat online.”


Elsa : “Oh gitu tapi kamu yakin orang itu baik dan jujur, siapa tau dia hanya ingin


menipumu saja?”


Naila : “Aku yakin 100% orang itu baik dan dia memang berniat untuk  kerjasama denganku. Dia juga tiap minggu sekali akan memesan 1 juta nasi bungkus.”


Elsa : “Ha! Kog sampek banyak banget. Buat apa?”


Naila : “Untuk di kasihkan ke panti jompo, panti asuhan dan juga fakir miskin.”


Elsa : “Oh gitu. Syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya tapi kamu harus hati hati ya.


Jangan terlalu percaya dengan omongan orang lain. Oke.”


Naila : “Oke. Terus kapan kamu akan ngirim no rekeninmu?”


Elsa : “Nanti deh, aku kirim lewat Whatsapp.”


Naila : “Hemm iya udah log gitu.”


Elsa : “Oh ya Nai, aku mau bilang sesuatu sama kamu.”


Naila : “Apa?”


Elsa : “Besok aku akan keluar negeri.”


Elsa : “Mamaku sakit dan papa memintaku untuk ke sana.”


Naila : “Kog dadakan sih?”


Elsa : “Sebenarnya gak dadakan karena papa memintaku ke sana sudah 3 hari yang lalu tapi kan aku


harus ngurus ini dan itu untuk bisa pergi ke luar negeri.”


Naila : “Oh terus kamu berapa bulan di sana?”


Elsa : “Entahlah, aku juga tidak tau. Jika mama sudah sembuh, aku pasti akan segera pulang.”


Naila : “Oh igtu, aku harap, mamamu cepat sembuh. Emang mamamu sakit apa jika aku boleh


tau?”


Elsa : “Entahlah, papa gak bilang. Dia Cuma bilang agar aku segera ke sana menjenguk mama.”


Naila : “Hemm aku harap mamamu segera sehat kembali.”


Elsa : “Iya amin. Makasih ya doanya dan maaf aku gak bisa bantu kamu untuk mengurus RESTO


ini.”


Naila : “Gak papa kog. RESTO nya kan sudah berjalan dengan lancar dan itu semua berkat

__ADS_1


bantuan dari kamu.”


Elsa : “Aku kan selalu membantumu karena kamu adalah sahabatku.”


Naila : “Besok kamu akan berangkat jam berapa?”


Elsa : “Setelah habis sholat shubuh.”


Naila : “Perlu aku antar kamu ke bandara?”


Elsa : “Tidak perlu soalnya Angga janji besok mau jemput aku.”


Naila : “Oh, aku lihat lihat kamu semakin dekat aja dengan Angga,El.”


Elsa : “Itu karena Angga adalah sahabatku sama seperti kamu.”


Naila : “Tapi entah kenapa aku merasa jika Angga menaruh rasa sama kamu, El.”


Elsa : “Itu hanya perasaanmu saja.”


Naila : “Gak, El. Itu bukan hanya perasaanku saja melainkan aku bisa lihat dari tatapan dia


saat melihat kamu.”


Elsa : “Udah ah, jangan bahas dia. Males. Lagian aku sudah mempunyai orang yang aku cinta ya


walaupun sampai sekarang dia masih saja memikirkan almarhum istrinya.”


Naila : “hemmm kamu tuh El, jangan terlalu mencintai orang lain terlalu dalam nanti kamu bisa


sakit. Lagian jika aku boleh ngasih saran, lebih baik kita di cintai dari pada


mencintai karna jika kita mencintai seseorang dan orang itu menolak kita


rasanya sakit banget.”


Elsa : “Emang kamu pernah merasakannya?”


Naila : “Hehehe gak sih, aku tau itu karena lihat di film film terus di novel novel gitu


katanya.”


Elsa : “Kamu tuh ya. Iya sudah, aku harus segera pulang karena harus siap siap. Kamu jika


butuh pertolongan, von aku atau von Angga. Oke.”


Naila : “Siap bos”


Elsa : “Iya sudah, aku pulang dulu. Kamu ke dapur gih, tuh pelayanmu memanggilmu dari tadi.”


Naila “Oke.”


Setelah Naila mengantarkan Elsa ke parkiran, Nailapun segera pergi ke dapur untuk


menghampiri salah satu pelayan yang dari tadi memanggil bahkan lebih dari 3x


hanya saja gak di respon oleh Naila karna ia lagi asyik cerita dengan

__ADS_1


sahabatnya, Elsa.


__ADS_2