Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Godaan Dari Sang Bunda


__ADS_3

Taufiq dan Naila bangun tidur jam 10 pagi. Mama dan papanya Taufiq emang sengaja gak


membangungkan mereka karena mereka tau betul bahwa tadi malam mereka sedang


olah raga sampai subuh untuk melepas rasa rindu mereka yang selama ini hanya


bisa di pendam di dalam diri mereka masing masing.


Taufiq dan Naila langsung mandi bareng, lebih tepatnya Taufiqlah yang memandikan Naila


sampai bersih setelah selesai gantian Naila yang memandikan Taufiq. Mereka


mandi hampir satu jam. Selesai mandi, Taufiq memakainkan baju untuk Naila


begitupun dengan Naila, ia membantu Taufiq untuk memakaikan bajunya. Setelah


selesai pakai baju, Taufiq membantu Naila untuk menyisir rambutnya yang lumayan


panjang sedangkan Naila fokus memakai bedak dan lipstiknya. Setelah selesai,


barulah mereka turun untuk makan pagi. Eh karena ini sudah jam 11 lewat 15


menit jadi bukan makan siang lagi melainkan makan siang.


Saat mereka turun dan pergi ke ruang makan. Mamanya Taufiq terlihat ada di dapur untuk


membuat kue.


“Gimana tadi malam, sukses bikin cucu buat mama?” tanya mamanya Taufiq tanpa rasa malu.


Sedangkan Naila, pipinya sudah memerah seperti tomat karena nahan malu.


Bagaimana tidak malu jika sang mertua bertanya seperti itu.


“Mama apaan sih kog nanyak kayak gituan?” ucap Taufiq yang gak suka dengan pertanyaan yang

__ADS_1


di lontarkan oleh mamanya.


“Lah mama Cuma nanya, tadi malam lancar gak bikinin mama cucu. Mama sudah kebelet tau pengen


gendong cucu. Masa sih dari jam 8 malam sampek subuh gak tembus tembus juga


bikin anak. Ah kalah ma papa nih kayaknya, dulu mah papa Cuma satu jam mama


langsung hamil kamu loh.” Goda mamanya Taufiq sambil tertawa mengingat malam


pertamanya dengan sang suami tercinta.


“Yaelah ma, yang penting kan Taufiq udah berusaha. Masalah berhasil atau gaknya tergantung ma


yang di atas.” Jawab Taufiq.


“Emang tadi malam berada ronde sih. Nanti habis makan siang, sholat dhuhur setelah itu


bikin lagi deh sampai jadi.” Ujar mamanya Taufiq tersenyum.


“Iya sudah kalau gitu biar nanti mama mintakan obat sama papa. Obat kuat nambah stamina


jadi biar kuat siang malam bikin anak. Papa setiap pagi dan malam selalu minum


jamu kuat jadi papa gak pernah lelah walau semalaman main sama mama.” Goda


Mamanya Taufiq terssenyum.


“Mama ini ngomong apa sih, gak malu apa sama menantunya?” tanya TAufiq sambil melirik ke


arah Naila yang hanya menunduk saja dari tadi.


“Kenapa harus malu sayang, mama kan Cuman ngasih saran buat kamu untuk minum jamu kuat


biar stamina kamu tambah jadi nanti malam bisa olah raga lagi sampai pagi.

__ADS_1


Lagian menantu mama harus tau juga, jadi kalau menantu mama gak puas sama kamu,


dia tinggal beliin kamu jamu seperti yang mama kasih buat papa tiap pagi dan


malam hari. Lagian kamu gak mau tah bikin istrimu puas, malu loh kalau istri


belum puas. Kamunya udah nyerah duluan.”Goda sang mama.


“Mama nih ngomongnya gak di saring dulu. Jadi gak selera makan akunya.” Taufiq benar


benar menyerah, ia gak nyangka sang mama akan bicara kayak ginian di depan


Naila pula.


“Kamu tuh ya kalau di nasihatin, bukannya bilang terima kasih malah bilang gitu. Mama ini


pengalaman loh, lebih pengalaman dari pada kamu. Kamu ada karena mama sama papa


olah raga tengah malam sampek keringetan.” Ucap sang mama.


“Tau ah, ayo sayang. Kita makan di luar aja. Jangan dengerin apa kata mama. Dia memang


kayak gitu orangnya.” Ucap Taufiq ia memegang tangan istrinya dan mengajak


untuk makan di luar.


“Lah kenapa mau makan di luar. Mama capek capek masak dari tadi.”


“Udah gak selera aku makan masakan mama. Mending mama aja makan yang banyak biar mama


kuat buat main lagi sama papa di ranjang.” Ucap Taufiq lalu ia pergi dengan


sang istri tercinta untuk pergi ke RESTO BASMALLAH. Yah, Taufiq memilih untuk


makan di sana bersama sang istri sekalian istrinya bisa cek RESTO nya.

__ADS_1


__ADS_2