Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Wajah yang sangat mirip


__ADS_3

*Elsa*


Hari ini aku pulang lebih awal karena aku harus menyambut kedatangan anaknya Bi Inah. Aku harap dia akan menjadi teman terbaikku. Aku tidak menyangka, benar benar tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan anaknya Bi Inah apalagi dia akan tinggal di rumahku dan juga akan kuliah di tempatku. Aku dan dia pasti akan selalu bersama sama. Aku harap dia bisa menggantikan posisi Cinta di hati aku. Persahabatanku dengan Cinta sangatlah erar bahkan sangking eratnya kami seperti saudara. Aku sangat menyayangi dia dan aku yakin dia juga sangat menyayangiku. Andai dia sekarang ada di sini, pasti aku tidak akan merasa kesepian tapi ya sudahlah. Mungkin tuhan lebih sayang dia sehingga tuhan mengambil Cinta dengan begitu cepat.


Sampai di depan rumah, aku langsung buka pintu. Namun betapa kagetnya aku ketika aku melihat seseorang yang mirip sekali dengan Cinta bahkan aku berfikir bahwa dialah sahabatku. Tapi bagaimana mungkin bukankah Cinta sudah tiada lalu yang ada di hadapanku sekarang, siapa?


Dia tersenyum padaku dan aku pun membalas senyumannya. Dia 99,9% mirip sekali dengan Cinta sahabatku. Wajahnya, tingginya, warna kulitnya, senyumannya semuanya mirip hanya saja rambutnya yang berbeda jika Cinta berambut panjang, dia rambutnya di potong sampai sebahu. Aku seperti merasa di hipnotis, tubuhku langsung kaku seketika. Aku bingung gak tau harus berbuat apa bahkan otakku rasanya lumpuh seketika.

__ADS_1


"Emmm ini pasti non Elsa ya?" tanya perempuan itu. Aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawabannya. Dia lagi lagi tersenyum, entahlah apa ada yang lucu di wajahku sampai sampai dia dari tadi hanya senyam senyum terus.


"Perkenalkan saya Naila. Anaknya Bunda Inah. Oh ya katanya bunda, non Elsa menyuruh saya untuk tinggal dirumah ini ya sekaligus kuliah di tempat yang sama seperti non Elsa." Ucap Naila yang terus saja menampakkan senyumannya. Lagi lagi aku hanya menganggukkan kepala, rasanya mulutku terasa kaku. Entahlah aku sendiri tidak tau kenapa, tapi rasanya bibirku seperti di kasih lem, sulit untuk membuka suara.


"Non Elsa kenapa? Kog dari tadi hanya diam aja. Non Elsa pasti capek, aku akan buatkan teh hangat buat non Elsa. Tunggu sebentar ya." Tanpa menunggu jawaban, Naila segera pergi ke dapur untuk bikin teh hangat.


"Kamu bikin teh hangat buat siapa?" tanya Bi Inah melihat anaknya dengan gesit bikin segelas teh hangat.

__ADS_1


"Enggah ah. Setau bunda, Non Elsa mah orangnya lumayan agak cerewet mungkin emang dia lagi capek aja. Iya sudah kamu bikin teh nya hati hati ya. Awas kena air panas. Bunda harus bersih bersih kamar atas." Ucap Bi Inah, Bi Inah sangat menyayangi dan mencintai anak semata wayangnya. Sejak suaminya meninggal Bi Inah hanya hidup berdua dengan Naila. Tapi karena ekonomi mereka yang kurang, mau gak mau Bi Inah harus rela meninggalkan Naila demi mencari uang untuk membiayai kehidupan Naila di kampung.


Sementara Naila bikin teh, Elsa mencoba untuk duduk di sofa. Ia masih tidak habis fikir bagaimana mungkin di dunia ini ada orang yang mempunyai wajah yang sangat mirip. Apa mungkin Cinta dan Naila adalah saudara kembar. Tapi bagaimana mungkin jelas jelas, Cinta adalah anak tunggal. Tapi Naila, kenapa dia punya wajah yang sama seperti Cinta? Elsa berfikir keras hingga ia di kagetkan dengan suara Naila.


"Non Elsa, ini tehnya." Ucap Naila sambil menaruh teh hangat di meja.


"Minumlah mumpung masih hangat." Imbuh Naila deengan menampakkan senyuman manisnya.

__ADS_1


"Oh ya besok saya akan daftar kuliah di tempat non Elsa. Besok bantuin saya ya. Soalnya saya kan juga belum tau di mana kampusnya dan gimana cara daftarnya." Ujar Naila tapi Elsa hanya tersenyum lalu menganggukkan kepala.


"Iya sudah kalau begitu saya akan bantu bunda untuk beres beres. Nanti jika non Elsa butuh sesuatu, panggil aku aja ya." Setelah berbicara seperti itu Naila langsung pergi menghampiri sang bunda.


__ADS_2