Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Sadar


__ADS_3

Sesampai di rumah sakit, Cinta dan Taufiq pergi ke ruangan Will. Sedangkan yang lainnya menunggu di luar. Cinta menggenggam tangan putranya dengan sangat erat.


"Sayang, apa kamu gak bosen tidur terus?" tanya Cinta, ia tak peduli walaupun Will tak merespon kata katanya. Ia terus saja mengucapkan kata kata yang ingin ia ucapkan, tanpa peduli siapapun akan mendengarkan semua ucapannya.


"Sayang, kamu tau gak. Tadi bunda, ayah dan yang lainnya baru saja datang dari pengadilan. Orang yang sudah menyiksa istrimu selama ini sudah mendekam di dalam penjara seumur hidupnya. Bunda baru tau, wanita yang sangat menyukaimu itu sangat cantik dan terlihat polos tapi sayang, hatinya tidak secantik wajahnya. Dia bukan hanya menyakiti istrimu tapi dia jugalah penyebab kecelakaan itu terjadi hingga kamu koma seperti ini dan istrimu hilang entah kemana. Sayang, sebenarnya bunda gak mau membicarakan ini ke kamu. Tapi kamu sebagai suaminya juga berhak tau apa yang terjadi sama dia nak. Sayang, sejak kecelakaan itu terjadi, istrimu sampai sekarang hilang entah kemana. Bunda, Ayah, Oppa, Omma, Pram, Jay semuanya berusaha mencaari keberadaan istrimu sampai detik ini. Kamu jangan hawatir kami tak akan pantang menyerah untuk bisa segera menemukannya. Sayang, kamu haruas cepet sadar ya, biar kita bisa cari dia bersama sama.


JIka kamu seperti ini terus, kasihan istrimu di luar sana. Tak ada yang tau bagaimana keadaannya sekarang. Apakah dia masih hidup atau sudah meninggal. Apakah saat ini dia baik baik saja atau lagi menahan rasa sakti. Sayang, bangunlah nak. Jangan tidur terus. Kasihan istrimu di luar sana sayang, dia membutuhkan kamu sayang. Ayo nak bangun, bunda mohon. Bunda sudah gak tahan melihat kamu seperti ini." Cinta menangis melihat putranya yang sampai sekarang masih saja belum membuka matanya. Taufiq hanya bisa memeluk istrinya seakan ingin menyalurkan kekuatan untuk sang istri.


Tiba tiba saja, jari jari Will mulai bergerak secara perlahan bahkan matanya juga sedikit demi sedikit juga mulai terbuka.


"Bunda." Ucap Will dengan suara yang sangat pelan.


Cinta dan Taufiq yang melihat Will langsung memeluk putranya dengan sangat erat.


"Sayang, kamu sudah sadar?" tanya Cinta. Will hanya menjawab dengan mengedipkan kedua matanya.

__ADS_1


"Sayang, aku panggilkan dokter dulu ya." Ucap Taufiq yang langsung memanggil dokter untuk memeriksa keadaan putranya yang kini sudah sadar


Tak lama kemudian dokter pun datang memeriksa keadaan Will.


"Will sudah melewati masa kritisnya. Saya akan segera memindahkan dia ke ruang inap." Ucap salah satu dokter. Cinta dan Taufiq hanya tersenyum lega mendengarkan ucapan dokter itu.


 


 


 


 


__ADS_1


"Bun, Aisyah mana?" tanya Will. Ketika ia menyadari bahwa istrinya tidak ada di antara kluarnya yang kini menjenguknya.


"Kenapa kalian diam. Istrimu dimana bunda, ayah?" tanya Will dengan suara lemahnya karena ia masih belum mempunyai banyak tenaga untuk berteriak ataupun berontak. Tapi tak ada satupun yang berani menjawab pertanyaan Will karena mereka takut, jika mereka menjawabnya, itu akan berakibat fatal untuk Will.


"Apakah Aisyah benar benar hilang seperti apa yang di katakan bunda tadi?" tanya Will. Sebelum ia membuka matanya, ia sempat mendengar ucapan bundanya. Namun ia tak bisa segera membuka matanya yang terasa begitu berat.


"Pram, Jay. Tolong jawab. Di mana istriku?" tanya Will. Pram dan Jay hanya bisa menunduk. Mereka merasa bersalah karena tidak bisa menemukan kakak iparnya sampai sekaran.g


"Oke, jika tak ada satupun yang menjawab pertanyaanku. Berarti apa yang aku dengar dari bunda tadi, itu benar. Kalau gitu, aku sendiri yang akan mencari istriku sampai ketemu." Ucap Will frustasi. Mana mungkin ia bisa diam saja jika sekarang ia tak tau dimana istrinya berada.


Will mencabut infusnya seketika hingga menimbulkan luka dan berdarah.


"Nak, jangan seperti ini. Bunda mohon." Ucap Cinta histeris.


"Aku akan mencari istriku bun." Ujar Will sambil mencoba untuk turun dari brankar namun baru beberapa langkah, ia merasa kepalanya begitu berat dan akhirnya ia pun tak sadarkan diri. Taufiq segera menggendong Wil dengan di bantu oleh Pram dan juga Jay. Ani dan Ana yang ada di situ segera memanggil dokter untuk mengecek keadaan kakaknya.

__ADS_1


__ADS_2