
Di RESTO Taufiq memesan nasi + ayam bakar pedas manis + lalapan + Sate Kambing 3 tusuk +
Sambel Pedas Manis n Sapi yang di masak merah serta penyet lele yang di bakar..
Semuanya serba daging karena sejujurnya Taufiq kurang terlalu suka dengan sayur
mayur.
“Mas Taufiq yakin mau makan sebanyak itu?” tanya Naila.
“Yah, habisnya fikiran mas lagi kesel sih sama omongan mama tadi. Jadi mas harus
makan banyak biar fress gitu. Siapa tau dengan makan banyak, mas bisa lupa
dengan semua ucapan mama tadi bikin malu mas saja. Maafin mamanya mas ya.” Ucap
Taufiq.
“Gak papa kog mas, santai aja. Mungkin mamanya mas hanya ingin bergurau saja.” Ujar Naila
tersenyum.
“Gurau sih gurau tapi gak gitu juga kali ucapannya. Tapi ya sudahlah. Oh ya kamu mau di
suapin atau makan sendiri?” tanya Taufir.
“Aku makan sendiri aja deh. Gak enak juga di liatin orang.” Jawab Naila.
Mereka berduapun menikmati hidangan yang ada di hadapan mereka. Selesai makan, Naila
mencoba naik ke lantai 3. Ternyata di sana sudah di beresin bahkan sudah di
tempati oleh pelanggan setiannya. Jadi lantai 1, 2 dan juga lantai 3 semuanya
penuh dengan para pelanggan. Setelah selesai pergi ke lantai 3, Naila langsung melihat RUKO di sampingnya yang akan ia pakai untuk buka RESTO hanya saja yang ini khusus berbagai macam kue. Jadi
__ADS_1
Naila punya dua RESTO sampaing kanan dan samping kiri. Yang kanan khusus makanan dan yang kiri khusus kue. Ia melihat RUKO itu sudah selesai di cat tinggal menata ruangannya agar menjadi sebagus
mungkin. Naila juga sudah menghubungi beberapa orang untuk bekerja di bagian
kue, selain itu Naila juga memberika kepercayaan kepada 2 orang sekaligus. Yang
khusus makanan, Naila mempercayakan kepada sang bunda sedangkan yang Kue, Naila
memberikan kepercayaan kepada Angga karena ia juga ingin kerja sambil kuliah.
Jadi Naila tidak perlu datang setiap hari. Cukup seminggu sekali. Setelah selesai,
ia menghampiri Taufiq.
“Gimana sayang, apa semuanya lancar?” tanya Taufiq.
“Yup. Sesuai keinginanku. Oh ya katanya sekarang kita mau belikan rumah buat bunda.” Ucap
Naila.
bisa menempatinya nanti sore karena sekarang rumah itu masih di beresih dulu
oleh pegawai mas. Nanti jika sudah selesai mereka akan membantu bunda kamu
untuk pindah rumah.” Ucap Taufiq tersenyum.
“Makasih ya mas. Mas baik deh. Aku bangga punya suami kayak mas.”
“Aku juga bangga punya istri kayak kamu. Oh ya kayaknya nanti ayah dan bunda kamu udah
sampai deh.”
“Ayah dan Bunda kandung aku maksudnya mas?” tanya Naila.
“Iya sayang.”
__ADS_1
“Tapi bukankah mas sendiri yang bilang kalau mas gak akan ngasih tau mereka sampai
ingatan aku kembali seperti dulu.”
“Tadinya sih gitu tapi setelah papa nasehatin mas, mas rasa memberitahu mereka adalah
lebih baik karena bagaimanapun juga mereka punya hak untuk tau bahwa putri satu
satunya mereka masih hidup dan mas yakin, dia bahagia mendengar ini semua
makanya mereka langsung pualang. Gak papa kan? Kamu gak marah kan sama mas
karena sudah ngasih tau mereka?” tanya Taufiq.
“Aku gak marah kog mas. Lagian aku juga pengen tau wajah mereka. Wajah ayah dan bunda
yang selama ini sangat menyayangi dan mencintai aku.” Ucap Naila tersenyum.
“Syukurlah lalu habis ini kita mau kemana lagi, atau kita ke hotel yuk.” Ajak Taufiq.
“Ngapain ke hotel mas?”
“Ya biar kita bisa peluk pelukan sayang.”
“Emang masih kurang tadi malam.”
“Ya gak kurang sih, hanya saja pengen meluk.”
“Tapi kan mas bisa meluk aku di sini.” Ucap Naila.
“Iya sih tapi gak bisa leluasa.”
“Iya sudah deh, terserah mas aja. Aku ngikut.”
“Sip. Nah itu baru istri sholehah. Iya sudah yuk, kita berangkat.”
__ADS_1
“Oke.”