Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Rencana mau melamar


__ADS_3

Malam harinya, Will pulang ke rumah sekitar jam 8 malam.


Cinta belum tidur karena ia menunggu kepulangan Will. Sedangkan Taufiq sibuk sama komputernya di ruangan kerja. Pram, Jay, Ani dan Ana ada di kamar masing masing. Sedangkan Cinta di ruang tamu megang hp menunggu kepulangan buah hatinya yang tak kunjung pulang.


Setelah jam 8, barulah pintu di buka dan ternyata Will.


"Assalamu'alaikum." Ucap Will.


"Waalaikumsalam." Jawab Cinta. Will menghampiri Cinta dan mencium punggunya ibundannya lalu duduk di sampignnya.


"Bunda kog duduk di ruang tamu, gak biasansya?" tanya Will merebahkan kepalanya di pangkuan sang bunda. Hari ini Will sangat lelah sekali karena jadwalnya yang begitu padat.


"Bunda nunggu kepulangan kamu sayang. Kog sampai malem gini nak?" tanya Cinta sambil mengelus elus rambut buah hatinya.


"Iya bun, hari ini jadwalku padat banget. Aku sampai kelelahan." Jawab Wil sambil menutup matanya.


"Hemmm gitu, besok kerja masuk jam berapa?" tanya Cinta karena kadang jadwal Will yang berubah ubah.


"Jam 10 bun. Tapi jika ada panggilan mendadak ya terpaksa aku ke rumah sakit lagi." Jawab Will.


"Oh gitu. Oh ya bunda boleh nanya sesuatu gak?" tanya Cinta yang mulai beraksi.


"Mau nanya apa bun?" tanya balek Will.


"Will sekarang deket sama siapa?" tanya Cinta.


"Deket sama bundalah. Kan sekarang yang ada di dekat aku cuma bunda." Jawab Will yang gak faham apa maksud perkataan sang bunda.


"Bukan. Itu loh maksud bunda tuh, kamu sekarang lagi dekat sama cewek gak? Atau kamu lagi naksir seseorang mungkin?" tanya Cinta.


"Enggak kog bun. Aku gak deket sama siapa siapa apalagi naksir sama perempuan. Kan umur aku masih muda bun. Masih seneng senengnya menikmati hidup, teman temanku juga masih pada kulyah. Gak seperti aku yang sudah bekerja karena sudah lulus S3." Jawab Will.


"Yakin?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Yakin bun." Jawab Will mantap.


"Seberapa yakin?" tanya Cinta.


"80%." Jawab Will.


"20% nya kemana?" tanya Cinta tersenyumm.


"Ada deh." Jawab Will ikut tersenyum.


"Mau main rahasia rahasian nih ya sama bunda. Padahal bunda udah tau semuaya lho." Ucap Cinta.


"Emang apa yang bunda tau?" tanya Will.


"Bunda tau kalau Will itu lagi jatuh cinta sama seseorang dan bunda tau lho siapa perempuan itu." Jawab Cinta.


"Emang siapa perempuan itu?" tanya Will.


"Aisyah." Jawab Cinta santai.


"Ada deh. Salahnya sendiri main rahasia rahasiaan sama bunda." Jawab Cinta.


"Ya maaf bun. Aku kan malu kalau cerita masalah percintaan sama bunda." Ucap Will.


"Terus kapan kamu mau mengenalkan dia sama bunda dan ayah?" tanya Cinta.


"Secepatnya bun. Rencana juga aku mau melamar dia dalam waktu dekat ini." Jawab Will.


"Wah Will selangkah lebih maju dari pada Pram dan Jay. Terus Aisyah sudah tau belum kalau Will suka sama dia?" tanya Cinta.


"Ya aku mana tau bun. Aku aja belum pernah mengungkapkan isi hatiku. Dia juga gak pernah ngasih tau isi hatinya ke aku. Jadi aku gak tau bagaimana perasaan dia ke aku. Tapi aku selalu berusaha deket sama dia dan ngasih perhatian gitu." Jawab Will.


"Kenapa kamu gak mengungkapkan isi hatimu Will?" tanya Cinta.

__ADS_1


"Malulah bun." Jawab Will.


"Kog malu sih Will?" tanya Cinta penasaran.


"Ya malu bun. Iya kalau dia mau, tapi kalau aku di tolak kan malu. Lagian aku juga pengennya itu langsung lamar gitu bun. Biar buat kejutan." Jawab Will.


"Apa gak lebih malu kalau di tolak pas melamar?" tanya Ciinta.


"Gak lah bun. Yang penting kan niat aku baik, masalah di tolak apa gak nya urusan nantilah. Di tolak ya berarti dia bukan jodohku. Kalau di terima ya alhamdulillah. Nanti aku pengennya langsung nikah aja. Jadi aku pacaran setelah menikah, biar kalau pengen ngapa ngapain kan gak takut dosa." Jawab Will tersenyum.


"Tadi katanya mau menikmati hidup, sekarang ucapaannya beda lagi. Pengen cepet buru buru nikah. Kog plin plan banget sih anak bunda?" tanya Cinta sambil menarik hidung Will pelan.


"Hehe entahlah aku juga bingung bun. Di satu sisi, aku sebenarnya masih pengen menikmati hidup seperti teman teman yang lainnya. Tapi di sisi lain, aku takut Aisyah di ambil orang jika aku tidak segera menghalalkannya. Aku juga pengen bisa deket deket dengan Aisyah tanpa takut akan dosa karena bisa melakukan apapun dan itu sudah halal jika sudah ada ikatan yang sah." Jawab Will.


"Iya sudah mending segera di halalkan aja biar enak. Bunda juga pengen bisa segera gendong cucu." Ucap Cinta.


"Ah bunda, sudah bahas cucu. Hubungan badan aja belom." Jawab Will kesal.


"Makanya segera halalin biar bisa segera hubungan badan." Ucap Cinta tersenyum.


"Iya ya. Besok, aku usahain untuk mempertemukan Aisyah sama bunda. Terus minggu depannya kita langsung lamar dia, gimana bun? Tapi sebelum melamar. Besok pas bunda ketemu Aisyah, bunda harus tanya dulu ya sama Aisyah, dia suka sama aku apa enggak. Terus bunda juga harus nanya, dia siap apa belum kalau minggu depan, aku lamar." Ucap Wil.


"Oke oke siap. Besok ayah dan bunda akan usahakan meluangkan waktu biar bisa ketemu sama calon mantu bunda. Kira kira besok jam berapa mau ketemuan?" tanya Ciinta.


"Pas makan siang aja bun. Di deket rumah sakit aku kan ada resto tu milik bunda. Kita ketemuan aja disana. Sekalian makan siang bareng." Jawab Will.


"Oke dah, bunda siap. Besok pagi kita adakan meeting ya setelah selesai sarapan." Ucap Cinta.


"Meeting apa bun?" tanya Will.


"Ada deh. Sekarang kamu mandi gih, bau keringat. Setelah itu langsung bobok. Oh ya kamu sudah makan malam dan sholat isya kan?" tanya Cinta.


"Iya sudah bun. Tadi habis sholat isya, aku langsung makan di resto setelah itu langsung pulang ke sini."

__ADS_1


"Sip. Jadi sekarang tinggal mandi lalu tidur. Biar besok gak bangun kesiangan." Ucap Cinta.


"Oke, siap bun." Jawab Will sambil berdiri dan pergi ke kamarnya. Sedangkan Cinta, ia berjalan menuju ruang kerja suaminya.


__ADS_2