Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Linangan Air Mata


__ADS_3

Keesokan harinya jam 6 pagi, Elsa sudah pergi ke kantor Taufiq. Di sana ia melihat


Taufiq yang duduk termenung di kursi kebesarannya. Elsa mencoba untuk


menghampiri Taufiq, Elsa membawa makanan yang ia masak sendiri. Ia rela bangun


lebih pagi hanya untuk memasak demi orang yang ia sayang. Kalau bukan demi


Taufiq, mungkin Elsa memilih untuk tidur lagi setelah selesai sholat shubuh


mengingat tubuhnya yang masih merasa capek karena kemaren seharian membantu


Naila.


“Kamu masih ingat aku rupanya.” Ucap Taufiq dengan nada sinis.


“Maksud kaka apa sih? Kog ngomongnya gitu?” tanya Elsa tidak mengerti. Elsa menaruh


makanan yang ia bawa di atas meja makan lalu Elsa duduk di kursi di depan meja.


Sehingga Taufiq dan Elsa bisa berhadap hadapan hanya saja Taufiq memilih untuk


menghindar dari pada menatap ke arah Elsa sedangkan Elsa sendiri terus menatap


wajah Taufiq tidak peduli jika saat ini Taufiq lagi marah padanya.


“Kemana aja selama ini, satu bulan lebih tidak ke kantorku, tidak membawakan makanan lagi


untukku bahkan chatku pun di balas singkat. Kamu tidak akan chat aku sebelum


aku chat duluan. Apa maksudnya itu semua? Sengaja mau cari perhatian dariku


atau sudah bosan bertemu dengaku dan memilih menghindar dariku?” tanya Taufiq,


entah kenapa hari ini dia ingin marah.


“Loh loh kog kaka ngomong pakek nada tinggi sih. Aku kan gak ke sini karena aku sibuk.


Selama sebulan penuh aku membantu sahabatku karena ia buka RESTO, aku tidak


mungkin tega membiarkan dia berjuang sendirian apalagi dia masih awal awal

__ADS_1


membuka bisnis. Aku harus membantunya.  Aku gak sempat megang hp karena memang aku gak punya banyak waktu. Jangankn untuk megang hp untuk istirahat sejennakpun aku gak ada waktu. Bahkan


aku kadang sampai bolos kuliah hanya ingin membantu dirinya. Pulang ke rumah


badanku sudah sangat lelah sehingga aku gak kefikiran untuk buka Hp. Aku kan


sudah menjelaskna semuanya sama kaka tapi kenapa kaka gak ngerti ngerti dan


sekarang kaka malah marah marah gak jelas. Kaka ini kenapa sih? Jika kaka ada


masalah dengan orang lain, silahkan kaka selesaikan dengan orang lain. Jangan


marah marah sama aku. Aku ini capek loh. Walaupun hari ini tubuhku sangat


lelah, aku masih berusaha untuk masak demi kakak. Tapi kenapa sampai sini, aku


malah di marah marahin. Kaka belum pernah loh sebelumnya bicara pakek nada


tinggi sama siapapun apalagi sama aku. Kenapa sekarang kaka berubah. JIka


memang alasannya hanya karna aku yang gak ada waktu buat kaka, aku minta maaf.


Lain kali tidak akan aku ulangi. Akan aku usahakan setiap hari aku akan datang


menambah karyawan jadi aku tidak perlu ke sana setiap hari. Aku bisa


menghabiskan waktuku untuk berkunjung ke sini, nemenin kaka kerja sampai


selesai.” Ucap Elsa yang terus menatap wajah Taufiq.


“Sebenarnya lebih penting mana sih aku dan sahabatmu itu?” tanya Taufiq.


“Ya lebih penting kaka lah. Tapi kan kita harus tau mana yang lebih dulu harus di


prioritaskan. Sahabatku sangat membutuhkan aku sedangkan kaka? Bukannya aku


meremehkan kaka tapi di banding sahabatku, sahabatku jauh lebih membutuhkan bantuanku


beda dengan kaka yang semuanya bisa sendiri. Tapi jika kaka sudah jadi suami


aku, itu sudah beda cerita. Aku akan selalu memprioritaskan suamiku ketimbang

__ADS_1


yang lain bahkan aku tidak akan membantu sahabatku jika memang suamiku melarang


aku untuk pergi dan membantunya.” Jawab Elsa santai.


“Emang siapa yang mau nikah sama kamu?” tanya Taufiq sadis.


“Iya kakaklah.” Jawab Elsa masih berusaha menampakkan senyuman manisnya.


“Ih, aku tidak mungkin menikah dengan sahabat istriku karena aku menganggap kamu hanya


sekedar sahabat dari istriku, tidak lebih. Lagian sampai detik ini aku hanya


menyayangi dan mencintai  istriku.” Ucap Taufiq sambil menatap ke luar jendela.


Elsa yang mendengar itu semua hanya bisa menangis dalam hati, ia tidak menyangka jika


Taufiq akan mengucapkan kata kata yang sangat melukai hati dan perasaannya tapi


Elsa tidak boleh menikah di depan Taufiq. Elsa harus kuat, ia tidak boleh


menampakkan kesedihannya dan juga kelemahannya di depan orang lain terutama di


depan Taufiq. Sebisa mungkin Elsa berusaha menahan air matanya agar tidak


jatuh.


“Aku sangat bahagia mendengar ucapan kaka. Cinta pasti senang mempunyai suami seperti kaka,


walaupun Cinta sudah tiada tapi kaka masih setia dan kaka tidak berpaling


darinya. Oh ya ini sudah jam 7, bentar lagi aku ada jam kuliah. Aku harus ke


kampus dulu. Mungkin nanti siang aku gak bisa ke sini karena ada urusan.


InsyaAllah besok, aku akan datang ke sini lagi.” Ucap Elsa sambil berpura pura


melihat jam tangannya. Padahal jam kuliah hari ini, ia masuk jam 10 pagi. Tapi


ia harus keluar dari ruangan ini karna ia sudah tak tahan untuk tidak


mengeluarkan air mata. Hatinya terlalu sakit mendengar ucapan Taufiq. Tanpa

__ADS_1


menunggu jawaban Taufiq, Elsa langsung keluar menuju mobilnya.


__ADS_2