
Keesokan harinya jam 6 pagi, Elsa sudah pergi ke kantor Taufiq. Di sana ia melihat
Taufiq yang duduk termenung di kursi kebesarannya. Elsa mencoba untuk
menghampiri Taufiq, Elsa membawa makanan yang ia masak sendiri. Ia rela bangun
lebih pagi hanya untuk memasak demi orang yang ia sayang. Kalau bukan demi
Taufiq, mungkin Elsa memilih untuk tidur lagi setelah selesai sholat shubuh
mengingat tubuhnya yang masih merasa capek karena kemaren seharian membantu
Naila.
“Kamu masih ingat aku rupanya.” Ucap Taufiq dengan nada sinis.
“Maksud kaka apa sih? Kog ngomongnya gitu?” tanya Elsa tidak mengerti. Elsa menaruh
makanan yang ia bawa di atas meja makan lalu Elsa duduk di kursi di depan meja.
Sehingga Taufiq dan Elsa bisa berhadap hadapan hanya saja Taufiq memilih untuk
menghindar dari pada menatap ke arah Elsa sedangkan Elsa sendiri terus menatap
wajah Taufiq tidak peduli jika saat ini Taufiq lagi marah padanya.
“Kemana aja selama ini, satu bulan lebih tidak ke kantorku, tidak membawakan makanan lagi
untukku bahkan chatku pun di balas singkat. Kamu tidak akan chat aku sebelum
aku chat duluan. Apa maksudnya itu semua? Sengaja mau cari perhatian dariku
atau sudah bosan bertemu dengaku dan memilih menghindar dariku?” tanya Taufiq,
entah kenapa hari ini dia ingin marah.
“Loh loh kog kaka ngomong pakek nada tinggi sih. Aku kan gak ke sini karena aku sibuk.
Selama sebulan penuh aku membantu sahabatku karena ia buka RESTO, aku tidak
mungkin tega membiarkan dia berjuang sendirian apalagi dia masih awal awal
__ADS_1
membuka bisnis. Aku harus membantunya. Aku gak sempat megang hp karena memang aku gak punya banyak waktu. Jangankn untuk megang hp untuk istirahat sejennakpun aku gak ada waktu. Bahkan
aku kadang sampai bolos kuliah hanya ingin membantu dirinya. Pulang ke rumah
badanku sudah sangat lelah sehingga aku gak kefikiran untuk buka Hp. Aku kan
sudah menjelaskna semuanya sama kaka tapi kenapa kaka gak ngerti ngerti dan
sekarang kaka malah marah marah gak jelas. Kaka ini kenapa sih? Jika kaka ada
masalah dengan orang lain, silahkan kaka selesaikan dengan orang lain. Jangan
marah marah sama aku. Aku ini capek loh. Walaupun hari ini tubuhku sangat
lelah, aku masih berusaha untuk masak demi kakak. Tapi kenapa sampai sini, aku
malah di marah marahin. Kaka belum pernah loh sebelumnya bicara pakek nada
tinggi sama siapapun apalagi sama aku. Kenapa sekarang kaka berubah. JIka
memang alasannya hanya karna aku yang gak ada waktu buat kaka, aku minta maaf.
Lain kali tidak akan aku ulangi. Akan aku usahakan setiap hari aku akan datang
menambah karyawan jadi aku tidak perlu ke sana setiap hari. Aku bisa
menghabiskan waktuku untuk berkunjung ke sini, nemenin kaka kerja sampai
selesai.” Ucap Elsa yang terus menatap wajah Taufiq.
“Sebenarnya lebih penting mana sih aku dan sahabatmu itu?” tanya Taufiq.
“Ya lebih penting kaka lah. Tapi kan kita harus tau mana yang lebih dulu harus di
prioritaskan. Sahabatku sangat membutuhkan aku sedangkan kaka? Bukannya aku
meremehkan kaka tapi di banding sahabatku, sahabatku jauh lebih membutuhkan bantuanku
beda dengan kaka yang semuanya bisa sendiri. Tapi jika kaka sudah jadi suami
aku, itu sudah beda cerita. Aku akan selalu memprioritaskan suamiku ketimbang
__ADS_1
yang lain bahkan aku tidak akan membantu sahabatku jika memang suamiku melarang
aku untuk pergi dan membantunya.” Jawab Elsa santai.
“Emang siapa yang mau nikah sama kamu?” tanya Taufiq sadis.
“Iya kakaklah.” Jawab Elsa masih berusaha menampakkan senyuman manisnya.
“Ih, aku tidak mungkin menikah dengan sahabat istriku karena aku menganggap kamu hanya
sekedar sahabat dari istriku, tidak lebih. Lagian sampai detik ini aku hanya
menyayangi dan mencintai istriku.” Ucap Taufiq sambil menatap ke luar jendela.
Elsa yang mendengar itu semua hanya bisa menangis dalam hati, ia tidak menyangka jika
Taufiq akan mengucapkan kata kata yang sangat melukai hati dan perasaannya tapi
Elsa tidak boleh menikah di depan Taufiq. Elsa harus kuat, ia tidak boleh
menampakkan kesedihannya dan juga kelemahannya di depan orang lain terutama di
depan Taufiq. Sebisa mungkin Elsa berusaha menahan air matanya agar tidak
jatuh.
“Aku sangat bahagia mendengar ucapan kaka. Cinta pasti senang mempunyai suami seperti kaka,
walaupun Cinta sudah tiada tapi kaka masih setia dan kaka tidak berpaling
darinya. Oh ya ini sudah jam 7, bentar lagi aku ada jam kuliah. Aku harus ke
kampus dulu. Mungkin nanti siang aku gak bisa ke sini karena ada urusan.
InsyaAllah besok, aku akan datang ke sini lagi.” Ucap Elsa sambil berpura pura
melihat jam tangannya. Padahal jam kuliah hari ini, ia masuk jam 10 pagi. Tapi
ia harus keluar dari ruangan ini karna ia sudah tak tahan untuk tidak
mengeluarkan air mata. Hatinya terlalu sakit mendengar ucapan Taufiq. Tanpa
__ADS_1
menunggu jawaban Taufiq, Elsa langsung keluar menuju mobilnya.