
*Naila*
Aku bangun tidur jam 5 sore. Aku segera pergi mandi. Untunglah hari ini aku lagi Datang Bulan jadi aku tidak punya tanggungan apapun. Selesai mandi n pakai baju, aku langsung pergi ke luar rumah untuk cari udara segar. Aku tidak lupa untuk izin dulu kepada sang bunda. Di sana aku jalan jalan sepuas mungkin. Aku jalan ke sana ke mari tanpa tau tujuan. Yang ada dalam fikiranku hanyalah mencari udara segar n menyegarkan otakku.
Di rumah aku begitu sangat bosan, aku ingin membantu pekerjaan bunda tapi bunda tidak memperbolehkan. Pengen main bareng non Elsa tapi Non Elsa sejak pulang kuliah gak keluar keluar dari kamarnya bahkan saat sang bunda memanggil untuk makan, Non Elsa malah bilang bahwa dirinya tidak nafsu makan. Aku sungguh benar benar bingung dengan apa yang ada dalam otaknya. Saat pertama kali ketemu, non Elsa seperti melihat hantu bahkan aku ngomongpun tidak di jawab hanya tersenyum sedikit sambil menganggukkan kepala. Entahlah apa yang terjadi dengannya, aku rasa dia seperti punya beban tersendiri.
Saat Naila melintasi sebuah lapangan, Naila melihat ada pasar malam. Karena ini masih jam setenah 6 sore jadi orang orang masih belum banyak yang datang apalagi bentar lagi adzan maghrib akan berkumandang jadi orang orang pasti lagi sibuk menyiapkan diri untuk sholat maghrib. Sambil nunggu orang orang datang, Naila mencoba beberapa permainan. Untung Naila masih punya sedikit uang jadi ia bisa main dengan puas. Tepat jam setengah tujuh, Naila pun segera pulang karena ia tak ingin bundannya hawatir walaupun ia sudah izin tapi tetep saja jika keluarnya terlalu lama pasti akan membuat sang bunda panik dan hawatir apalagi dirinya tidak bawa hp.
Saat sampai di depan rumah Elsa, Naila melihat ada mobil mewah yang parkir di halaman rumah Elsa. Naila sempat terkagum kagum melihat mobil itu tapi Naila mencoba untuk tidak menghiraukannya. Naila segera pergi ke dapur melewati jalan samping rumah. Sesampai di dapur, ia melihat sang bunda sedang memasak.
"Bun, kenapa masaknya banyak banget?" tanya Naila.
"Karena Non Elsa kedatangan tamu yang sepesial."
__ADS_1
"Siapa? Pasti pacarnya non Elsa ya?" tebak Naila.
"Bukan. Mereka masih belum pacaran. Setau bunda sih non Elsa memang mencintai pria itu hanya saja pria itu belum membuka hati karena dia masih mencintai almarhum istrinya."
"Oh jadi pria itu seorang duda ya?" tanya Naila.
"Iya begitulah."
"Bunda sudah tau belum wajah pria itu?"
"Oh gitu. Ribet amet ya bun kisah cinta mereka."
"Iya kisah mereka memang sedikit rumit. Oh ya kamu bantuin bunda aja ya nyiapkan makanannya soalnya Non Elsa minta cepat karena mereka akan segera pergi."
__ADS_1
"Oke bun."
Naila pun membantu sang bunda dengan senang hati. Setelah hampir 15 menit akhirnya semua masakanpun sudah tersaji di atas meja. Naila segera pergi ke kamar sedangkan Bi Inah menghampiri non Elsa.
"Non, masakannnya sudah siap." Ucap Bi Inah.
"Iya bi, bibi bisa pergi ke kamar. Nanti biar Elsa dan kak Taufiq langsung pergi ke meja makan. Nanti kalau udah selesai bibi boleh keluar untuk membersihkan ruangannya."
"Siap non." Ujar Bi Inah. Ia pun segera pergi menyusul Naila yang sudah ada di kamar sedangkan Elsa mengajak Taufiq untuk makan malam di rumahnya.
"Kenapa kamu masih menyuruh dia untuk masak. Kan kita mau pergi ke pesta pernikahan temanku. Di sana kita pasti di kasih makan." Ucap Taufiq.
"Tapi aku ingin makan berdua denganmu ka. Jika di pesta kita gak mungkin bisa makan seperti ini."
__ADS_1
"Baiklah, terserah kamu aja." Ujar Taufiq. Merekapun menikmati hidangan yang di masak oleh Bi Inah dan juga Naila.
"Semoga Naila tidak keluar dari kamar." Ucap Elsa dalam hati. Entah kenapa Elsa benar benar takut jika Taufiq akan melihat Naila di rumahnya.