Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Kebahagian Seorang Taufiq Bisa Bertemu Kembali Dengan Sang Istri Tercinta


__ADS_3

Keesokan harinya Taufiq kembali datang ke RESTO BASMALLAH, ia membawa surat perjanjian


yang di sepakati kemaren bersama Naila. Nailapun sengaja libur kuliah hanya


untuk menunggu kedatangan Taufiq..Sedangkan Elsa ia harus masuk kuliah karena


hari ini ia ada presentasi bersama Angga dan presentasi itu gak bisa di


tinggalkan karena Elsa merupakan ketua kelompok dan Naila tidak termasuk


kelompok Elsa sehingga ia bisa libur sehari.


Setelah Taufiq bertemu dengan Naila. Tanpa panjang lebar Taufiq memberikan surat


perjanjian itu, Naila membacanya sejennak setelah ia puas dengan isi surat yang


ia pegang, ia langsung menandatanganinya. Surat itu ada dua, satu untuk Naila


dan satunya lagi untuk Taufiq.


“Mas, gimana jika saya antar mas untuk berkeliling RESTO.” Tawar Naila.


“Boleh.” Ucap Taufiq tersenyum.


Nailapun membawa Taufiq keliling RESTO dan ia menjelaskan panjang lebar. Setelah


berkeliling Naila membawa Taufiq ke Dapur untuk melihat dan mencicipi masakan


yang di sediakan oleh Naila. Naila juga memperkenalkan menu baru yang ia buat.


Setelah cukup puas, merekapun menghabiskan waktu untuk berbincang kembali di


ruangan Naila.


“Nai, gimana jika besok kamu siapkan nasi bungkus yang saya pesan itu.” Ucap Taufiq.


“Baiklah, tapi nasi itu mau di ambil sendiri atau perlu saya antar?” tanya Naila.


“Gimana jika besok saya datang lagi ke sini dan saya minta bantuan kamu untuk menemani


saya ke panti asuhan, panti jompo dan juga fakir miskin.” Ujar Taufiq berharap


Naila mau menerima ajakannya karena ini merupakan rencana dari Taufiq untuk


membawa Naila ke PANTI ASUHAN yang dulu sering ia datangi, ia  juga akan membawa Naila ke panti jompo serta


ke rumah buk WAti yang pernah ia tolong beberapa tahun yang lalu.


Setelah berfikir sejennak, akhirnya Nailapun menyetujui permintaan Taufiq.


“Baiklah, besok saya akan menemani mas Firman.” Ucap Naila, Entah kenapa ia senang bisa


berlama lama ada di dekat Firman/Taufiq. Ada rasa nyaman yang muncul dalam


dirinya. Toh besok juga hanya ada satu mata kuliah saja jadi Naila bisa bolos


lagi dan bisa menemani Taufiq seharian penuh. Naila juga butuh hiburan karena


selama ini ia terlalu sibuk mengurus RESTO dan kuliah sehingga ia gak ada waktu


untuk dirinya sendiri.


“Sip, besok aku akan jemput kamu jam berapa?” tanya Taufiq.


“Jam 11 siang ya. Soalanya kan aku harus masak banget tuh kecuali jika kamu mau bantuin


aku masak.” Ucap Naila tersenyum.


“Kalau boleh, aku mau nemenin kamu masak.” Jawab Taufiq, mana mungkin ia gak mau.


Malah ia berfikir keras agar ia bisa selalu dekat dekatan dengan Naila jika


Naila menawarinya untuk membantu dirinya memasak, tanpa berfikir dua kali


Taufiq pasti mau bangetlah. Gak papa ia capek motong ini dan itu di dapur yang


pentingkan ia bisa melihawat wajah istrinya.


“Emang kamu besok gak kerja ya?” tanya Naila heran.


“Masalah pekerjaan itu mah gampang. Bisa aku serahin ke asistenku. Dia tangan kananku


yang bisa aku percaya. Jadi aku bisa santai.” Jawab Taufiq tersenyum.


“Iya ya, bos mah bebas.” Ucap Naila lalu ia tertawa.

__ADS_1


“Oh ya kenapa sih mas Firman harus di panggil dengan sebutan Firman bukan Taufiq?”


tanya Naila.


“Iya gak papa. Emang kenapa jika kamu manggil aku dengan sebutan Firman?” tanya balek


Taufiq.


“Entah kenapa aku lebih suka manggi mas dengan sebutan mas Taufiq rasanya kayak kita


itu dekat dibanding dengan sebutan mas Firman.” Jawab Naila tersenyum.


“Itu karena kamu dulu sering manggil aku dengan sebutan mas Taufiq makannya ketika kamu


memanggil nama itu kamu akan merasa bahwa dirimu sangat dekat denganku karena


kenyataanya kamu adalah istriku. Istri yang teramat amat sangat aku cintai.” Gumam


Taufiq.


“Kenapa bengong mas?” tanya Naila.


“Enggak, gak papa. Iya sudah jika memang kamu suka memanggil aku dengan sebutan Taufiq.


Gak papa, aku seneng kog. Tapi kamu jangan pernah menyebut namaku di depan


orang lain, siapapun itu cukup aku dan kamu aja yang tau dan kamu juga gak


boleh menceritakan tentang aku kepada siapapun termasuk sahabatmu.” Ucap Taufiq


karena ia tak ingin jika Elsa tau tentang dirinya yang sudah mengenal Naila. Ia


takut jika Elsa akan membuat dirinya kesulitan untuk bisa bersatu kembali


dengan Naila, istri sahnya karena sampai detik ini Taufiq tidak pernah


mengucapkan talaq untuknya.


“Mas sudah punya istri?” tanya Naila. Sungguh, mendengar pertanyaan itu membuat Taufiq


bingung harus menjawab apa karena yang bertanya adalah istrinya sendiri.


“Emm punya tapi ia mengalami kecelakaan hebat satu tahun setengah yang lalu dan dokter


memvonis dia meninggal.”  Jawab Taufiq.


“Gak.”


“Lah gimana sih katanya dokter menyatakan kalau istrinya mas meninggal berarti istrinya mas


Taufiq sudah di kubur satu setengah tahun yang lalu. Iya kan?”


“Iya kamu benar. Tapi jenazah yang aku bawa pulang dulu ternyata bukan jenazah istriku


melainkan jenazah orang lain.” Jawab Taufiq tersenyum.


“Lah kog bisa bawa jenazah orang lain. Aku kog gak nyambung ya. Maksudnya ini gimana


sih?” Naila mulai KEPO dengan kehidupan Taufiq.


“Karena dulu istriku satu ruangan dengan orang lain. Dan orang itu meninggal sedangkan


istriku, dia memang sempat meninggal tapi ia hidup lagi tapi kondisinya kritis.


Sedangkan aku sendiri tidak tau kalau ternyata di ruangan itu ada dua orang.


Jadi pas dokter memanggil, aku langsung datang. Dan dokter itu bilang istriku


sudah meninggal, aku langsung pinksan waktu itu.”


“Terus?”


“Iya ternyata yang meninggal adalah wanita yang tidak di ketahui identitasnya karena


dia korban tabrak lagi.”


“Terus mas gak cek jenazah istrinya tah?”


“Gak karena aku gak sanggup melihat wajahnya yang hancur. Keluargaku dan juga keluarga dari


istriku juga tidak ada yang melihatnya.”


“Terus siapa yang memandikan jenazah itu?”


“Pihak rumah sakit.”

__ADS_1


“Kenapa bukan mas atau keluarga?”


“Tadinya aku ingin memandikan jenazah istriku tapi keadaanku waktu itu sangat kacau dan


aku sering pingsan beberapa kali sedangkan keluargaku dan keluarga istriku


tidak ada yang sanggup untuk melihat wajahnya sehingga pihak rumah sakit


menawarkan diri untuk memandikan jenazahnya dan memasangkan kain kafan.


Sehingga di rumah tinggal menyolati dan menguburkannya saja. Jujur aku tidak


terima waktu itu tapi apalah daya pihak istri yang meminta agar jenazah itu di


mandikan di rumah sakit saja. Aku gak mungkin membantah mertuaku sendiri.”


“Terus  gimana dengan istri mas sendiri?”


“Dia di rawat oleh salah satu dokter  karena semua


dokter waktu itu sudah menyerah apalagi melihat hidup istriku hanya 0,5% tapi


ada satu orang dokter yang sangat percaya jika ia mampu menyembuhkan istriku.


Istriku di bawah ke rumahnya dan di rawat oleh dokter itu bersama dengan


istrinya dengan alat alat yang ia miliki, ia bisa menyembuhkan istriku hanya


saja istriku lupa ingatan karena benturan keras di kepalanya.”


“Mas tau dari siapa semua itu?”


“Kemaren aku menyuruh asistenku untuk menyelidikinya.”


“Oh. Terus  etelah mas tau jika istrinya mas masih hidup kenapa mas gak mencoba untuk


datang kepadanya dan membuatnya ingat kembali sama mas dan keluarganya?”


“Sekarang aku masih mencoba untuk mendekatinya dan aku harap dia ingat kepadaku dan juga


kepada keluarganya. Aku sangat menyayangi dan mencintainya, aku gak mau kehilangan


dia untuk kedua kalinya. Aku akan selalu ada di dekatnya dan tak akan ku


biarkan laki laki manapun mendekatinya karena dia masih sah jadi istriku.


Mungkin hari ini dia tidak inget sama aku tapi aku yakin suatu saat nanti dia


pasti akan ingat siapa diriku.”


“Mas tenyata adalah pria yang sangat setia. Sungguh beruntung gadis itu mempunyai


suami seperti mas.”


“Bukan dia yang beruntung tapi akulah yang beruntung mendapakan dia. Lalu kamu sendiri,


sudah punya pacar belum?” tanya Taufiq.


“Belum.”


“Kenapa?”


“Aku gak tertarik sama pria manapun lagian aku ingin mengejar cita citaku dan aku ingin


membahagiakan ibuku”


“Oh. Jika sama aku kamu tertarik, gak?”


“Sedikit tapi berhubung mas sudah punya istri jadi aku gak berani.”


“Oh.  Andai aku gak punya istri, kamu mau sama aku?”


“Hemm gak tau juga sih…hahaha………aku belum kefikiran sampai ke situ.”


“Hemm iya sudah, kamu fokus aja dengan cita citamu, aku akan membantumu semampuku. Oh ya


jika kamu ada masalah, jangan sungkan sungkan untuk memberitahu aku karena aku


akan selalu ada untuk kamu kapanpun dan dimanapun. Kita kan sekarang sudah jadi


teman dan sesama teman harus saling membantu. Jadi aku harap mulai hari ini


kita gak usah ngomong terlalu formal. Bicaralah sama aku seperti kamu berbicara


dengan temanmu sendiri. Oke.”

__ADS_1


“Oke deh.”


__ADS_2