
Taufiq mencari tau siapakah Naila sebenarnya. Ia menelvon sahabatnya yang kebetulan
kerja di rumah sakit di mana Cinta di rawat.
“Hei Bro…. tumben nelvon ada apa?” tanya seseorang dari sebrang telvon.
“Kamu ada waktu gak sekarang?” tanya balik Taufiq.
“Ada. Kebetulan hari ini aku gak kerja. Emang kenapa bro. Kangen ya……..” goda Ahmad,
sahabat Taufiq.
“Ada hal yang ingin aku tanyakan. Sekarang kamu ada di mana?”
“Aku ada di rumah bro. Emang kamu mau ke sini tah?”
“Iya. Tunggu aku dan jangan kemana mana.” Ucap Taufiq. Ia pun segera mengambil kunci
mobilnya dan segera pergi dengan terburu buru bahkan para karyawan yang senyum
ke arahnya di acuhkan. Yang ada dalam fikiran Taufiq hanyalah Cinta istri
tercintanya.
Taufiq mengemudi dengan kecepatan tinggi dan hanya dalam hitungan 25 menit Taufiq
sudah sampai di depan rumah sahabatnya. Untung saja Taufiq sangat lihat dalam
mengemudi sehingga ia bisa selaamat sampai tujuan. Andai saja ia gak lihai dan
pergi dengan kecepatan tinggi, bisa kecelakaan di tengah jalan. Betul gak?
Di depan halaman rumah sahabatnya, ia sudah melihat sahabatnya yang lagi duduk santai
menunggu kedatangannya.
“Wow, kamu tambah tampan aja bro.” Ucap Ahmad sambil menyalami sahabatnya.
“Ayo masuk.” Ujar Ahmad, Taufiq pun langsung masuk ke ruang tamu dan duduk di Sofa.
“Aku bikinin teh dulu ya.” Tawar Ahmad. Tapi langsung di cegah oleh Taufiq.
“Aku ke sini Cuma sebentar jadi gak perlu repot repot untuk bikin teh segala.” Ucap
Taufiq.
“Kog Cuma sebentar sih, kita kan udah lama gak ketemu. Ayolah kita bisa ngobrol sambil minum teh”
Rayu Ahmad. Taufiq yang ingin mencari tau tentang istrinyapun akhirnya
menyetujuinnya. Demi sahabatnya dan demi rahasia yang selama ini di simpan oleh
pihak rumah sakit.
“Baiklah.” Ujar Taufiq. Ahmad pun segera pergi ke dapur dan bikin dua gelas teh hangat tak
lupa ia membawa camilan ringan untuk di hidangkan di depan tamunya.
Tak butuh waktu lama hanya dalam hitungan 10 menit
__ADS_1
Ahmad sudah kembali dan membawa teh serta camilannya. Ia menaruh di meja dengan
pelan agar teh itu tidak tumpah.
“Jangan di minum dulu masih panas. Sambil nunggu teh nya hangat, kamu boleh tanya apapun
deh.” Ucap Ahmad tersenyum.
“Kamu inget satu setengah tahun yang lalu, istriku mengalami kecelakaan dan ia di vonis
meninggal tapi aku gak yakin jika jenazah itu adalah istriku.” Ucap Taufiq
tanpa basa basi.
“Kenapa kamu bisa gak percaya?” tanya Ahmad.
“Wajah istriku emang penuh luka dan darah tapi entah kenapa aku merasa jika jenazah
yang di bawa pulang oleh keluargaku waktu itu bukanlah jenazah istriku
melainkan jenazah orang lain. Apa waktu istriku di bawa ke sana juga ada orang
yang mengalami kecelakaan yang sama?” tanya Taufiq.
“Bentar aku ingat ingat dulu.” Ujar Ahmad. Ia berusaha untuk mengingat ingat kejadian satu
setengah tahun yang lalu. Setelah ia ingat barulah ia buka suara lagi.
“Aku ingat sekarang. 10 menit sebelum kamu datang membawa istrimu memang ada wanita yang
kecelakaan tragis, mukannya hancur . Ia korban tabrak lari dan sayangnya dia
Dan setahuku dia sudah meninggal dunia akibat pendarahan di kepalanya. Tapi
jika istrimu aku gak tau. Tapi kata dokter Ardi istrimu memang sempat meninggal
tapi hidup lagi namun jantungnya sangat lemah. Aku juga gak tau kenapa bisa
ketuker seperti itu. Kenapa kamu gak cek dulu. Memang benar kalau ruangan yang di pakek istrimu waktu itu di
pakek juga oleh korban tabrak lari. Dan ketika dokter memanggil keluarganya,
kenapa malah kamu yang jawab dan mengaku sebagai suaminya. Dokterkan jadi
mengira korban tabrak lari itu adalah istrimu. Dan ketika jenazahnya di bawa ke
kamar mayit kamu pinksan sedangkan keluargamu gak ada yang berani melihat
wajahnya karena sudah teramat hancur. Dan pihak rumah sakit langsung memandikan
dan memasangkan kain kafan. Sedangkan istrimu masih hidup tapi koma. Saat
dokter memanggil keluarganya, gak ada satupun yang jawab sehingga dokter Ardi
meminta kepada pihak rumah sakit untuk dirawat di rumahnya saja karena
kebetulan di rumah, dokter Ardi mempunyai beberapa alat untuk menunjang
kehidupan istrimu sedangkan jika tetep di rawat di rumah sakit, Istrimu gak
__ADS_1
mungkin di reken karena gak ada yang mau bertanggung jawab dengan
administrasinya. Siapa coba yang mau bayar untuk seorang gadis yang gak punya
keluarga. Lagian kamu juga kenapa bisa ketuker gitu. Seharusnya kamu cek dulu,
itu benar jenazah istrimu atau bukan jangan langsung main pingsan gitu aja.
Tapi mungkin ini semua adalah takdir. Gimana gak mau di bilang takdir di saat
semua dokter menyerah karena melihat keadaan istrimu yang sudah di ambang
kematian bahkan ia bisa bertahan hiduppun hanya 0,5% saja. Tapi dokter Ardi
bersikeras ingin menolong istrimu dan membawanya ke rumah. Emang kenapa tiba
tiba kamu nanya gitu?” tanya Ahmad tanpa merasa bersalah. Seharusnya ia sudah
dari dulu menjelaskan kepada sahabatnya bukan malah membiarkan sahabatnya
terpuruk sampai begitu lamanya. Bahkan Ahmad mungkin tak akan cerita jika
Taufiq tak menanyakannya.
“Jadi benar wanita yang di bawa oleh Dokter Ardi itu adalah istriku?” tanya Taufiq tak
percaya.
“Kayaknya sih benar. Karena jenazah yang di bawa pulang oleh keluargamu adalah jenazah
orang lain.”
“Astaga, kenapa kamu gak bilang dari dulu?”
“Lah kamu juga gak tanya.” Jawaab Ahmad yang tak ingin dirinya di salahkan.
“Oke oke, aku yang salah karena aku tidak mencari tau kebenarannya. Kalau gitu, aku
permisi dulu ya.” Pamit Taufiq.
“Lah kenapa mau pamit, tehnya aja belum di minum.” Cegah Ahmad.
“Aku kan harus ketemu istriku.”
“Emang kamu tau di mana istrimu?”
“Yup.”
“Iya sudah kalau gitu, kamu minum dulu tehmu setelah itu baru boleh pulang. Aku kan sudah
menjawab pertanyaanmu paling tidak kamu hargai aku yang sudah capek capek
bikini kamu teh.” Ucap Ahmad.
“Baiklah, aku akan minum teh ini sampai habis.” Taufiq pun segera meminum teh itu sampai
benar benar ludes. Setelah selesai, ia segera pamit menuju kantornya karena ia
harus memikirkan bagaimana ia bisa dekat dengan Naila alias Cinta dan
__ADS_1
mengembalikan ingatan dia.