
Sekarang giliran Pram untuk mengantarkan kedua adik kembarnya untuk berangkat kuliah. Biasanya sih selalu di antarkan sopir tapi jika Ani dan Ana males, pasti mereka akan meminta ke tiga kakak kembarnya untuk antar jemput mereka secara bergantian. Seperti sekarang ini, kini giliran Pram yang harus mengantarkan mereka.
Di dalam mobil Ani dan Ana bercerita panjang lebar ini dan itu dan Pram hanya menanggapinya dengan senyuman dan kadang mengatakan iya, enggak. Ya hanya itulah responnya beda jika Ani dan Ana bercerita dengan Will. Will sangat ceria dan apapun yang Ani dan Ana ceritakan, Will akan mendengarkan dengan seksama dan akan ikutan bercerita juga. Will emang terkenal dengan keramahannya dan suka senyum beda dengan Pram dan Jay yang dingin dan hanya mengeluarkan suara seperlunya aja tapi jika berhadapan dengan keluarga Pram dan Jay juga kadang bisa ramah juga kog. Tapi ini cuma kadang ya..........
Sesampai di kampus, Pram melihat Ica dan Ila yang menunggu kedua adik kembarnya itu. Walaupun mereka beda fakultas tapi Ila dan Ica serta kedua adik kembarnya selalu menyempatkan waktu untuk bertemu walau hanya sebentar. Yah untuk melepas rindu dan kangen kangenan karena bagaimanapun Ica, Ila, Ani dan Ana sudah dekat sedari kecil sama mereka.
Pram hanya tersenyum ketika mata dia bertemu dengan mata Ica. Sebenarnya Sam suka sama Ica sudah dari kecil hanya saja Pram berusaha untuk memendam perasaaannya serapat mungkin hingga tak ada satupun yang tau. Apalagi umur mereka yang terpaut hanya beberapa bulan saja. Andai saja Pram gak loncat kelas dan tidak mempercepat pendidikannya, mungkin sekarang ia masih bisa ke kempus bareng Ica. Tapi sayang, otaknya yang terlalu pintar membuat ia sudah harus lulus S3 di usianya yang sekarang. Dan kini ia harus berkutat dengan dunia bisnis di saat semua orang yang seusianya masih sibuk menghambur hamburkan uang orang tuanya dan menikmati masa masa sekolah mereka. Pram hanya bisa menghela nafas. Pram percaya ini semua adalah takdir dan ia yakin kelak ia akan bahagia dengan seiring berjalannya waktu. Toh jika memang Ica adalah jodohnya, kelak ia dan Ica pasti akan bersatu dalam ikatan yang sah.
__ADS_1
Setelah Ani dan Ana turun dari mobil dan langsung menghampiri Ica dan Ila. Pram pun langsung melanjutkan mobilnya menuju kantor.
"Kog kakakmu gak turun sih. Segitu sombongnya." Ucap Ila yang melihat Pram hanya menata mereka dari dalam mobil.
"Kak Pram sekarang ada meeting jadi ia harus secepatnya pergi. Sebenarnya juga kakak gak mau nganterin aku dan Ani tapi karena kami memaksa akhirnya dia mau." Ucap Ana yang gak mau jika Ila dan Ica berfikir negatif tentangk kakaknya itu.
"Padahal usia kami hampir sama tapi ketiga kakakmu sudah pada kerja semua sedangkan aku masih saja sibuk dengan tugas kampus yang begitu numpuk." Ucap Ica sedih karena otaknya yang kadang lemot hingga ia gak bisa loncat kelas seperti Pram, Will dan Jay.
__ADS_1
"Ya aku juga bingung kalian yang seharusnya duduk di SMP. Eh malah satu kampus sama aku. Gila banget! hemmm." Ucap Ila yang kadang gak habis fikir bagaimana bisa semua anak bunda Cinta bisa lulus dengan begitu cepat semua. Beda dengan dirinya dan saudara kembanya yang otaknya lemot dan butuh kerja keras agar bisa mendapatkan nilai yang bagus.
"Dan lebih aneh lagi kenapa kita bisa kembar semua. Iya gak sih? kakakku kembar 3, aku juga kembar. Ya walau hanya kembar 2. Dan kalian juga kembar. Aneh gak? Kenapa kita di takdirkan untuk lahir kembar. Gak kayak orang orang di luar sana. Banyak banget orang di luar sana yang pengen banget punya anak kembar tapi gak pernah terjadi. Tapi kedua orang tua kita gak pernah berharap bisa melahirkan anak kembar. Eh malah kembar semua. Lucu kan?" tanya Ana yang gak habis fikir karena sang bunga melahirkan anak kembar terus padahal omma sama oppanya gak ada yang kembar bahkan dari dulu gak ada yang melahirkan kembar.
"Iya aku juga bingung." Ucap Ila
"Mungkin ini adalah takdir dari yang maha kuasa." Ujar Ica yang selalu berfiir positif.
__ADS_1
"Yah, kamu benar. Mungkin ini adalah takdir. Bukankah tidak ada yang tak mungkin jika Allah sudah berkehendak." Seru Ani tersenyum.
Setelah itu mereka pun ngobrol sana sini hingga satu jam berlalu. Dan setelah itu mereka pun mencar dan masuk ke kelas masing masing.