
Saat Naila
berkunjung ke rumah bu wati. Sungguh bu wati kaget bahkan ia sempat pingsan
selama kurang lebih 2 jam. Bu wati kaget karena melihat Naila yang tiba tiba
ada di hadapannya. Melihat Bu Wati kaget, Taufiq langsung sigap menggendong Bu
Wati dan menaruhnya di kamarnya. Anaknya yang masih kecil terus saja menangis
karena melihat ibunya yang tak sadarkan diri. Naila mencoba untuk menghibur
anak kecil itu.
“Ka, ini
sebenarnya ada apa sih. Kenapa bu Wati sampai pingsan melihat aku?” tanya Naila
dengan nada sedih. Ia tetap menggendong anak kecil itu karena ia tak mungkin
membiarkan anak kecil itu terus menangis melihat ibunya yang tak kunjung
sadarkan diri.
“Semua
orang yang melihatmu pasti akan pingsan sayang karena mereka mengira kamu hidup
kembali. Soalnya waktu jenazah itu di kuburkan, Bu wati beserta anaknya juga
hadir di pemakaman itu. Nanti biar mas yang menjelaskan kepada Bu Wati. Kamu
tenang aja ya..” Ucap Taufiq mencoba menenangkan istrinya.
“Mas kenal
sama Bu Wati itu di mana?” tanya Naila.
“Dari kamu
sayang. Dulu kamu menemukan Bu Wati di pinggir jalan ia menangis karena anaknya
sakit tapi ia gak bisa membawanya ke rumah sakit. Lalu kamu menolongnya dan
membawa mereka ke rumah sakit untuk periksa. Setelah itu kamu mencarikan
kontrkan kepada bu Wati dan memberikan modal kepada Bu Wati untuk membuka usaha
untuk bisa memenuhi kehidupannya. Dan kontrakan yang di tempati bu Wati
sekarang ini adalah kontrakan yang kamu sewa untuk mereka bahkan kamu juga yang
bayar tiap tahunnya. Berhubung kemaren kamu gak ada jadi mas yang menggantikan
posisi kamu membayar uang kontrakan serta mas juga memberikan mereka uanag tiga
bulan sekali. Mas tau tentang Bu Wati ya karena kamu yang cerita ke mas setelah
kita menikah. Kamu juga yang telah memperkenalkan mas dengan ibu panti beserta
pengurus panti dan kamu juga yang mengenalkan aku ke anak anak pantis sampai
aku dekat dengan mereka. Dulu kamu adalah orang yang sangat baik sayang, kamu
rela ngirit uang jajan agar bisa menabung untuk membantu panti asuhan dan juga
fakir miskin bahkan tak jarang kamu juga membantu ayahmu di kantor dan uangnya
juga kamu tabung untuk bisa membantu mereka semua. Jujur aku salut sama kamu
sayang. Kamu bagaikan bidadari, hatimu sangatlah lembut dan baik. Semua orang
yang mengenalmu pasti akan mengatakan bahwa kamu adalah orang baik dan aku
beruntung bisa memperisitri kamu sayang.” Ucap Taufiq, ia menitikkan air mata.
__ADS_1
Naila merasa tak tega dengan penuh cinta dan kasih sayang, ia pun menghapus air
mata itu.
“Jangan
menangis, mas. Maafkan aku yang belum bisa mengingat itu semua tapi aku janji
mas aku akan bersikap baik seperti dulu lagi. Aku akan berusaha menjadi istri
yang baik untukmu. Maafkan aku ya mas, maafkan aku sudah meninggalkan mu dan
membiarkan kamu tersiksa dengan kepergianku.” Ucap Naila, ia memeluk Taufiq
erat. Sedangkan anak kecil yang melihaat mereka berdua hanya bisa diam dan
memerhatikannya.
“Kamu gak
perlu minta maaf sayang, ini semua bukan salah kamu. Tapi ini adalah takdir,
Allah sedang menguji rumah tangga kita sayang. Dan kita harus bisa melalui
ujian ini. Memang sangatlah berat tapi mas yakin di balik semua masalah ini
pasti Allah sedang merencanakan sesuatu yang berharga untuk kita. Gimana jika
mulai nanti kamu tinggal sama mas lagi, kita pergi ke rumah mama dan papanya
mas. Sungguh, setelah di fikir fikir mas gak bisa jauh lagi dari kamu sayang.
Mas gak mau kamu ninggalin mas. Mas ingin kita kita tinggal satu atap lagi
sayang. Untuk sementara waktu, kita bisa tinggal sama mama dan papanya mas.
Setelah kamu sudah terbiasa dngan mas, baru kita akan tinggal di rumah kita
yang dulu pernah kita termpati berdua sayang. Rumah itu sampai sekarang masih
gimana?” tanya Taufiq.
“Terus
gimana dengan Bunda Inah mas. Bagaimanapun juga dia sudah merawat aku selama
ini.”
“Untuk
bunda Indah, biarkan dia tidur di sana dulu. Besok kita akan mencarikan rumah
yang dekat dengan RESTO kamu jadi bunda bisa setiap hari ke sana. Sedangkan kamu bisa tiinggal bersama mas. Tapi
kamu jangan bilang ke bunda kalau kamu akan tinggal sama mas. Kamu bilang aja
kalau kamu akan tinggal di kontrakan yang dekat dengan kampus biar kamu enak
kalau ke kampus gak terlalu jauh.”
“Tapi aku
gak suka boong mas.”
“Kamu gak
boong sayang. Kamu memang akan tinggal di rumah yang ada di dekat kampus kamu.
Kebetulan rumah mama dan papa dekat kampus kamu sayang sedangkan rumah kita
dekat dnegan kantor mas. Jadi kamu gak boong.”
“Baiklah,
nanti aku akan bilang ke bunda. Semoga bunda ngizinin ya.”
__ADS_1
“Iya semoga
aja. Amin.
Setelah
mereka selesai ngobrol, Bu Wati bangun. Taufiq dan Naila pun segera
menghampirinya. Bu Wati masih tidak percaya jika Cinta yang ia kenal masih
hidup pek sekarang. Bu Wati memegang tanganya dan memeluk Naila dengan erat.
Nailapun membalas pelukan Bu Wati. Setelah mereka selesai berpelukan, Taufiq
mencoba menjelaskan secara detail kepada bu Wati. Bu Wati mendengarkan
penjelasan Taufiq dengan seksama, kadang Bu Waati menangais terharus sambil
terus memegang tangan Naila.
Setelah
selesai cerita, Bu Wati langsung mengucapkan banyak syukur karena Allah masih
memberikan kepada Cinta/Naila untuk merasakan hidup lebih lama lagi.
“Sungguh,
ibu sangat senang nak. Kamu bisa hadir kembali di tengah tengah kebahagian ibu.
Walaupun kamu bukanlah anak ibu tapi ibu sudah menganggap kamu sebagai anak ibu
sendiri. Kamu sangat baik sama ibu dan anak ibu, ibu selalu berdoa semoga Allah
selalu memberikan kebahagian kepadamu Nak.” Ucap Bu Wati sambil mencium kening
Naila. Walaupun Naila gak ingat siapa ibu Wati tapi ia bisa merasakan ketulusan
Ibu Wati dalam menyayangi dirinya.
“Saya juga
berharap Allah bisa menjaga ibu dan memberikan ibu serta anak ibu kebahagiaan.
Oh ya jika ibu ada perlu apa apa, ibu bisa datang ke RESTO BASMALLAH. Itu RESTO
saya, jika ibu ingin makan di sana, ibu gak perlu bayar karena khusus ibu, saya
gratiskan.”
“Makasih
sayang, walaupun kamu hilang ingatan tapi kamu masih tetep aja baik mungkin
memang dasarnya kamu adalah orang baik jadi gimanapun kamu. Kamu akan tetep
jadi roang baik.”
“Oh ya bu,
kami gak bisa lama lama di sini karena kami masih ada urusan.” Ucap Taufiq.
“Baiklah
nak, hati haati di jalan dan sering seringlah datang ke sini. Kalian adalah
keluarga ibu di dunia ini. Ibu sangat senang jika kalian bisa datang dan main
ke tempat ibu.” Ucap ibu Wati.
“Akan kami
usahakan untuk bisa sering ke sini.” Ucap Naila.
Setelah
__ADS_1
mereka pergi dari rumah Bu Wati, Taufiq mengajak Naila ke Mall.