
Setelah selesai pemakaman, semua orang sudah pada pulang dan sisa keluarga aja yang bertahan di rumah Jay dan Ila.
Mereka gak mungkin bisa pulang ke rumah jika Jay dan Ila dalam keadaan duka seperti ini.
Mereka (keluarga besar Cinta dan Taufiq) ingin selalu ada di dekat Jay dan Ila, agar mereka berdua tidak terlalu sedih atas meninggalnya Alina.
Jay masih terus berada di samping Ila yang sampai sekarang masih belum juga sadar. Ini memang terlalu mendadak dan bener bener seperti mimpi. Kemaren seharian masih bercanda di rumah Cinta, malam nya Alina masih sempat makan kue yg banyak. Paginya langsung demam dan meninggal bahkan kini telah ada di bawah tanah.
Hanya dalam hitungan jam semuanya sudah berubah.
"Nak, makan dulu ya." ucap Cinta karena ini sudah jam 1 siang dan waktunya makan. Cinta memasak makanan kesukaan Jay berharap Jay mau makan walaupun sedikit. Cinta tak ingin jika Jay terus menerus sedih seperti ini dan tak mau makan.
"Gak bun. Aku gak mau makan, aku juga gak laper. Aku cuma mau nungguin istriku sadar." jawab Jay sambil menitikkan air mata.
"Kamu harus sabar ya nak. Allah sedang menguji kesabaran mu, semoga dengan adanya musibah ini. Allah mengangkat derajat kamu." ucap Cinta berusaha menguatkan dan menasehati putranya.
"Iya bun." ucap Jay dengan nada lemah.
"Bunda tinggal dulu ya. Nasi dan lauk pauknya bunda taruh sini, nanti kalau kamu lapar. Kamu bisa langsung makan." ujar Cinta lembut dan Jay hanya menjawab dengan anggukan kepala.
Setelah itu, Cinta keluar karena tak mau mengganggu Jay. Cinta juga harus memberikan waktu buat Jay untuk menenangkan dirinya.
Setelah kepergian Cinta, di kamar hanya tinggal Jay dan Ila yang masih tak sadarkan diri.
"Yank bangun dong, jangan bikin aku sedih."
__ADS_1
"Maafkan aku, gara gara aku putri kita meninggal. Andai tadi malam aku gak ngajak kalian berdua untuk pergi ke pesta mungkin Alina masih ada bersama kita. Padahal Alina gak boleh terlalu kelelahan karena gampang sakit namun aku tak menghiraukannya hingga akhirnya malah jadi seperti ini."
"Maafkan yank, aku bener bener menyesal. Aku sangat menyesal." ucap Jay sambil menggenggam tangan sang istri.
"Yank kamu harus sabar, kamu harus bisa nerima semua ujian ini walaupun terasa sangatlah berat."
"Yank, aku takut. Aku takut kamu akan meninggalkan aku seperti Alina. Aku gak mau yank. Aku sangat menyayangi dan mencintai kamu. Aku gak mau di tinggal seorang diri. Kamu sangat berharga buatku. Jadi aku mohon, sadarlah dan jangan seperti ini lagi karena rasanya sungguh menyakitkan. Hatiku sakit melihat kamu terbaring lemah seperti ini."
Jay terus saja menangis. Jay takut jika Ila akqn meninggalkan dirinya untuk selama lamanya.
Saat Jay menitikkan air mata, tiba tiba ia melihat tangan istrinya mulai bergerak dan tak lama kemudian Ila mulai membuka matanya sedikit demi sedikit.
"Yank, kamu sudah bangun?" tanya Jay
"Aku ada di mana?" tanya Ila lemah tanpa menjawab pertanyaan suaminya.
"Alina mana mas? Putri kita mana? Aku mimpi dia ninggalin kita mas. Aku takut." ucap Ila sedih sambil terus menangis. Jay memeluk Ila dengan sangat erat.
"Mas Alina mana?" tanya Ila.
"Dia sudah tiada sayang. Kamu harus bersabar ya. Allah sedang menguji rumah tangga kita." jawab Jay sambil terus memeluk sang istri.
"Enggak mas, kamu pasti bohong. Iyakan? Kamu ingin ngerjai seperti biasanya kan? Aku gak percaya Alina tiada. Dia kemaren seharian main sama kita, main sama keluarga kamu bahkan tadi malem dia masih asyik makan sambil nari nari di pesta temen kamu mas. Aku mohon mas, tolong jawab aku, dimana Alina?" tanya Ila histeris sambil berusaha melepaskan pelukannya dari tubuh Jay.
"Alina sudah tiada yank. Bahkan dia sudah di makamkan." jawab Jay yang membuat Ila semakin histeris.
__ADS_1
"Mas bohong, aku gak percaya sama mas. Mas pasti bercanda. Jika memang Alina meninggalkan aku, aku akan menyusulnya mas. Aku akan menyusul dia." ujar Ila sambil berusaha lepas dari pelukan suaminya dan mengambil pisau yang ada di meja. Ya pisau itu selalu ada di kamarnya untum mengupas buah jika tiba tiba ingin makan buah. Namun walaupun hanya pisau buah, pisau itu lebih tajam dari pada pisau dapur.
"Ila, jangan seperti ini. Kamu mau meninggalkan aku? Iya? Alina sudah meninggalkan kita dan sekarang kamu juga mau meninggalkan aku. Kamu gak kasihan sama aku? Kamu gak memikirkan bagaimana perasaan aku? Jika kamu gak ada lalu bagaimana dengan aku? Kamu tega aku hidup sendirian? Kamu tega menghancurkan hidup aku dan membuat aku mati perlahan karena merasa hidupku sudah tak sempurna.
Aku tau ini berat, tapi aku mohon. Tolong jangan melakukan hal seperti ini. Kamu gak kasian sama aku? Sama Mama Elsa? Papa Angga? Bunda Cinta? Ayah Taufiq dan Saudara kembarmu Ica. Kamu gak kasihan sama mereka semua? Kamu gak kasian dengan orang orang yang ada di sekitar kamu, yang tulus menyayangi kamu.
Aku mohon, jangan melakukan hal bodoh. Setiap rumah tangga memang ada ujiannya masing masing. Kamu gak inget dengan saudara kembarmu Ica, dia juga kehilangan putra pertamanya. Bahkan sebelum Ica merawat nya, dia sudah tiada dalam kandungan.
Kamu gak inget bagaimana rumah tangga Will dan Aisyah. Baru beberapa hari mereka nikah, mereka harus kecelakaan hingga membuat Will koma dan bahkan merasa frustasi ketika ia sadar, namun istrinya gak ada.
Bahkan mereka berpisah selama setahun setengah. Padahal mereka masih pengantin baru waki itu. Tapi Allah mengujinya sama seperti kita sekarang.
Apa kamu fikir dengan kamu bunuh diri lalu kamu akan bertemu langsung dengan putri kita.
Plis, aku mohon. Jangan bertindak ceroboh yang bisa merugikan kamu sendiri. Kamu masih punya aku, punya mama, punya papa, punya ayah, punya bunda, punya saudara dan juga orang orang sekitar kamu.
Tolong, jangan lakukan itu. Memang ini sangatlah berat. Tapi inilah ujian rumah tangga kita. Selama ini kita selalu hidup mewah, apapun yang kita mau, kita tinggal beli. Kita juga punya orang orang yang sayang sama kita. Dari dulu hidup kita begitu sempurna.
Mungkin saatnya Allah memberikan kita ujian agar Allah tau sampai mana kesabaran kita dalam menghadapi ujian ini.
Semoga dengan adanya masalah ini, Allah anhkat derajat kita.
Lagian bukankah Allah tak akan menguji hambanya di luar batas kemampuan manusia. Aku mohon jangan lakukan itu ya " ucap Jay dengan suara yang sangat memohon.
"Tapi aku gak bisa hidup tanpa Alia mas." ujar Ila dengan suara sendu.
__ADS_1
"Aku tau, aku mengerti bagaimana perasaanmu. Aku sangat sangat faham. Dia juga anakku jadi aku tau betul bagaimana perasaanmu yank tapi kita gak boleh sampai membahayakan diri kita hanya untuk menyusul Alina yang mungkin sudah bahagia di sisi Allah. Kita harus bisa mendekatkan diri kepada Allah dan melakukan amal kebaikan agar kelak kita bisa bersatu kembali dengan Alina di surga Nya." ujar Jay yang terus menerus menasehati istrinya agar istrinya itu tak mencoba untuk bunuh diri. Jay tak tau bagaimana menjalani hidup ini jika gak ada Ila di sampingnya.