
Sesampai di Hotel milik Taufiq, mereka langsung memasuki kamar VVIP. Taufiq menggunakan
kamar khusus untuk mereka berdua. Sesampai di kamar, Taufiq menyalakan tivi
agar Naila tidak terlalu sumpek di kamar itu dan karena kamar itu kedap suara
jadi Taufiq dan Naila bisa berbicara santai tanpa takut ada yang mendengarnya.
“Mas gak kerja?” tanya Naila sambil tidur di dada Taufiq dan memeluk taufik erat.
“Gak sayang. Mas libur dulu. Capek juga lagian sejak kamu pergi mas kerja hampir 24
jam sekarang mas ingin cuti panjang. Lagian mas kan sudah ada tangan kanan yang
akan mengurus perusahaan mas dan juga mas yakin, papa pasti akan turun tangan
bantuin mas selama mas cuti kerja.” Jawab Taufiq sambil mengelus rambut Naila.
“Enak ya mas jadi bos.” Ucap Naila.
“Kamu kan sekarang juga jadi bos sayang.” Ujar Taufiq.
“Iya ya, aku kan juga punya banyak pegawai dan akulah yang menggaji mereka jadi secara
tidak langsung, aku memang bos mereka walaupun aku merasa aku bukanlah seorang
bos. Oh ya mas, besok aku masuk kuliah.”
“Emmm gitu ya, emang gak bisa libur lagi?” tanya Taufiq.
“Masak aku di suruh libur terus sih mas. Kapan selesainya?”
“Iya juga sih. Iya sudah mulai besok mas yang akan antar jemput kamu. Apa perlu mas ngelamar
jadi dosen di sana biar kita bisa ketemuan terus.”
“Enggak usah deh mas. Temen temenku banyak yang genit genit. Aku takut mas di godain ma
mereka semua. Aku gak sudi suamiku jadi bahan rebutan wanita lain.”
__ADS_1
“Jadi kamu cemburu nih?” goda Taufiq.
“Iya dong. Emang mas gak cemburu ya jika aku di godain ma cowok lain?”
“Iya cemburu dong. Jika ada yang macam macam dekatin kamu, akan mas hajar mereka
satu persatu.” Jawab Taufiq.
“Emang mas berani?” tantang Naila.
“Gak sih, tapi kan mas bisa nyuruh orang buat hajar mereka.” Ucap Taufiq.
“Yaelah mas mas, masak dikit dikit nyuruh orang. Kapan mandirinya mas?” tanya Naila.
“Lah, emang mas kurang mandiri ya. Perasaan mas udah mandiri banget kog. Mas kerja sendiri,
menghasilkan uang dan bisa beli rumah sendiri, beli mobil sendiri, makan gak
minta ke orang tua atau ke orang lain. Semua kebutuhan mas, mas beli sendiri. Emang
itu belum cukup untuk di katakan mandiri ya?” tanya Taufiq.
“Kog bisa belum?”
“Karena semua yang mas lakukan kebanyakan nyuruh orang.”
“Mas nyuruh orang kan karena mas punya banyak uang sekalian mas bisa berbagi rezeki sama
mereka.”
“Iya deh, terserah. Tidur yuk mas, ngantuk nih.”
“Oke kita akan tidur tapi sebelum tidur, kita gitu gituan dulu yuk.”
“Gitu
gituan gimana maksudnya mas. Kalau ngomong yang jelas dong, aku mana faham.” Ucap
Naila cemberut.
__ADS_1
“Kita olah
raga yuk kayak tadi malem?” ajak Taufiq.
“Yaelah mas
mas, mau ngomong gitu aja kog bulet. Yaudah ayo. Tapi aku yang di atas.” Ucap
Naila.
“Iya deh terserah.” Ujar Taufiq.
Merekapun melakukan hubungan badan kembali sampai mereka lelah dan akhirnya tertidur.
Mereka hanya melakukan kurang lebih satu jam.
-----------------------------------
Merekabangun tidur jam setengah 2. Taufiq dan Naila segera mandi besar lalu melaksanakan
sholat dhuhur berjamaah. Selesai sholat mereka menyempatkan waktu untuk ngaji
bersama secara bergantian. Selesai mengaji, mereka leyeh leyeh di tempat tidur
sambil peluk pelukan.
“Ternyata peluk pelukan itu enak ya mas.” Ucap Naila.
“Iya jelas dong. Apalagi kita sudah halal jadi kita bebas melakukan apa aja. Emang kenapa,
kamu masih kurang?” tanya Taufiq.
“Kurang apa?” tanya Naila tidak mengerti.
“Yang tadi.” Jawab Taufiq tersenyum.
“Gak ah, aku males lagian aku sudah puas tadi dan belum kepengen juga. Nanti malem aja
deh.”
__ADS_1
“Oke siap.” Ucap Taufiq tersenyum senang. Ia memeluk sang istri dengan erat.