
Keesokan harinya, mereka keluarga besar sudah ada di ruang makan. Jay, Wil, Pram, Rachel, Arsha, Taufiq, Angga, Elsa, Cinta, Ila, Ica, Ani, Ana, Aisyah. Hanya Ibu Inah yang belum keluar dari kamar. Sedankgan kedua orang tua Taufiq dan Cinta sudah pulang tadi malam. Alina sendiri masih tidur di kamar Jay dan jgua Ila.
"Bun, Ibu Ila kog belum keluar ya?" tanya Ani.
"Entahlah. Coba kamu bangunin." Jawab Cinta lembut.
Ani di temani dengan Ana pun pergi ke kamar Ibu Inah. Mereka mengetok pintu 3x tapi gak ada sahutan. Akhrinya mereka pun membuka pintu dan membangunkan Ibu Inah. Tapi mereka merasa ada yang janggal. Ani pun berteriak hingga membuat orang yang ada di rumah itu datang berhamburan.
"Ada apa sayang?" tanya Cinta.
"Ibu Inah kenapa dia gak bernafas?" tanya Ani.
Will pun segera mengecek keadaan Ibu Inah dan ternyata..........
__ADS_1
"Kenapa nak?" tanya Cinta.
"Dia sudah tiada bun." Jawab Will sedih.
Mereka yang di sanapun langsung sedih dan menangis seketika, mereka gak menyangka kalau Ibu Inah akan meninggal dalam waktu dekat. Padahal dari kemaren Ibu Inah masih bantu bantu menyiapkan pertunangan Ani dan Ana bahkan tadi malam Ibu Inah masih sempat ngobrol dengan Ibu Wati dan anaknya yang juga hadir di pesta pertunangan Ani dan Ana tapi kini Ibu Ani sudah tiada.
Taufiq pun dengan sigap langsung memberitahu keluarga besarnya untuk datang ke rumahnya agar mereka bisa melihat Ibu Inah untuk yang terakhir kalinya.
Cintalah di sana yang paling sedih karena Cinta adalah anak angkat Ibu Inah. Cinta bahkan sampai pingsan beberapa kali.
------------------------------------------------
__ADS_1
-------------------------------------------------
1 bulan setelah kematian Ibu Inah, Cinta pun mulai bisa menerima kepergiannya. Walau bagaimanapun semua makhluk yang hidup di muka bumi ini pasti akan meninggal.
"Yang sabar ya yank." Ucap Taufiq sambil menemani istrinya duduk di taman belakang meliihat taman yang indah karena tiap hari di rawat.
"Aku tau ini berat. Tapi kamu gak boleh seperti ini, kamu harus kuat. Ibu Inah sudah tenang di sana. Jadi kita gak boleh terus menerus menangisi dia, yang di butuhkan Ibu Inah sekarang bukanlh tangisan melainkan doa dari kita." Ucap Taufiq.
"Aku sayang sama dia mas, aku masih belum bisa bahagiain dia. Dari dulu aku sibuk smpai kadang lupa menjenguk Ibu Inah mas. Padahal beliau sangat menyayangi dan mencintaiku layaknya anak kandung tapi aku gak pernah nengokin dia. Bhakan kadang hanya sebulan sekali. Aku emang anak yang tidak tau diri padahal dulu Ibu Inah akan melakuakn apapun demi aku seneng dan bahagia tapi aku, aku malah melupakan kebahagiaannya. Aku malah meminta dia untuk tinggal di rumahku setelah sakit sakitan. Seharusnya aku memintanya sedari dulu bukan setelah dia sakti dan kini ia sudah tiada. AKu menyesal mas." Ucap Cinta sedih.
"Kamu tenang sayang, bukan kamu yang salah. Bukankah kamu dulu pernah beberapa kali meminta Ibu Inah untuk tinggal sama kita tapi dia selalu saja menolak hingga kamu membelikah rumah yang besar agar Ibu Wati dan anaknya bisa tiinggal dengan Ibu Inah dan bisa menjaga Ibu Inah. Kamu jgua sudah mencarikan asisten dan prawat terbaik untuk beliau. Kamu sudah melakuan yang terbaik sayang. Kamu jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Aku gak mau kamu terus menerus terpuruk seperti ini, aku gak mau kamu sakit. Ingat kamu masih punya aku, punya Wil, Jay, Pram, Ani dan Ana serta menantu dan cucu kita. Kamu juga masih punya orang tua dan mertua serta sahabat sekaligus besan ktia yang sayang sama kamu. Sudahlah tak perlu di sesali. Ini emang sudah waktunya buat Ibu Inah pergi. Dari pada seperti ini, mending kamu ambil wudhu dan berdoa untuknya. Itu lebih bermanfaat." Ucap Taufiq.
__ADS_1
Cintapun hanya menganggukk mendengarkan nasihat suaminya. Taufiq memeluk istrinya dna membenamkan kepala istrinya di dadanya.