
Beberapa jam kemudian suara pintu terbuka. Semua orang langsung berhamburan karena ingin tau keadaan Alina.
Will menatap mereka dengan wajah sendu. Ada rasa bersalah yang menyeruak di dalam hatinya karena ia gagal menyembuhkan keponakannya.
"Nak, bagaimana keadaan cucuku?" tanya Cinta khawatir.
"Will, bagaimana putriku? Dia gak papakan?" tanya Jay
"Alina gak papakan kak?" tanya Ila karena pertanyaan bunda dan suaminya tak ada yang di jawab.
"Maaf." ucap Will sambil menitikkan air mata.
__ADS_1
"Apa maskudmu Will?" tanya Jay frustasi.
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Allah lebih sayang Alina dari pada kita semua. Alina sudah tiada." jawqb Will.
"Enggak, kak Will pasti bercanda kan? iyakan?" ucap Ila dengan suara tingginya. Cinta berusaha memeluk Ila, Cinta juga merasa hatinya begitu remuk karena ini kedua kalinya, cucunya meninggal dunia. Dulu anaknya Ica, sekarang anaknya Ila.
"Will, kamu hanya ingin mengerjai kami semua kan? Iyakan? jika kamu ingin membuat aku kaget? jukur, aku kaget banget dan sangat kaget. Jadi stop bercanda saat keadaan seperti ini." Bentak Jay karena ia sudah tak bisa menahan emosinya.
Ila di tidurkan di atas brangkar. Saat Jay menoleh ke samping, di sana ada Alina yang wajahnya sangat pucat dan sudah tak bernyawa. Jay memeluk Alina dan menangis histeris.. Semua yang ada di ruangan itu menitikkan air mata. Cinta dan Taufiq berusaha memberikan kekuatan kepada Pram. Will sendiri juga menangis karena ia merasa gagal menyelamatkan hidup Alina. Will merasa bersalah, ia bisa menyelamatkan orang lain tapi tidak dengan keponakannya sendiri. Will merasa gagal jadi dokter.
Aisyah yang melihat sang suami terus menangis mencoba menenangkan nya.
__ADS_1
"Mas harus kuat. Ini bukan salah mas, mas sudah memberikan yang terbaik. Mungkin memang sudah saatnya Allah mengambil Alina dari kita semua. Aku yakin pasti akan ada hikmahnya di balik semua ini." ucap Aisyah dengan suara pelan namun cukup terdengar oleh Will, suaminya.
Saat mereka lagi berduka, tiba tiba Angel menangis. Mungkin ia sedang kehausan.
Pram memberikannya kepada Ica, Ica yang saat ini juga ikut berduka atas kematian anak dari saudara kembarnya alias keponakannya tetep berusaha tegar. Ia tak bisa melupakan kewajibannya sebagai seorang ibu. Ia harus menyusui putrinya agar tak terus menerus menangis. Ica juga takut kehilangan Angel seperti Ila yang kehilangan Alina. Apalagi dulu Ica juga pernah merasakan putra pertamanya yang meninggal dunia akibat keguguran. Jadi Ica tak semua nya itu terulang kembali. Jadi walaupun saat ini Ica lagi sedih, ia tetap akan memperhatikan kesehatan putrinya.
Ica membawa keruangan Will setelah Ica izin kepada Aisyah untuk menggunakan ruangan suaminya. Karena Ica gak bisa ngomong langsung kepada Will mengingat Will juga terlihat sangat sedih seperti orang yang merasa bersalah.
Setelah Ica membawa Angel ke ruangan Will. Kini ruangan yang di tempati Alina dan Ila yang masih pingsan pun kembali sepi, yang ada hanya suara tangisan.
Aisyah juga sesekali melihat Khaleed yang ternyata sudah tidur di gendongan Rachel. "Andai aku ada di posisi Ila sekarang, aku gak tau bagimana perasaanku sekarang. Mungkin hatiku akan hancur sehancur hancurnya." ucap Aisyah dalam hati.
__ADS_1