Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Pindah Rumah


__ADS_3


Sore hari Jay, Ila dan putrinya (Alina) pulang terlebih dahulu karena mereka masih ada acara yaitu menghadiri acara temen Jay, lebih tepatnya yaitu rekan kerja Jay di kantor.


Setengah jam kemudian Rachel, Ani, Arsha dan juga Ana pun ikut pamit pulang karena mereka ingin jalaj jalan sore. Cinta dan Taufiq pun memakluminya lagian mereka sudah seharian berada di rumah Cinta dan Taufiq.


Dan setelah kepergian mereka berempat Pram, Ila dan putrinya ( Angel ), pun juga pamit pulang hingga kini tersisa Wiil, Aisyah dan juga Khaleed yang ada di rumah Cinta dan Taufiq.


"Apakah kalian juga ingin pulang?" tanya Cinta sendu karena setelah anak, menantu dan cucunya pulang semua. Maka rumah akan kembali lagi menjadi sepi.


Melihat wajah bundanya yang begitu sendu, Will menatap Aisyah.. Aisyah hanya tersenyum dan mengangguk kan kepala, seakan akan ia bilang, aku setuju kita menginap disini.


Will tersenyum seakan mengerti akan tatapan istrinya itu. Will bahagia mempunyai istri yang begitu pengertian dan selalu mengalah demi kebahagiaan orang orang yang ia cintai.


"Aku dan Aisyah akan menginap di sini bun. Bolehkan?" tanya Will lembut.


"Boleh sayang, boleh banget. Bunda dan ayah malah seneng banget jika kalian mau menginap di rumah ayah dan bunda ini." jawab Cinta yang berbinar, karena ia bahagia banget ternyata masih ada anaknya yang mau menginap di rumahnya


"Mas, jika di perbolehkan aku ingin tinggal selamanya bersama dengan ayah dan bunda." ucap Aisyah tiba tiba yang membuat semua orang kaget dengan apa yang si ucapkan oleh Aisyah.


" Kamu beneran sayang lalu bagaimana dengan rumah kita?" tanya Will yang tak mengerti dengan jalan fikiran istrinya itu.


"Rumah kita bisa kita kontrakkan atau kita jual. Terserah mas aja, tapi aku ingin tinggal di sini bersama ayah dan bunda. Aku gak mau ayah dan bunda kesepian mas di rumah yang sebesar ini. Lagian jika mas berangkat kerja, aku juga gak ada temennya dan hanya bermain dengan Khaleed aja di rumah. Tapi jika aku tinggal di sini, aku bisa ngobrol sama ayah dan bunda jika kamu berangkat kerja. Aku gak kesepian, ayah dan bunda pun juga tak kesepian. Apalagi dengan adanya Khaleed di rumah ini yang akan mewarnai rumah ini dengan keceriaan. Aku juga ingin menjadi menantu yang berguna untuk ayah dan bunda. Dan aku berharap dengan mas tinggal di sini, mas bisa lebih berbakti kepada ayah dan bunda." ucap Aisyah yang membuat Will, Cinta dan Taufiq terharu dengan semua kata kata yang keluar dari mulut Aisyah.

__ADS_1


Will memeluk istrinya dengan erat. "Terimakasih sayang, terimakasih karena kamu mau tinggal bersama dengan ayah dan bunda. Semoga setelah ini, hidup kita akan jauh lebih bahagia daripada sebelumnya." ucap Will sambil mencium kening istrinya.


"Makasih ya nak, bunda dan ayah sangat bahagia dengan keputusan kamu." ujar Cinta, ia memeluk menantunya setelah Will melepaskan pelukannya itu.


"Iya sudah, ntar lagi aku akan pulang ke rumah untuk membawa semua barang barang yang kita perlukan. Kamu sama Khaleed di sini aja ya." ujar Will


"Iya mas." jawab Aisyah tersenyum. Setelah itu Will pamit pulang untuk mengambil keperluan yang akan ia bawa ke rumah ayah dan bundannya. Masalah asisten rumah tangga, Will tak kan memecatnya, biarlah mereka terus bekerja di rumah itu sampai ada yang mau mengontrak rumahnya. Will tak kan menjual rumah itu, di karena kan rumah itu adalah pemberian sang ayah saat pernikahannya.


Saat Will pulang untuk mengambil baju dan berbagai macam permainan putranya serta barang barang yang memang penting untuk di bawa.


Aisyah, Cinta dan Taufiq mengobrol di dekat kolam ikan sambil melihat Khaleed yang ngasih makan ikan dengan tangan mungilnya.


"Sayang terima kasih ya sudah mau tinggal di sini sama ayah dan bunda." ucap Cinta.


"Berarti mulai besok ayah tak kan lagi merasa kesepian, karena ada Khaleed yang akan menemani hari hari ayah." ujar Taufiq tersenyum, Taufiq memang sangat menyayangi Khaleed, selain anaknya lucu n gemesin. Taufiq berharap kelak Khaleed akan menjadi seorang ustad yang bisa berbagi ilmu agama untuk banyak orang. Semua anaknya sudah sukses dalam urusan dunia, bahkan masalah bisnis pun jangan di tanyakan lagi.


Tapi sekarang, Taufiq berharap ada salah satu cucunya yang menjadi hafidz Al-Qur'an, dan kuliah di mesir seperti dirinya.


Dan Taufiq yakin, Khaleed adalah cucu yang kelak akan menjadi hafidz Al-Qur'an dan kuliah di universitas Al-Azhar. Mengingat Will dan Aisyah yang selalu mengajarkan agama dan ayat ayat suci Al-Qur'an kepada Khaleed dan Khaleed seperti antusias setiap kali Will dan Aisyah membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


"Oppa, habis." ucap Khaleed dengan suara polosnya sambil menunjukkan wadah yang tadi di isi makanan ikan namun kini telah kosong mlompong.


"Nanti lagi ya ngasih makan ikannya. Sekarang ikut oppa yuk melihat tanaman oppa di luar sana." ucap Taufiq dan Khaleedpun menganggukkan kepala dengan sangat antusias. Taufiq tersenyum, ia memegang tangan mungil Khaleed lalu berjalan ke samping rumah sambil melihat sayuran dan buah buahan yang di tanam sendiri oleh Taufiq. Kini sayuran itu bisa di petik dan ada beberapa buah yang sudah bisa di panen.

__ADS_1


Khaleed menunjuk ke arah buah naga yang memang sudah matang dan siap di petik. Yah Taufiq juga menanam buah naga yang menjalar ke pohon nangka dan pohon rambutan.


"Khaleed mau?" tanya Taufiq.


"Au oppa." jawab Khaleed.


Taufiq pun dengan senang hati mengambil buah itu dan mencucinya lalu memberikan kepada Khaleed.


"Uka oppa." ujar Khaleed. Taufiq pun meminta salah satu asistennya untuk mengambil pisau dan sendok. Setelah mendapatkan pisau dan sendok. Taufiq pun membelah buah naga itu menjadi dua. Dan setelah itu Taufiq menyuapi Khaleed memakan buah naga dengan sendok kecil khusus untuk anak anak.


Cinta dan Aisyah tersenyum melihat interaksi antara kakek dan cucu itu.


"Ayah terlihat sangat bahagia ya bun." ujar Aisyah melihat ayah mertuanya sangat bahagia berkumpul dengan sang cucu. Aisyah tersey karena ia tak salah dalam mengambil keputusan..


"Iya, bunda sangat senang melihatnya. Biasanya jika gak ada kalian, ayah cuma sibuk merawat tanamannya dan juga merawat ikan yang ada di kolam. Bunda juga kadang kasihan melihat ayah yang hanya itu itu terus seperti tak ada semangat. Namun sekarang, bunda seakan akan melihat kebahagiaan yang begitu berbinar di mata ayah dan itu semua berkat kamu nak. Terimakasih sudah memberikan kebahagiaan buat ayah dan bunda." ucap Cinta menitikkan air mata.


"Maafkan aku ya bun karena selama ini gak pernah peka. Andai aku tau hanya dengan kami tinggal di sini bisa membuat ayah dan bunda bahagia. Pasti udah dari dulu aku mangajak Mas Will untuk tinggal di sini." ujar Aisyah, ia merasa bersalah karena ia membiarkan ayah dan mertuanya merasa kesepian dan juga sedih karena tak ada lagi anak, menantu dan juga cucu nya yang bersedia tinggal bersama Cinta dan Taufiq.


"Gak perlu minta maaf sayang, ayah dan bunda mengerti. Kadang memang kalian harus mempunyai rumah sendiri agar bisa belajar mandiri. Lagian sekarang kita bisa berkumpul kembali dan rumah ini akan ramai seperti dulu lagi" ucap Cinta tersenyum.


Saat mereka asyik ngobrol, mereka mendengar bel rumah berbunyi.


"Kayaknya Mas Will, udah sampai bun. Aku mau bantuin Mas Will dulu ya untuk menata barang-barang. Bunda temani ayah aja." ujar Aisyah. Cintapun mengangguk. Ia menghampiri suaminya yang asyik makan buah bersama Khaleed. Sedangkan Aisyah membantu sang suami menata barang-barang nya di dalam kamar yang dulu pernah di pakai oleh Will saat ia masih lajang.

__ADS_1



__ADS_2