
Sejak Ana menikah dengan Arsha, hidup Ana sangatlah bahagia, apalagi ia mendapatkan laki laki yang sangat romantis dan juga pernuh perhatian. Ana merasa menjadi wanita yang sangat beruntung sekali bisa menikah dengan laki laki yang kini telah resmi jadi suaminya.
Walaupun perbedaan umur lumayan jauh, namun Ana tak mempermasalahkan itu semua. Toh banyak kog di luar sana yang umurnya beda jauh tapi hidupnya sangat bahagia. Ana juga selalu aja berusaha untuk menjadi istri yang sholehah, istri yang bisa membahagiakan suaminya dan membuat suaminya nyaman berada di dekatnya.
Asrha juga tidak mempermasalahkan jika Ana menunda kehamilan karena Arsha juga ingin menikmati masa masa berdua sebelum mereka punya dede bayi. Lagian Arsha juga harus membantu sang istri untuk mengelola resto yang di berikan Cinta khusus untuk Ana, karena memang bagian Ana sedangkan yang lain sudah mempunyai bagian tersendiri. Ana mempunyai banyak resto, bahkan sudah ada puluhan resto yang tersebar di luar kota bahkan ada yang sampai ke luar negeri.
Dulu sebelum menikah dengan Ana, Arsha hanya sebagai asisten pribadi Rachel dan juga mengurusi berbagai macam urusan yang berhubungan dengan kantor dan perusahaan. Arsha sangat senang bekerja di bawah naungan Rahchel karena Rachel sangat baik sekali dengannya. Bahkan Arhsa sangat menyayangi Rachel sebagai kakaknya sendiri.
Bagi Arsha, Rachel itu segala galanya, dia adalah orang yang menolong Arsha saat Arsha mencoba bunuh diri karena ia merasa sendiri di dunia ini dan setelah itu Rachel datang menyelamatkannya dan sejak itu pula, Arsha selalu ada buat Rachel. Rachel adalah laki laki baik, ia memberikan pekerjaan dengan posisi lumayan tinggi, Rachel juga memberikan dirinya apartemen dan juga memenuhi semua kebutuhan dan keinginannya. Arsha sangat bahagia karena Allah mengirim Rachel ke dalam hidupnya, saat semua orang sudah tiada dan meninggalkan dirinya sendirian.
Jujur, Arsha sedih saat ia mengundurkan dirinya jadi Asisten Rachel karena bagaimana pun juga, Rachel sudah terlalu baik padanya tapi di lain sisi sebagai seorang suami, ia harus membantu sang istri mengelola usahannya. Tapi untunglah Rachel mengerti dengan keadaaanya. Rachel tak mempermasalahkan dirinya yang berhenti kerja bahkan Rachel memberikan dirinya rumah besar di dekat rumahnya hingga kini rumahnya dan juga Rumah Rahcel bersebelahan.
Awalnya Ana menolak rumah itu, mengingat ayahnya juga ingin membelikan rumah buat dirinya apalagi secara pribadi, Ana juga bisa membeli rumah sendiri walaupun tak semewah rumah yang di belikan oleh Rachel. Tapi setelah Arsha menjelaskan panjang lebar, barulah Ana mencoba untuk menerima. Jujur, Arhsa tak bisa menolak pemberian Rachel yang sudah ia anggap seperti sahabat dan juga kakaknya sendiri. Arsha tak ingin mengecewakan Rachel yang sudah berbaik hati membelikan rumah untuk dirinya sebagai hadiah pernikahan. Walaupun didalam hati, Rachel juga sebenarnya ragu, karena rumah semewah ini, harganya pun jangan di tanya. Tapi dengan rumah ini juga, Arhsa dan Rachel bisa bertemu tiap hari jika ada waktu senggang. Ani dan Ana juga bisa ngobrol bareng jika ada waktu luang dan mereka berdua sama sama tak sibuk tentunya.
Ana dan Arsha seperti di kelilingi orang yang begitu sayang padanya, apalagi yang di inginkan mereka berdua. Mempunyai orang tua yang begitu sayang padanya, mempunyai saudara yang begitu peduli dan perhatian, mempunyai teman dan sahabat yang juga sayang padanya, dan juga mempunyai pekerjaan yang sangat mapan bahkan untuk urusan ekonomi, mereka tak perlu memikirkannya. Apalagi yang mereka inginkan di dunia ini? Mereka berdua merasa hidupnya begitu sempurna bahkan sangat sempurna.
Ana dan Arsha juga selalu bersama 24 jam. Selama di rumah mereka selalu berdua, ketika di luar rumahpun juga selalu berdua karena mereka mengelola resto bersama. Jadi Ana dan Arsha akan terus lengket seperti magnet. Bahkan keromantisan mereka membuat banyak orang yang memujinya dan banyak juga yang iri dengan kehidupan Ana dan Arsha. Ana adalah wanita yang sangat cantik begitupun dengan Arsha, dia laki laki tampan yang bisa memikat wanita manapun tapi Arsha akan memilih setia kepada istrinya. Istri yang kelak akan menjadi ibu dari anak anaknya. Arsha tak ingin neka neko karena Arsha takut Allah akan mencabut semua kenikmaan yang ia miliki saat ini.
\=================
Jam menunjukkan pukul jam 3 pagi, Arsha segera bangun dari tidurnya, ia segera mandi dan setelah itu ia melakukan sholat malam. Arsha sekarang sudah banyak berubah sejak menikah dengan Ana, jika dulu sholat aja kadang ada bolongnya, beda dengan sekarang. Ia akan sholat lima waktu tanpa ada yang bolong satupun, bahkan saat Adzan terdengar, Arsha akan menghentikan semua aktivitasnya walau pun itu sangatlah penting. Arsha memilih untuk ambill wudhu, sholat baru setelah itu melanjutkan aktivitasnya.
Selesai sholat, Arsha mengambil Al Qur'an dan mengajinya dengan suara pelan agar tak mengganggu istrinya yang lagi tidur nyenyak. Arhsa emang sengaja gak membangunkan istrinya karena istrinya sedang datang bulan jadi walaupun di bangunkan, ia juga gak sholat mending tidur aja. Lagian Arsha kasihan melihat istrinya yang hari harinya selalu sibuk mengurus semua resto miliknya sendiri walaupun Arsha sudah membantu sebisa dan semampunya.
Setelah mengaji sekitar sentengah juz, Adzan shubuh berkumandang. Arsha segera sholat, dan selesai sholat, ia pun mengganti bajunya dengan baju kaos. Lalu ia pergi ke samping rumah untuk olah raga kecil kecilan. Dengan lari di tempat, pus ap, dan banyak lagi lainnya.
Setelah setengah jam olah raga, Ana datang menghampiri dirinya.
"Yank, kenapa aku gak di bangunin?" tanya Ana dengan wajah yang masih baru bangun tidur.
"Tadi kamu tidur nyenyak banget sayang, jadi aku gak tega buat bangunin kamu. Lagian kamu kan sholatnya libur dulu karena datang bulan, jadi kan gak papa toh sesekali bangunnya siang." jawab Arsha tersenyum.
__ADS_1
"Tapi aku yank sama kamu, masak suaminya bangunnya lebih pagi dari istrinya. Suaminya sudah olah raga dari tadi, eh istrinya baru bangun tidur." ujar Ana dengan nada sedih.
"Gak usah malu, santai aja. Ia udah sana, mandi setelah itu temenin aku ya lari lari sekitar kompel. Mau gak?" tanya Arsha.
"Mau yank, bentar ya, aku mandi dulu."
"Oke."
Setelah itu, Ana segera masuk kembali ke dalam rumah untuk mandi dan menemani suaminya olah raga. Sedangkan Arsha duduk sejennak untuk menghilangkan rasa lelahnya.
Setelah lumanyan menunggu, akhirnya Ana pun datang dengan gamis warna kuning dan juga hijab lebarnya yang berwarna kuning, setara dengan gamis dan juga kaos kaki serta sandal yang ia pakai.
"Kenapa serba kuning semua yank?" tanya Arsha.
"Ya gak papa, biar terliihat cerah gitu yank." jawab Ana tersenyum.
"Iya udah ayo." Arsha menggenggam tangan mungil istrinya, yang terasa pas dalam genggamannya.
Mereka berjalan berdua dengan berpegangan tangan mengelilingi area komplek rumahnya. Ana melihat rumah Rachel dan Ani masih tertutup rapat pagarnya. Padahal tadi mau mampir sebentar.
"Apa Ani belum bangun ya? Kog pintu pagarnya masih tertutup rapat?" tanya Ana.
"Iya juga sih, iya udah ayo lanjut jalan jalannya." ujar Ana.
Mereka berdua terus berjalan hingga akhirnya ia menemukan, nenek nenek yang jualan cendol di pinggir jalan.
"Yank, beli itu yuk." ujar Ana.
"Tapi aku gak bawa uang." jawab Arsha.
"Aku bawa kak, lima puluh ribu. Tadi saat kakak ngajak aku jalan, aku ambil uang lima puluh ribu. INi uangnya." ujar Ana sambil memperlihatkan uang lima puluh ribu yang ia ambil dari saku bajunya. Untunglah gamis itu ada saku bajunya, jadi bisa buat naruh uang.
"Iya udah ayo. Tapi aku enggak beli ya, kamu aja." ucap Arsha.
"Iya." jawab Ana tersenyum.
Arsha dan Ana pun menghampiri sang nenek.
"Nek, beli cendolnya ya satu." ucap Ana sopan dan juga selembut mungkin.
__ADS_1
"Ia neng."
Nenek itupun segera melayani pesanaan Ana.
"Ini neng." ujar nenek itu memberikan cendolnya.
"Berapa nek?" tanya Ana.
"Lima ribu neng." jawab nenek itu tersenyum.
"Ini nek uangnya, kembaliannya ambil nenek aja." ujar Ana sambil memberikan uang 50 ribuan.
"Terima kasih neng. Semoga Allah membalas kebaikan neng." ucap nenek itu terharu.
"Iya sama sama nek."
Setelah itu Ana dan Arsha pun lanjut jalan jalan dan mereka berhenti di pos kamling, Ana menimati cendol yang ia pegang.
"Kamu yakin gak mau minta yank?" tanya Ana.
"Gak yank, kamu makan aja. Setelah ini kita langsung pulang ya." ucap Arsha.
"Iya yank."
Setelah Ana menghabiskan cendolnya, mereka berdua pun pulang ke rumah karena mereka harus segera mandi, sarapan pagi lalu berangkat kerja.
__ADS_1