Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Berbagi Makanan


__ADS_3

“Tau gak mas?” Ucap Naila sambil terus memeluk suaminya.


“Apa sayang?” tanya Taufiq, ia memeluk istrinya dengan erat, sesekali ia mencium


kening istrinya.


“Aku bersyukur punya suami tampan kayak mas. Tapi jujur aku kesal ketika ada wanita


lain yang menatap mas sampek gak berkedip.” Ucap Naila manja.


“Terus aku harus gimana sayang. Masa ia mas pakek topeng biar ketampanan mas gak di liat


oleh orang lain?” tanya Taufiq tersenyum.


“Iya gak gitu juga mas, maksud aku tuh jangan genit gitu loh.”


“Lah siapa yang genit sayang. Mas gak pernah genit sama siapapun. Mereka aja yang liat mas


sampek sebegitunya. Padahal mas mah biasa biasa aja tuh.” Ucap Taufiq. Ia


melepaskan pelukannya dan ia mencium pipi Naila dengan penuh cinta.


“Tatap wajah mas sekarang” ucap Taufiq. Naila pun menuruti keinginannya, ia menatap


wajah Taufiq dengan wajah polosnya.


“Kamu tau, wajah ini, ketampanan ini hanya untukmu sayang. Semua yang melekat di tubuh


mas, ini semua untukmu. Cintanya mas, hatinya mas, fikiranya mas semua tertuju


sama kamu. Tubuhnya mas dari atas sampai bawah, ini milikmu sayang.” Ucap


Taufiq tersenyum.


“Kalau gitu jangan biarkan wanita lain melihat mas, aku gak suka.”


“Terus mas harus gimana, masak ia mas gak boleh keluaran gitu dari rumah.”


“Iya gak gitu. Mulai sekarang mas harus pakek baju longgar yang panjang, celana sampai


bawah, gak boleh sampek lutut lagi, terus pakek kacamata gitu. Mas boleh


membuka kaca matanya hanya di depanku saja tapi jika di depan orang lain, aku


ingin mas seperti orang culun biar gak ada yang tertarik sama mas.” Ucap Naila.


“Baiklah mulai besok, mas akan berpenampilan seperti culun. Sekarang kamu senengkan?”


“Iya hehe. Oh ya ayuk kita pulang, aku yakin mereka sudah selesai  menyiapkan pesanan mas.”


“Tapi kamu kan masih sakit.”


“Sakit dari mana, aku sudah sembuh kog. Ayo mas…” Naila turun dari ranjang dan menarik


tangan Taufiq.


“Oke, oke. Tapi janji ya gak boleh sampai kelelahan.”


“Iya aku janji.” Ucap Naila. Taufiq pun menggendong Naila sampai mobil.


“Kenapa mas gendong, aku sih. Malu tau di liatin orang tadi.”


“Kenapa harus malu, yang mas gendong kan istri mas sendiri bukan istri orang lain.


Lagina mereka melihat karena mereka punya mata sayang. Biarlah jangan urus


mereka, terserah mereka mau lihat kita atau gak, itu hak mereka. Sekarang kamu


pakek sabuk pengaman kamu, kita akan segera ke RESTO untuk mengambil pesanan.”


Ucap Taufiq.


“Oke. Tapi nanti aku mandi dulu ya soalnya aku belum mandi dari kemaren sore gara gara


sibuk banget. Gak enak kan jika nanti kita nganterin itu ke panti dalam


keadaanku yang masih belum mandi.”

__ADS_1


“Oke, nanti mas akan tungguin kamu sampai selesai mandi.”


“Sip.”


Taufiq pun segera meluncur menuju RESTO BASMALLAH. Sesampai di RESTO, Naila langsung ke


dapur, ia melihat semua pesanan Taufiq sudah terbungkus semua. Setelah ia


memastikan semuanya aman, ia segera pergi ke lantai atas dan mandi. Dalam waktu


20 menit,ia sudah selesai mandi dan juga selesai pakek baju + dandan.


“Bun, aku berangkat sekarang ya. Oh ya aku nitip RESTO ya bun, jika nanti ada apa apa.


Bunda segera hubungi aku.” Ucap Naila.


“Kamu akn membawa ini pakek apa sayang?” tanya Inah melihat 1 juta pesanan yang hampir


mmenuhi dapurnya.


“Sekarang aku bawa 250 bungkus dulu bun, setelah itu aku akan kembali lagi dan membawa


nasi 250 bungkus lagi.” Ucap Naila


“Emang kamu akan membawanya ke mana sayang?”


“Ke Panti bun.”


“Sama cowok yang tadi pagi itu?”


“Iya bun. Dia juga sekarang partner bisnis aku bun. Dia orangnya sangat baik kog.”


“Iya sudah kalau gitu hati hati ya.”


“Iiya bun.”


Naila memanggil beberapa karyawan untuuk mengangkut makanannya ke dalam mobil Taufiq.


Untung Taufiq membawa mobil yang agak besar sehingga bisa menyimpan makanan


sebanyak itu, coba aja kalau membawa mobil pribadinya yang kecil itu, Mobil


Setelah selesai mengangkut makanan ke dalam mobil, tak lupa Naila mengucapkan terima


kasih dan ia pun segera pergi menghampri Taufiq.


“Yuk berangkat.” Ucap Naila. Taufiq hanya menganggukkan kepala dan merekapun


langsung meluncur ke panti asuhan.


Sesampai di panti semua anak panti dan juga pengasuh panti sangat terkejut melihat


kedatangan Naila. Bagaimana gak terkejut dan kaget coba, mereka kan taunya


Naila/cinta sudah tiada dan tiba tiba saja sekarng Ia muncul kembali di


hadapannya bahkan anak anak panti sampai lari karena takut. Mereka mengira


bahwa Naila itu hantu.


Taufiq yang melihat situasi itu langsung menghampiri pengurus panti dan mencoba untuk


menjelaskan secara detail. Setelah selesai menjelakan, ibu panti beserta


pengurus yang lain langsung menyalami Naila, mereka memeluk Naila satu persatu.


Sungguh mereka gak menyangkan jika Naila/Cinta masih hidup dan sekarang ada di


hadapan mereka. Anak anak panti yang tadinya lari juga ikut memeluk Cinta


dengan tangisan mereka. Mereka benar benar sangat menyayangi Cinta malah mereka


sudah menganggap bahwa Cinta adalah kaka buat mereka. Setelah selesai peluk


pelukan. Taufiq menurunkan makanan dan membagikan ke mereka satu persatu, Taufiq


juga tak lupa memberikan kepada ibu panti dan semua pengurus panti. Setelah

__ADS_1


selesai makan, Cinta gak langsung pulang melainkan ia bermain dengan anak anak


panti hampir satu jam sedangkan Taufiq memerhatikan dari jarak jauh. Ia tak mau


mengganggu momen Cinta beserta anak panti. Taufiq memang sengaja memberikan


mereka waktu untuk bisa bersenang senang, siapa tau dengan begitu  Naila bisa ingat tentang masa lalunya.


Setelah hampir tiga puluh menit Cinta bermain, akhirnya cinta pami pulang karena ia


masih ingat bahwa ia harus kembali ke RESTO dan mengambil makanan lagi untuk di


bawa ke panti jompo. Sebelum pulang, Taufiq dan Naila pamit dulu ke ibu panti


dan pengurus panti, tak lupa seperti biasa Taufiq memberikan uang sebesar 10


juta untuk ibu panti, semoga uang itu bisa bermanfaat untuk adik adik panti.


Selama dalam perjalanan, Naila cerita banyak tentang anak panti tadi dan Taufiq hanya


diam mendengar cerita Naila yang seakan akan gak ada habisnya. Dari awal mereka


berangkat bahkan sampai mereka sampai di RESTO, Naila masih saja terus


bercerita membuat Taufiq hanya tersenyum, ia sangat senang melihat istrinya


sebahagia itu.


Setelah turun dari mobil, Naila dan Taufiq langsung mencari tempat duduk dan mereka memesan


makanan untuk makan siang karena sedari tadi pagi keduanya belum ada yang makan.


Selesai makan, Naila memanggil beberapa karyawan untuk mengambil makanan dan


menaruhnya di mobil. Sekarang ia membawa sebanyak 500 karena Taufiq akan


mengunjungi 2 panti jompo sekaligus.


Setelah semuanya sipa, Taufiq pun langsung berangkat di sepanjang jalan hari ini mereka


berdua memilih untuk diam dan menikmati lagu yang di putar oleh Naila.


“Aku pengen punya mobil sendiri.” Ucap Naila tiba tiba.


“Kamu mau?” tanya Taufiq.


“Iya. “ Jawab Naila.


“Jika begitu besok kamu harus datang ke rumahku dan pililhlah mobil yang kamu suka.


Di sana kau mempunya banyak koleksi mobil. Tapi jika kamu ingin yang baru kita


bisa membelinya sekarang.” Ucap Taufiq


“Tidak perlu yang baru. Besok aku akan kerumah mas untuk memilih salah satu mobil yang


aku suka. Tapi mas yakin akan memberikan mobil itu untukku?” tanya Naila.


“Iya aku yakin karena semua hartaku juga hartamu, apa yang aku punya itu semua milikmu


sayang.”


“Terimakasih. Jika begitu aku akan datang ke rumahmu besok pagi.”


“Baiklah. Oh ya kita sudah sampai, yuk turun.” Ucap Taufiq.


Mereka segera turun dan langsung membagi bagikan makanan, tak butuh waktu lama karena Taufiq


dan Naila harus segera pergi untuk mengunjungi panti jompo berikutnya.


Untunglah jaraknya gak terlalu jauh hanya dalam hitungan 15 menit, mereka sudah


sampai. Di panti jompo kali ini, Taufiq masih sempat berbincang bincang dengan


pengurus di sana. Tapi hanya sekitar 5 menit karena setelah itu mereka harus


segera ke RESTO lagi untuk mengambil nasi dan membagi bagikan ke fakir miskin

__ADS_1


dan juga ibu wati.


__ADS_2