Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Hampir Ketemu


__ADS_3

Sore harinya, sesuai janji Elsa. Ia mengajak Naila untuk jalan jalan. Elsa mengajak Naila makan di kafe, pergi ke Mall, Pergi ke Alun Alun, pergi ke taman cahaya. Semua tempat yang menurutnya menarik, ia datangi. Hingga tak terasa jam menunjukkan pukul 7 malam. Sebelum pulang, Elsa mengajak Naila untuk pergi ke restoran paling mewah di daerah sana.


"Wow, aku gak nyangka loh. Restoran ini sangat mewah sekali. Tapi pasti mahal deh makanannya." Ucap Naila


"Masalah harga makanan, jangan di fikirkan. Aku akan traktir kamu. Aku membawamu ke sini bukan menunjukkan harga makanannya melainkan agar kamu bisa termotivasi untuk membuat restoran yang jauh lebih mewah dari pada ini. Bukankah kamu ingin membuka restoran setelah selesai kuliah" Ujar Elsa tersenyum.


"Iya kamu benar. Tapi untuk buka restoran butuh modal besar." Naila gak bisa membayangkan berapa uang yang ia butuhkan untuk bisa membangun sebuah restoran.


"Untuk modal, kamu jangan bingung. Nanti aku akan meminjamkan kamu modal. Kamu bisa mengembalikannya dengan nyicil."


"Benarkah?" tanya Naila dengan wajah yang bersinar.


"Yuup. Iya udah sekarang kamu pilih makanan apa yang kamu suka. Setelah itu kita pulang. Bi Inah pasti hawatir karena kita masih belum pulang jam segini." Ucap Elsa sambil melihat jam tangannya.


"Oke." Naila pun memilih beberapa makanan sedangkan Elsa hanya memesan Pizza dan Juz Alpukat saja.

__ADS_1


"El, aku ke kamar mandi dulu ya. Aku sakit perut." Ucap Naila sambil memegang perutnya.


"Hemmm iya deh tapi jangan lama lama ya."


"Yaelah ngapain lama lama. Habis nyetor aku langsung ke sini. Aku gak mungkin tidur di toilet." Naila mencoba untuk bergurau karena ia tak tahan ia pun segera pergi menuju toilet.


Saat Naila pergi ke toilet tiba tiba saja Taufiq juga ada di restoran itu. Melihat ada Elsa, Taufiq mencoba untuk mendekatinya.


"Elsa, ngapain di sini?" tanya Taufiq.


"Aku juga mau makan." Jawab Taufiq. Melihat ada beberapa makanan dan minuman, ia pun langsung bertanya.


"Kamu ke sini sama siapa?"


"Sama temen."

__ADS_1


"Dimana temennya?"


"Masih ke toilet ka. Mungkin bentar lagi datang."


"Oh. Jadi aku ganggu ya. Iya sudah aku ke ruangan situ dulu ya." Ucap Taufiq sambil menunjuk ke arah VVIP. Ruangan itu tidak tembus pandang. Yang di dalam gak bisa lihat ke arah luar dan yang yang di luar pun gak bisa lihat yang ada di dalam.


"Oke ka. Selamat makan." Ujar Elsa. Ia bisa bernafas lega karena akhirnya ia bisa selamat malam ini. Setelah Taufiq pergi dan masuk ke ruang VVIP, Naila pun datang dan langsung duduk di kursi di dekat Elsa.


"Kamu kenapa El? kog tegang gitu mukannya."


"Gak papa. Iya sudah kita cepetan makan ya. Setelah itu kita langsung pulang."


"Kenapa buru buru banget?" tanya Naila heran.


"Iya aku takut bi Inah hawatir. Ayo cepat makan."

__ADS_1


"Iya deh." Akhirnya Nailapun pasrah, ia segera melahap semua makanan dalam waktu singkat. Selesai makan, Elsa segera membayar makanannya di kasir. Lalu merekapun segera pergi dari restoran itu sebelum Taufiq meliat Naila.


__ADS_2