
Sesampai di sekolah, Elsa dan Cinta segera masuk kelas.
Hari ini Cinta memilih untuk tidak bersih bersih kelas, bukan karena malas tapi
karena kondisinya yang sangat lemah sehingga ia memilih untuk tidur di kursi
dengan menaruh di kepalanya di atas meja. Elsa hanya diam saja menatap
sahabatnya itu. Tiba tiba Ivan datang dan melihat Cinta yang lagi tertidur
nyenyak.
"Dia kenapa?" tanya Ivan dengan rasa cemas
melihat wajah Cinta yang pucat.
"Dia sakit."
"Kalau sakit, kenapa masuk sekolah?"
"Karena dia tidak mau ketinggalan pelajaran. Ya sudah
jangan rame biarkan dia istirahat. Dari kemaren dia sibuk banget, mungkin
sekarang dia kelelahan makanya sakit."
"Iya sudah." Ivan sebenarnya merasa hawatir
banget dengan keadaan Cinta, entah kenapa hatinya sakit melihat orang yang ia
sayang lemah seperti itu. Biasanya Cinta selalu ceria, sekarang ia malah
tertidur di kelas. Ivanpun menyuruh teman teman di kelasnya untuk tidak
berbicara terlalu keras agar Cinta gak keganggu sama suara mereka. Untunglah
jam pertama kosong karena guru yang mengajar tidak hadir jadi Cinta bisa
istirahat sampek jam istirahat.Ivan mengamati wajah Cinta dengan seksama. Ah
ingin rasanya ia memindahkan kepala Cinta di pangkuannya. Tapi apalah daya, ia
hanya bisa menatapnya tanpa berani menyentuhnya. Elsa yang melihat itu,
hanya tersenyum. Ia memang mencintai Ivan tapi ia juga tau bahwa Ivan mencintai
sahabatnya. Awalnya ia tidak terima tapi ia sadar bahwa Cinta tak harus
memiliki. Dan ia yakin suatu saat, ia pasti menemukan orang yang bisa
menyayanginya dengan tulus dan bisa nerima apa adanya. Semuanya hanya tinggal
nunggu waktu aja.
Sampai jam istirahatt tiba, Cinta juga belum bangun. Elsa
dan Ivanpun dengan setia menemani dia di dekatnya. Bahkan Elsa maupun Ivan rela
tidak ke kantin, takut jika Cinta kenapa napa. Elsa hanya membaca novel milih
Cinta sedangkan Ivan sendiri dari tadi masih saja menatap wajah Cinta yang lagi
tertidur pulas. Ada kebahagiaan tersendiri baginya saat melihat wajah itu.
"Aku harap suatu saat kamu bisa jadi milikku seutuhnya." Ucap Ivan
dengan suara pelan tapi Elsa mendengarnya. Tapi ia mencoba untuk tidak
meresponnya.
Bell berbunyi lagi, semua anak anak berhamburan masuk ke
dalam kelas. Kini pelajaran ke dua mau di mulai. Cinta bangun dari tidurnya saat
ia mendengar ada suara guru di kelas itu. Dengan kepala yang masih terasa
pusing, Cinta berusaha untuk tetep fokus mendengarkan penjelasan guru yang saat
ini sedang menerangkan di papan tulis.
Ivan sudah kembali ke kursinya saat ia tau guru akan
datang. Elsa juga sudah menaruh buku novelnya dan kini ia sudah siap dengan
__ADS_1
buku dan alat tulisnya. Yah dia harus mencatat setiap ada hal penting yang di
terangkan oleh gurunya. Sedangkan Cinta sendiri ia memilih mendengarkan saja
tanpa mau mencatatnya. Ia yakin bahwa ia akan mengerti tanpa harus
mencatat...Tapi nanti malam, ia berjanji bahwa dia akan menyalin apa yang kini
tersimpan di memori otaknya. Bukan apa, ia hanya takut suatu saat nanti ia lupa
karena terlalu banyak yang ia simpan di otak. Jadi buat jaga jaga, saat ia
lupa. Ia bisa membuka buku catatannya dan mempelajarinnya lagi.
Guru yang kini sedang mengajar, melihat ke arah Cinta dan
ia melihat wajah pucat itu.
"Kamu kenapa?" tanya pak Hendra
"Gak papa, pak." Jawab Cinta sambil tersenyum.
"Tapi wajah kamu pucat. Jika kamu sakit, kamu bisa
istirahat di UKS."
"Saya masih kuat kog pak dan saya gak mau istirahat.
Saya masih ingin di sini untuk belajar."
"Tapi apa kamu masih bisa konsen dengan pelajaran
bapak."
"InsyaAllah saya masih bisa konsen pak."
merasa salut dengan siswanya ini. Walaupun cinta dalam keadaan sakit, ia masih
mau untuk belajar. Sedangkan murid yang lainnya, mereka malah memilih
untuk ngobrol di kantin dari pada masuk kelas. Ada juga yang hadir di kelas
tapi saat guru menerangkan malah asyik sendiri ngobrol sama teman sebangkunya
apalagi murid di belakang, bukannya mendengarkan malah asyik main Hp. Semua
guru hanya bisa menggeleng gelengkan kepala, di tegur sudah, di nasehati sudah,
di beri hukuman sudah tapi tetep saja mereka seperti itu sampai akhirnya para
guru membiarkan saja dan tidak lagi peduli karena mereka sudah putus asa
menghadapi murid yang nakal.
Tapi Cinta, ia berbeda dari yang lain. Cinta begitu
semangat dalam menuntut ilmu. Ia tak pernah bolos dan jika di beri tugas selalu
di kerjakan. Nilainya pun selalu bagus, walaupun sering nanya di kelas, Guru
guru tak mempermasalahkannya, malah mereka menjawab semua pertanyaannya dan
menjelaskan panjang lebar. Dari semua anak yang ada di kelas itu, hanya Cinta
yang selalu bertanya sedangkan yang lain diem seperti sapi ompong. Tak heran
jika Cinta selalu mendapatkan juara satu. Bahkan Cinta selalu menjadi murid
andalan sekolah ini. Jika ada lomba baik di tingkat kecamatan, kabupaten bahkan
tingkat provinsi. Guru selalu memilih Cinta untuk mewakili sekolahnya. Dan
hasilnya Cinta selalu membawa piala, ia memang tidak pernah mengecewakan
gurunya. Karena ia selalu tembus juara satu.
Siapa guru yang tak sayang sama murid itu, siapa guru yang
__ADS_1
tak bangga punya murid seperti itu. Walaupun anak dari orang kaya tapi ia
berpenampilan biasa tidak seperti murid lainnya yang hidup pas pasan tapi
dandannya minor dan sombong. Cinta bahkan sering datang pagi hanya untuk
membersihkan kelasnya walau bukan tugasnya. TAk salah, jika para guru dan juga
murid memilih dia menjadi ketua osis bahkan di kelas, ia juga menjadi ketua
kelas. Ia bisa memimpin teman temannya dan idenya yang cemerlang selalu bisa di
andalkan dalam berbagai acara yang di andalkan di sekolahnya.
Tapi kini Cinta yang selalu ceria sedang sakit dan kelas
seperti tak ada penghuninnya. Tak ada lagi pertanyaan yang di ajukan. Tapi pak
Hendra hanya menggeleng gelenggkan kepala. Setelah selesai menjelaskan, Pak
Hendra pun memberikan tugas kepada muridnya lalu ia keluar menuju kantor.
Bell berbunyi, anak anak berhamburan keluar kelas.
Sedangkan Cinta, Ivan dan Elsa memilih untuk ke kantin. Ini sudah saatnya makan
siang. Saat menuju ke kantin, tiba tiba saja Cinta pingsan sehingga membuat
Elsa panik. Ivan dengan sigap membawa Cinta ke ruang UKS.
"Cin, bangun cin." Ucap Ivan, tak terasa air mata
jatuh membasahi pipinya. Elsa yang melihat itu benar benar gak nyangka kalau
Ivan akan menangis karena melihat sahabatnya yang jatuh pingsan. Di ruang UKS,
Ivan terus saja memegang tangan Cinta, ia tak mau melepaskan sedikitpun. Elsa
yang melihat itu semua memilih untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada
mereka untuk berdua saja.
"Cin, kenapa kamu bisa sampai sakit? Kenapa? Cin,
sungguh hatiku sakit melihat kamu yang terbaring lemah seperti ini. Cin, aku
mohon bangunlah. Aku gak bisa melihat orang yang aku sayang sakit seperti ini.
Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa lekas sembuh." lagi lagi air
mata itu jatuh tapi Ivan tak perduli.
"Cin,
aku sangat menyayangi dan mencintai kamu. Sejak awal kita bertemu, aku sudah
jatuh hati sama kamu. Jujur, aku ingin selalu ada di dekatmu tapi aku takut,
aku malu. Saat kamu bersama pria lain, aku merasa hatiku sakit, aku merasa
cemburu Cin, untuk itu aku mohon tolong jangan dekat dekat dengan pria lain
selain aku. Maaf jika kamu selalu melihat aku berdua sama Elsa, itu hanya
semata mata karena aku ingin mengenal kamu lebih jauh lagi dengan menanyakan
semua tentangmu lewat sahabatmu. Aku sudah menganggap Elsa seperti adikku jadi
aku harap kamu tidak berfikir yang aneh aneh saat aku bersamanya. Karena semua
itu aku lakukan hanya demi kamu. Aku sering datang ke rumah Elsa hanya sekedar
ingin melihatmu tapi kamu selalu saja sibuk, kamu hampir gak ada waktu. Aku tau
sepulang sekolah, kamu harus kerja. Kadang aku kasihan, ingin rasanya aku
membantu tapi aku gak tau harus berbuat apa. Cin, tolong bangunlah. Dan aku
mohon mulai saat ini, tolong jaga kesehatanmu. Jangan hanya karena kamu sibuk,
kamu sampai lupa untuk jaga kesehatan. Cin, aku bukan tipe orang yang pintar
dalam hal berbicara. Aku cuma bilang sesuai apa yang ada di otakku. Cin, aku
mohon sadarlah. Aku menyayangimu." Ucap Ivan yang sedari tadi terus saja
berbicara padahal Cinta masih juga belum sadar.
__ADS_1