Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Pingsan


__ADS_3

Sesampai di sekolah, Elsa dan Cinta segera masuk kelas.


Hari ini Cinta memilih untuk tidak bersih bersih kelas, bukan karena malas tapi


karena kondisinya yang sangat lemah sehingga ia memilih untuk tidur di kursi


dengan menaruh di kepalanya di atas meja. Elsa hanya diam saja menatap


sahabatnya itu. Tiba tiba Ivan datang dan melihat Cinta yang lagi tertidur


nyenyak.


 


"Dia kenapa?" tanya Ivan dengan rasa cemas


melihat wajah Cinta yang pucat.


 


"Dia sakit."


 


"Kalau sakit, kenapa masuk sekolah?"


 


"Karena dia tidak mau ketinggalan pelajaran. Ya sudah


jangan rame biarkan dia istirahat. Dari kemaren dia sibuk banget, mungkin


sekarang dia kelelahan makanya sakit."


 


"Iya sudah." Ivan sebenarnya merasa hawatir


banget dengan keadaan Cinta, entah kenapa hatinya sakit melihat orang yang ia


sayang lemah seperti itu. Biasanya Cinta selalu ceria, sekarang ia malah


tertidur di kelas. Ivanpun  menyuruh teman teman di kelasnya untuk tidak


berbicara terlalu keras agar Cinta gak keganggu sama suara mereka. Untunglah


jam pertama kosong karena guru yang mengajar tidak hadir jadi Cinta bisa


istirahat sampek jam istirahat.Ivan mengamati wajah Cinta dengan seksama. Ah


ingin rasanya ia memindahkan kepala Cinta di pangkuannya. Tapi apalah daya, ia


hanya bisa menatapnya tanpa berani menyentuhnya. Elsa yang melihat  itu,


hanya tersenyum. Ia memang mencintai Ivan tapi ia juga tau bahwa Ivan mencintai


sahabatnya. Awalnya ia tidak terima tapi ia sadar bahwa Cinta tak harus


memiliki. Dan ia yakin suatu saat, ia pasti menemukan orang yang bisa


menyayanginya dengan tulus dan bisa nerima apa adanya. Semuanya hanya tinggal


nunggu waktu aja.


 


Sampai jam istirahatt tiba, Cinta juga belum bangun. Elsa


dan Ivanpun dengan setia menemani dia di dekatnya. Bahkan Elsa maupun Ivan rela


tidak ke kantin, takut jika Cinta kenapa napa. Elsa hanya membaca novel milih


Cinta sedangkan Ivan sendiri dari tadi masih saja menatap wajah Cinta yang lagi


tertidur pulas. Ada kebahagiaan tersendiri baginya saat melihat wajah itu.


"Aku harap suatu saat kamu bisa jadi milikku seutuhnya." Ucap Ivan


dengan suara pelan tapi Elsa mendengarnya. Tapi ia mencoba untuk tidak


meresponnya.


 


Bell berbunyi lagi, semua anak anak berhamburan masuk ke


dalam kelas. Kini pelajaran ke dua mau di mulai. Cinta bangun dari tidurnya saat


ia mendengar ada suara guru di kelas itu. Dengan kepala yang masih terasa


pusing, Cinta berusaha untuk tetep fokus mendengarkan penjelasan guru yang saat


ini sedang menerangkan di papan tulis.


Ivan sudah kembali ke kursinya saat ia tau guru akan


datang. Elsa juga sudah menaruh buku novelnya dan kini ia sudah siap dengan

__ADS_1


buku dan alat tulisnya. Yah dia harus mencatat setiap ada hal penting yang di


terangkan oleh gurunya. Sedangkan Cinta sendiri ia memilih mendengarkan saja


tanpa mau mencatatnya. Ia yakin bahwa ia akan mengerti tanpa harus


mencatat...Tapi nanti malam, ia berjanji bahwa dia akan menyalin apa yang kini


tersimpan di memori otaknya. Bukan apa, ia hanya takut suatu saat nanti ia lupa


karena terlalu banyak yang ia simpan di otak. Jadi buat jaga jaga, saat ia


lupa. Ia bisa membuka buku catatannya dan mempelajarinnya lagi.


 


Guru yang kini sedang mengajar, melihat ke arah Cinta dan


ia melihat wajah pucat itu.


 


"Kamu kenapa?" tanya pak Hendra


 


"Gak papa, pak." Jawab Cinta sambil tersenyum.


 


"Tapi wajah kamu pucat. Jika kamu sakit, kamu bisa


istirahat di UKS."


 


"Saya masih kuat kog pak dan saya gak mau istirahat.


Saya masih ingin di sini untuk belajar."


 


"Tapi apa kamu masih bisa konsen dengan pelajaran


bapak."


 


"InsyaAllah saya masih bisa konsen pak."


 


merasa salut dengan siswanya ini. Walaupun cinta dalam keadaan sakit, ia masih


mau untuk belajar. Sedangkan murid yang lainnya, mereka malah memilih


untuk ngobrol di kantin dari pada masuk kelas. Ada juga yang hadir di kelas


tapi saat guru menerangkan malah asyik sendiri ngobrol sama teman sebangkunya


apalagi murid di belakang, bukannya mendengarkan malah asyik main Hp. Semua


guru hanya bisa menggeleng gelengkan kepala, di tegur sudah, di nasehati sudah,


di beri hukuman sudah tapi tetep saja mereka seperti itu sampai akhirnya para


guru membiarkan saja dan tidak lagi peduli karena mereka sudah putus asa


menghadapi murid yang nakal. 


 


Tapi Cinta, ia berbeda dari yang lain. Cinta begitu


semangat dalam menuntut ilmu. Ia tak pernah bolos dan jika di beri tugas selalu


di kerjakan. Nilainya pun selalu bagus, walaupun sering nanya di kelas, Guru


guru tak mempermasalahkannya, malah mereka menjawab semua pertanyaannya dan


menjelaskan panjang lebar. Dari semua anak yang ada di kelas itu, hanya Cinta


yang selalu bertanya sedangkan yang lain diem seperti sapi ompong. Tak heran


jika Cinta selalu mendapatkan juara satu. Bahkan Cinta selalu menjadi murid


andalan sekolah ini. Jika ada lomba baik di tingkat kecamatan, kabupaten bahkan


tingkat provinsi. Guru selalu memilih Cinta untuk mewakili sekolahnya. Dan


hasilnya Cinta selalu membawa piala, ia memang tidak pernah mengecewakan


gurunya. Karena ia selalu tembus juara satu.


 


Siapa guru yang tak sayang sama murid itu, siapa guru yang

__ADS_1


tak bangga punya murid seperti itu. Walaupun anak dari orang kaya tapi ia


berpenampilan biasa tidak seperti murid lainnya yang hidup pas pasan tapi


dandannya minor dan sombong. Cinta bahkan sering datang pagi hanya untuk


membersihkan kelasnya walau bukan tugasnya. TAk salah, jika para guru dan juga


murid memilih dia menjadi ketua osis bahkan di kelas, ia juga menjadi ketua


kelas. Ia bisa memimpin teman temannya dan idenya yang cemerlang selalu bisa di


andalkan dalam berbagai acara yang di andalkan di sekolahnya.


 


Tapi kini Cinta yang selalu ceria sedang sakit dan kelas


seperti tak ada penghuninnya. Tak ada lagi pertanyaan yang di ajukan. Tapi pak


Hendra hanya menggeleng gelenggkan kepala. Setelah selesai menjelaskan, Pak


Hendra pun memberikan tugas kepada muridnya lalu ia keluar menuju kantor.


 


Bell berbunyi, anak anak berhamburan keluar kelas.


Sedangkan Cinta, Ivan dan Elsa memilih untuk ke kantin. Ini sudah saatnya makan


siang. Saat menuju ke kantin, tiba tiba saja Cinta pingsan sehingga membuat


Elsa panik. Ivan dengan sigap membawa Cinta ke ruang UKS.


 


"Cin, bangun cin." Ucap Ivan, tak terasa air mata


jatuh membasahi pipinya. Elsa yang melihat itu benar benar gak nyangka kalau


Ivan akan menangis karena melihat sahabatnya yang jatuh pingsan. Di ruang UKS,


Ivan terus saja memegang tangan Cinta, ia tak mau melepaskan sedikitpun. Elsa


yang melihat itu semua memilih untuk mundur dan memberikan kesempatan kepada


mereka untuk berdua saja.


 


"Cin, kenapa kamu bisa sampai sakit? Kenapa? Cin,


sungguh hatiku sakit melihat kamu yang terbaring lemah seperti ini. Cin, aku


mohon bangunlah. Aku gak bisa melihat orang yang aku sayang sakit seperti ini.


Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa lekas sembuh." lagi lagi air


mata itu jatuh tapi Ivan tak perduli.


 


"Cin,


aku sangat menyayangi dan mencintai kamu. Sejak awal kita bertemu, aku sudah


jatuh hati sama kamu. Jujur, aku ingin selalu ada di dekatmu tapi aku takut,


aku malu. Saat kamu bersama pria lain, aku merasa hatiku sakit, aku merasa


cemburu Cin, untuk itu aku mohon tolong jangan dekat dekat dengan pria lain


selain aku. Maaf jika kamu selalu melihat aku berdua sama Elsa, itu hanya


semata mata karena aku ingin mengenal kamu lebih jauh lagi dengan menanyakan


semua tentangmu lewat sahabatmu. Aku sudah menganggap Elsa seperti adikku jadi


aku harap kamu tidak berfikir yang aneh aneh saat aku bersamanya. Karena semua


itu aku lakukan hanya demi kamu. Aku sering datang ke rumah Elsa hanya sekedar


ingin melihatmu tapi kamu selalu saja sibuk, kamu hampir gak ada waktu. Aku tau


sepulang sekolah, kamu harus kerja. Kadang aku kasihan, ingin rasanya aku


membantu tapi aku gak tau harus berbuat apa. Cin, tolong bangunlah. Dan aku


mohon mulai saat ini, tolong jaga kesehatanmu. Jangan hanya karena kamu sibuk,


kamu sampai lupa untuk jaga kesehatan. Cin, aku bukan tipe orang yang pintar


dalam hal berbicara. Aku cuma bilang sesuai apa yang ada di otakku. Cin, aku


mohon sadarlah. Aku menyayangimu." Ucap Ivan yang sedari tadi terus saja


berbicara padahal Cinta masih juga belum sadar.

__ADS_1


__ADS_2