
Saat ini Taufiq dan Cinta sedang mengumpulkan Arsha, Aisyah dan juga Will.
Mereka berkumpul di rumah Arsha karena Arsha harus menjaga putrinya yang masih tidur sedangkan Khaleed gak di bawa. Khaleed gak bisa ikut karena ia ada les, besok ada ujian di sekolahnya.
"Aisyah, Arsha, Will. Ayah dan bunda mengumpulkan kalian karena ayah dan bunda ada yang ingin kami bicarakan pada kalian." ujar Taufiq.
"Apa itu yah?" tanya mereka bertiga bersamaan.
"Ayah sama bunda mau keluar negeri." jawab Taufiq.
"Keluar negeri? Ngapain?" tanya Will terkejut.
"Bunda mau lihat besan kami nak. Papa Angga yang sakit stroke. Sekaligus papa dan mama juga mau ke Singapura, mau lihat Ani yang baru melahirkan." ujar Cinta menjelaskan secara detail.
"Oh, iya sudah gak papa yah, bun. Kalian berangkat aja sekalian liburan berdua. Ayah sama bunda kan jarang keluar negeri berdua untuk liburan. Sesekali gak papa sambil nengok mereka juga." ucap Will tersenyum.
"Iya sayang tapi masalahnya ada hal yang jauh lebih penting yang harus ayah dan bunda sampaikan." ucap Cinta.
"Apa itu bun?" tanya Aisyah.
"Begini, ayah dan bunda kan sibuk mengurus resto. Sedangkan Arsha, dia sibuk mengurus Arshi. Rencananya ayah dan bunda mau menitipkan resto itu kepada Aisyah. Itupun jika Arsha mengizinkan restonya di kelola oleh Aisyah dan Will juga mengizinkan Aisyah untuk mengelola resto selama ayah dan bunda pergi keluar negeri." jawab Cinta sambil melihat ke mereka bertiga.
"Aisyah gak keberatan kog bun." jawab Aisyah tersenyum.
"Aku juga gak keberatan. Aku gak masalah membiarkan istriku mengelola resto itu. InsyaAllah istriku amanah." jawab Will,. walaupun sebenarnya dalam hati, ia agak keberatan. Karena dirinya harus bekerja sebagai kepala rumah sakit, sedangkan sang istri harus jaga putranya.. Sedangkan resto yang harus di kelola ada di ada hampir 25 resto yang ada di Indonesia yang tersebar di berbagai kota belum lagi yang di luar negeri. Otomatis, Aisyah akan sibuk banget dan juga akan sering keluar kota jika ada masalah. Tapi mau bilang enggak, juga gak enak. Karena bagaimanapun ayah dan bundannya sudah lama gak pergi keluar negeri untuk liburan. Mereka terlalu sibuk mengurus anak, menantu dan juga cucunya serta membantu mengelola bisnis anaknya. Dulu Ayah dan ibunya sibuk mengurus perusahaan Ani dan Rachel saat mereka umrah bahkan sekarang, Ayahnya juga sesekali harus datang ke perusahaan mereka karena Rachel bekerja dari jarak jauh. Bahkan ayahnya berbulan-bulan mengurusnya Sedangkan bundanya juga mengurus semua resto yang ada di dalam maupun di luar negeri.
__ADS_1
Ayahnya juga sesekali membantu bundannya mengurus resto. Karena gak mungkin membiarkan bundannya mengurus resto sendirian sedangkan Arsha hanya sibuk mengurus Arshi dan gak mau peduli dengan resto yang seharusnya ia kelola. Andai gak ada ayah dan bundanya mungkin resto itu sudah bangkrut.
Resto yang di bangun bundanya bener bener dari nol tanpa bantuan siapapun dan setelah berkembang pesat di berikan kepada Ana. Namun setelah Ana meninggal malah gak keurus.
Will seperti dilema tapi ia lebih mementingkan kebahagiaan kedua orang tuanya. Ia juga berjanji akan membantu istrinya mengelola resto itu di sela-sela pekerjaannya.
"Kamu yakin membiarkan istrimu bekerja?" tanya Taufiq yang merasa ada beban tersendiri di mata Will.
"Iya yah." jawab Will berusaha untuk tersenyum.
"Arsha bagaimana? kamu setuju kan restonya di kelola oleh Aisyah selama ayah dan bunda pergi keluar negeri?" tanya Cinta.
"Aku terserah bun, mau di kelola siapa aja. Aku sih oke-oke aja." jawab Arsha tersenyum yang membuat Will sedikit kesal karena ia merasa Arsha seperti menyepelekan restorannya.
Dan akan banyak ribuan orang yang kehilangan pekerjaannya hanya keegoisan Arsha yang memikirkan dirinya sendiri.
Bahkan jerih payah bundannya yang dari nol berusaha membangun usahanya akan sia-sia belaka bahkan perjuangan adiknya yang kini telah tiada seakan gak ada artinya hanya karena Arsha yang tak mau tau dengan usaha yang di amanah kan kepadanya. Padahal kelak resto itu akan menjadi milik Arshi seutuhnya namun jika gak di jaga dari sekarang, akankah Arshi akan menikmati jerih payah Cinta dan juga Ana.
Will bener bener gak habis fikir dengan jalan fikiran saudara iparnya itu.
"Syukur Alhamdulillah jika Arsha setuju. Aisyah juga mau dan Will juga mengizinkan. Jadi mulai besok Aisyah sudah bisa bekerja. Karena bunda dan ayah akan berangkat besok setelah selesai sholat shubuh." ujar Cinta tersenyum tapi tidak dengan Taufiq karena Taufiq seakan mengerti bagaimana perasaan putranya saat ini.
Will adalah anak yang paling dekat dengannya. Di saat dirinya kesusahan, Will yang selalu ada di dekatnya. Bahkan Will jiga mau tinggal di rumahnya hanya demi agar kedua orangtuanya tak lagi kesepian.
Walaupun semua putra dan putrinya sangat berbakti namun Will berbeda. Will lebih berbakti dari yang lain. Bukan karena Taufiq ingin membeda bedakan antara yang satu dengan yang lain, hanya saja itulah yang di rasakan oleh Taufiq selama ini. Dan Will selalu berusaha menyelesaikan semua masalahnya sebelum orang rumah tau karena Will tak ingin membebani siapapun, entah itu istrinya ataupun kedua orangtuanya. Untuk itulah Taufiq bangga mempunyai anak seperti Will.
__ADS_1
Apalagi menantunya yang begitu alim dan seringkali mengalah, tak pernah sedikitpun ia egois. Yang Aisyah utamakan adalah kebahagiaan orang lain, bukan kebahagiaan dirinya sendiri. Aisyah selalu bisa membuat orang lain nyaman berada di dekat nya. Aisyah juga pengertian dan sangat sabar. Will sangat beruntung mempunyai istri seperti Aisyah.
Taufiq berdoa semoga Allah menjaga keluarga kecil Will dan Aisyah. Dan semoga tak ada lagi pelakor yang akan menggangu hubungan mereka. Seperti dulu saat Nadia tega membiarkan Will dan Aisyah hingga satu setengah tahun lamanya.
"Apa perlu Will yang akan mengantarkan ayah dan bunda ke bandara?" tanya Will.
"Gak perlu nak, karena kami akan di antar oleh sopir." jawab Cinta tersenyum.
"Apa perlu aku bantu beres-beres baju yang akan di bawa bun?" tanya Aisyah
"Gak perlu nak, semuanya sudah beres. Sudah bunda siapkan semuanya, tinggal besok pagi langsung berangkat." jawab Aisyah
"Besok kalau mau berangkat, jangan lupa ya. Ayah dan bunda hubungi aku. Dan kalau sudah sampai, ayah dan bunda juga harus hubungi aku biar aku gak hawatir. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi Will atau Aisyah. Will siap bantu." ujar Will.
"Iya nak. Tapi InsyaAllah bunda dan ayah pasti akan jaga diri baik-baik, lagian kami ini sudah jadi orang tua bahkan kami sudah punya cucu dan ini juga kan, bukan pertama kali ke luar negeri. InsyaAllah, kami akan baik baik saja. Kita saling doakan aja." ujar Cinta
"Iya bun, itu pasti." jawab Will dan Aisyah berbarengan.
"Oh ya nak, bukan maksudnya untuk mengusir. Tapi ini sudah jam setengah sembilan malam, takutnya Khaleed mencari kalian." ujar Taufiq mengingatkan. Taufiq dan Cinta sendiri masih tinggal bersama Arsha sejak Ana meninggal karena mereka selain membantu mengelola resto, mereka juga membantu Arsha merawat Arshi.
"Iya sudah. Ayah, bunda, Arsha. Kami pamit pulang dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah bersalaman, Will dan Aisyah pun segera pulang sedangkan Arsha pamit mau liat anaknya di kamar. Sedangkan Taufiq dan Cinta masih di ruang tamu, duduk santai sambil ngobrol sampai jam 10 malam, baru setelah itu mereka juga masuk kamar buat istirahat.
__ADS_1