Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Ila Meninggal


__ADS_3

Adzan shubuh mulai terdengar, semua penghuni rumah mulai bangun dan segera ambil wudhu begitupun dengan Jay ia juga mulai membuka kedua matanya.


Namun saat Jay menoleh ke sampingnya, ia tak menemukan Ila di sampingnya. Jay pun segera bangun dari tidurnya. Jay mencari ke kamar mandi namun tak ada, Jay mencari ke semua ruangan namun tetep tak ada.


"Sayang, kamu dimana?" panggil Jay.


"Yank..jawab aku, kamu dimana?" teriak Jay dengan nada tingginya. Karena di ruangan gak ada, Jay pun mencari di dapur namun tetep gak ada.


"Yank, kamu dimana?" teriak Jay dengan suara yang lebih tinggi lagi hingga membuat semua orang yang ada di rumah itu langsung keluar semua.


"Ada apa nak?" tanya Cinta.


"Ila gak ada di kamar bun." jawab Jay frustasi.


"Gak ada gimana, katanya tadi malem kalian sudah tidur lalu bagaimana Ila bisa hilang?" tanya Elsa panik.


"Tadi malem, setelah Ila tidur, aku ikut tidur di sampingnya. Dan tadi pagi saat aku bangun, Ila sudah gak ada di sampingnya ma." jawab Jay. Entah kenapa perasaan Jay jadi gak enak.


"Sudah sudah, kita mencar. Ayah yakin Ila masih ada di sekitar sini." ucap Taufiq.


Merekapun bermencar satu sama lain, Pram dan Ila pergi ke belakang. Namun betapa kagetnya mereka melihat tubuh Ila yang tergantung di pohon dengan seutas tali yang melekat di lehernya.


"Aaaaaaaaaaa." teriak Ica dengan suara yang sangat kencang, ia melihat Ila yang sudah tak bernyawa dengan menjulurkan lidahnya bahkan matanya sampai melotot ke atas. Ica menangis histeris hingga akhirnya ia pun jatuh pingsan.


Sedangkan semua keluarga, yang mendengar suara Ica langsung berlari ke arah belakang namun betapa kagetnya mereka melihat kondisi Ila yang mati karena gantung diri bahkan Elsa pun sampai jatuh pingsan. Angga segera menggendong Elsa untuk masuk ke dalam dan menidurkan di sofa begitupun dengan Pram, ia menggotong tubuh Ica menuju kamarnya.


Sedangkan Will, Taufiq dan Jay segera menurunkan Ila dari atas pohon.


Jay merasa jantungnya seperti mau berhenti melihat kondisi Ila yang bahkan jauh lebih mengenaskan dari pada Alina, putrinya.


Aisyah, Cinta, Ani dan Ana hanya bisa menangis meratapi kepergian Ila yang mati dalam keadaan mengenaskan. Padahal baru kemaren Alina selesai di makamkan namun sekarang Ila akan segera menyusul nya.


Rachel dan Arsha hanya bisa melihat dan bingung gak tau harus berbuat apa. Namun tiba tiba Cintapun juga jatuh pingsan karena tak kuat melihat menantunya yang menjulurkan lidah bahkan matanya sampai melotot ke atas. Ila juga bahkan sampai kencing di celananya. Cinta tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya Ila saat tali itu meregut nyawanya hingga Ila sampai seperti itu.


Saat Cinta jatuh pingsan, Taufiq langsung menggotong Cinta menuju kamarnya. Sekarang di taman belakang itu hanya sisa Jay, Will, Rachel, Arsha, Ani, Ana dan juga Aisyah.

__ADS_1


"Kamu harus yang sabar ya." ucap Will kepada Jay yang terus menerus memeluk jasad istrinya.


"Aku sudah tak tau lagi bagaimana menjalani hari hariku. Aku sudah kehilangan anakku dan kini aku harus kehilangan istriku. Padahal mereka berdua adalah harta berharga bagiku. Mereka berdua adalah semangat hidupku. Sekarang setelah mereka tiada, aku tidak tau lagi apakah aku bisa menjalani hari hariku seperti saat mereka masih ada." ujar Jay menangis.


"Aku yakin kamu bisa, kamu adalah laki laki yang kuat. Kamu pasti bisa memalui semua itu." ucap Will mencoba untuk menguatkan hati saudara kembarnya itu.


"Makasih ya Will, terima kasih atas nasihatmu. Walau ini berat dan menyakitkan tapi aku akan mencoba untuk mengikhlaskan dan berusaha untuk tegar." ujar Jay berusaha untuk bersikap biasa aja walaupun hatinya sedang remuk.


"Kapan jenazah akan di makamkan?" tanya Will.


"Secepatnya, siapkan saja semuanya." jawab Jay sambil terus memeluk istrinya dan mencium wajahnya berulang ulang.


Will, Arsha dan juga Rachel langsung menyiapkan semuanya.. Begitupun dengan Ani, Ana dan Aisyah mereka juga menyiapkan apa yang memang perlu untuk mereka siapkan. Cinta juga sudah mulai sadar dikit dikit, namun ia masih sok karena ia tak menyangka akan kehilangan menantu dan cucunya hanya dalam waktu dua hari. Taufiq terus berusaha menenangkan istrinya begitu pun dengan Angga dan dan juga Pram yang berusaha untuk menenangkan Elsan dan juga Ica.


Elsa yang paling histeris, kemaren ia kehilangan cucunya bahkan ia gak bisa hadir dalam pemakaman nya dan sekarang ia melihat putrinya gantung diri dengan menjulurkan lidahnya sambil matanya yang melotot ke atas. Elsa sebagai seorang ibu yang mengandung nya selama 9 bulan dan melahirkan putrinya dengan mempertaruhkan nyawanya. Merawat nya dari kecil dengan penuh cinta dan kasih sayang. Berusaha menjaga dan melindungi nya dengan segenap jiwa. Dan sekarang di depan matanya sendiri ia melihat putrinya gantung diri.


Elsa tak menyangka Ila akan mengambil jalan pintas seperti itu. Elsa bener bener gak habis fikir, kenapa Ila sampai mengakhiri hidupnya seperti ini. Bahkan ia belum sempat bertemu dan ngobrol dengan putri kandungnya itu namun kini Ila sudah tiada dan kini hanya tinggal Ica putri satu satunya yang harus ia jaga sepenuh hati.


Ica sendiri, ia memeluk foto Ila. Ica sangat terpukul dengan kejadian seperti ini. Dulu ia kehilangan putra pertamanya saat putranya masih berada dalam kandungan. Dan kemaren ia kehilangan keponakannya, Alia yang begitu polos dan ceria. Sekarang ia juga harus kehilangan saudara kembarnya. Ica tau hidup mati sudah ada yang menentukan hanya saja Ica tak habis fikir. Dulu hanya dalam hitungan jam, ia kehilangan putranya dan kemaren hanya dalam hitungan jam juga, ia kehilangan keponakannya dan sekarang hanya dalam hitungan jam, ia juga kehilangan saudara kembarnya. Ica merasa semua ini sangat mendadak dan seperti mimpi. Saat Ica menangis sambil memeluk foto Ila. Angel yang baru bangun tidur langsung menangis. Ica segera menggendongnya dan menyusuimya sedangkan Pram izin untuk membantu yang lain menyiapkan pemakaman Ila.


Cinta sendiri masih diam dan tak mau ngomong. Ia masih terkejut bahkan sampai sekarang. Taufiq meminta izin untuk mengurus pemakaman mantunya itu. Cinta pun mengizinkan namun Cinta memilih untuk tetap di kamar dan gak mau ngapa-ngapain. Karena setiap kali melihat jenazah Ila, itu membuat dadanya sangat sesak dan sakit.


Ica yang tau mamanya masih sok, segera menghampirinya sambil menggendong Angel yang sudah selesai menyusu.


Angga tersenyum melihat putrinya ( Ica ) datang untuk menghampiri. Angga pun menitipkan Elsa kepada putrinya itu agar Angga juga bisa mengurus pemakaman Ila, saudara kembarnya Ica.


Saat Aisyah, Ani dan Ana sedang sibuk menyiapkan ini dan itu, Aisyah mendengar suara Khaleed yang menangis.


"An, kakak ke kamar dulu ya. Kayaknya Khaleed sudah bangun. Kakak juga mau menemani bunda karena kakak liat tadi ayah ada di belakang sama yang lainnya. Gak papakan kalian kerjakan ini berdua?" tanya Aisyah.


"Gak papa kog kak." jawab Ani dan Ana bersamaan.


Aisyahpun segera mengambil Khaleed yang masih ada di atas kasur dan langsung menggendong nya.


Aisyah juga pergi ke dapur untuk membuatkan susu buat putranya. Setelah putranya minum susu dengan botol yang ia pegang, Aisyahpun pergi ke kamar bundanya. Di sana ia melihat sang bunda (Cinta), menatap ke jendela dengan tatapan kosong.. Aisyah menghampiri nya dan mengajak ibu mertuanya itu ngobrol agar Cinta tak terlalu sedih lagi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dosa Bunuh Diri


Bunuh diri termasuk dosa yang sangat besar, karena pelakunya diancam oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk disiksa di neraka dengan cara sebagaimana ketika dia bunuh diri. Padahal orang yang melakukan bunuh diri sampai mati, tidak ada lagi kesempatan bertaubat baginya.


Dari Abu Hurairah radhiallahu ’anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


“Siapa yang menjatuhkan dirinya dari gunung hingga mati maka di neraka jahanam dia akan menjatuhkan dirinya, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang menegak racun sampai mati, maka racun itu akan diberikan di tangannya, kemudian dia minum di neraka jahanam, kekal di dalamnya selamanya. Siapa yang membunuh dirinya dengan senjata tajam maka senjata itu akan diberikan di tangannya kemudian dia tusuk perutnya di neraka jahanam, kekal selamanya.” (HR. Bukhari 5778 dan Muslim 109)


Meskipun demikian, pelaku bunuh diri tidaklah dihukumi keluar dari islam. Sehingga jenazahnya tetap wajib disikapi sebagaimana layaknya jenazah seorang muslim. Dia wajib dimandikan, dikafani, dishalati, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.


Hukuman Sosial Bagi Jenazah Bunuh Diri


Hanya saja, ada satu yang membedakan, dianjurkan bagi pemuka agama dan masyarakat, seperti ulama setempat atau pemerintah desa setempat, agar tidak turut menshalati jenazah ini secara terang-terangan, sebagai hukuman sosial dan pelajaran berharga bagi masyarakat.


Dalam hadis dari Jabir bin Samurah radhiallahu ’anhu, beliau menceritakan,


Pernah didatangkan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seorang jenazah korban bunuh diri dengan anak panah, dan beliau tidak bersedia menshalatinya. (HR. Muslim 978).


An-Nawawi mengatakan,


Imam Malik dan yang lainnya berpendapat bahwa hendaknya pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang mati karena dihukum, dan para pemuka agama tidak menshalati orang fasik, sebagai peringatan bagi masyarakat. Sementara Az-Zuhri berpendapat, pemuka masyarakat tidak menshalati orang yang mati dirajam, namun menshalati orang yang mati sebagai qishas. (Syarh Shahih Muslim, 7/47 – 48)


Syaikhul Islam juga menjelaskan yang semisal


“Orang yang tidak mau menshalati jenazah yang mati karena korupsi, qishas, dan punya utang, sebagai bentuk peringatan bagi yang lain agar tidak melakukan semacam itu, termasuk sikap yang baik. Dan andaikan dia tidak mau menshalati secara terang-terangan, namun tetap mendoakan secara diam-diam, sehingga bisa menggabungkan dua sikap paling maslahat, tentu itu pilihan terbaik dari pada meninggalkan salah satu.” (al-Ikhtiyarat al-Fiqhiyah, hlm. 78)


Maksud beliau dengan “dia tidak mau menshalati jenazah orang fasik secara terang-terangan” adalah dalam rangka mengingatkan masyarakat terhadap bahaya perbuatan tersebut dan “tetap mendoakan secara diam-diam”, dalam rangka menunaikan hak sesama muslim.


Kesimpulan


Jenazah yang mati bunuh diri, berhak untuk mendapatkan hukuman sosial, seperti tidak dishalati oleh pemuka masyarakat setempat atau para tokoh agama. Namun dia tetap mendapatkan hak sebagai jenazah muslim, yaitu dimandikan, dikafani, dishalati oleh umumnya kaum muslimin, dan dimakamkan di pemakaman kaum muslimin.


Hukuman sosial boleh saja diberikan, namun tidak boleh menghalangi hak dasar setiap muslim yang dilindungi syariat. Dan tidak boleh ada kesepakatan yang menggugurkan aturan syariat.

__ADS_1


Sehingga jenazah orang yang mati bunuh diri, tetap wajib dikafani, namun para tokoh masyarakat, boleh tidak ikut menshalatinya.


Artike ini saya ambil di konsultasisyariah.com


__ADS_2