
Sesampai di kantor, Taufiq benar benar
merasa bahagia karena ternyata istrinya belum meninggal dan hanya hilang
ingatan saja. Tapi Taufiq tidak mungkin memberi tahu siapapun, entah itu adalah
orang tuanya sendiri, orang tua Cinta, Elsa dan juga yang lainnya. Taufiq akan
merahasiakan semua ini seorang diri. Cukuplah dirinya yang tau bahwa Naila itu
adalah Cinta, istrinya yang sangat ia cintai. Sekarang adalah berfikir
bagaimana ia bisa kenal dengan Naila setelah ia kenal barulah ia akan mencoba
untuk mendekatinya dan membuatnya ingat kembali dengan dirinya dan juga
keluarganya serta paling penting ia tau siapa dirinya sendiri. Taufiq akan
membawa Naila ke tempat tempat yang sering ia kunjungi. Tapi untuk membawa
Naila tentu Elsa tidak boleh tau karena Elsa bisa saja menggagalkan semua
rencanannya. Taufiq akan melangkah pelan pelan dan ia akan mengawasi gerak
gerik Naila dari jarak jauh. Ia tak ingin kehilangan istrinya untuk yang kedua
kalianya dan ia tidak akan membiarkan istrinya dekat dengan cowok lain apalagi
sampai menjalin hubungan dengan orang lain.
Taufiq
memegang foto Naila alias Cinta. Ia berjani secepatnya akan membuat Naila/Cinta
ingat kembali semua tentang masa lalunya. Tapi hari ini ia akan datang ke RESTO
itu lagi untuk mengajak kerjasama. Yah Taufiq akan memberikan suntikan dana
besar agar Naila/Cinta bisa segera melunasi hutannya kepada Elsa dan bisa
membukan cabang baru sesuai keinginannya dan Taufiq akan memesan setiap bulan
setiap minggu sebanyak satu juta bungkus makanan untuk di bagikan ke panti
asuhan dan fakir miskin tapi alasan sebenarnya ia memesan sebanyak itu agar
Naila bisa ke Panti Asuhan Al Hidayah, aku yakin Naila akan mengingat kembali ingatan masa lalunya sedikit demi
sedikit karena panti itu memberikan banyak kenangan untuk istrinya. Tak peduli
jika nantinya Taufiq harus menguras habis tabungannya yang penting istrinya
bisa kembali lagi dalam pelukannya. Harta masih bisa di cari tari istri, dia
adalah harta berharga dan harta paling terindah yang pernah tuhan berikan
untuknya.
Taufiq membenahi penampilannya dan ia kembali pergi ke sebuah RESTO
BASMALLAH kali ini ia pergi dengan senyuman yang tak pernah surut dari
bibirnya. Di Resto itu ia langsung bertemu dengan Bi Inah yang katanya adalah
ibu angkat Naila.
“Assalamu’alaikum.” Ucap Taufiq.
“Waalaikum salam.” Jawab Inah.
“Apa benar Anda ibunda dari Naila, pemilik RESTO ini?” tanya Taufiq.
“Iya benar. Maaf anda siapa ya?’ tanya Inah.
__ADS_1
“Saya seseorang yang ingin mengajak kerjasama dengan anak ibu. Saya
tertarik dengan RESTO ini dan saya ingin anak ibu mengembangkan RESTO ini agar
semakin luas dan membuka banyak cabang. Saya ingin menitipkan modal untuk RESTO
ini.” Ucap Taufiq dengan suara yang sangat lembut tapi tegas.
“Oh gitu. Iya sudah kamu tunggu anak saya pulang dulu ya. Mungkin 10 menit
lagi dia sudah sampai. Sekarang dia masih dalam perjalanan pulang. Maaf namanya
siapa ya?” tanya Inah.
“Firman bu.” Jawab Taufiq. Dia tidak berbohong namanya Taufiq Firmansyah,
bisa di panggil Taufiq dan bisa juga di panggil Firman.
“Iya sudah, Nak Firman tunggu di sini dulu ya. Ibu akan membuatkan kamu
juz.” Ucap Inah yang hanya di jawab dngan anggukan kepala.
Setelah Inah selesai membuatkan juz, ia pun segera memberikannya kepada
Taufiq. Tak luupa Taufiq mengucapkan terimakasih dan memberikan senyuman
tulusnya. Bahwa ia sempat kecewa karena Inah sudah memisahkan dirinya dengan
sang istri tapi ia juga harus bersyukur karena dia dan suaminya sudah menolong
istrinya hingga ia bisa seperti sekarang.
Setelah Taufiq meminum juz itu sampai setengahnya, tiba tiba Naila datang
seorang diri. “Syukurlah, Elsa gak ikut. Bisa berabe rencananya jika ia sampai
melihatku di sini.” Ucap Taufiq dalam hati.
Melihat istrinya ada di hapanya membuat Taufiq ingin sekali memeluknya
akan menunggu sampai waktunya tiba. Taufiq memerhatikan istrinya dari atas pek
bawah, Nailai/Cinta sudah berubah ia tidak lagi gadis kecil seperti saat ia
nikahin tahun lalu. Sekarang istrinya sudah tambah cantik, imut dan juga
menggemaskan bahkan kini ia juga terlihat lebih dewasa.
“Maaf benar anda yang bernama Firman?” tanya Naila. Tadi saat di
perjalanan, sang bunda mengirim pesan sehingga Naila bisa tau dan langsung
menghampirinya.
“Iya benar.” Jawab Taufiq gugup. Rasanya aneh harus berbicara formal
seperti ini dengan istrinya sendiri tapi masalahnya saat ini istrinya tidak
mengingat siapa dirinya. Dan Taufiq harus pandai bersandiwara untuk bisa mengembalikan
ingatan istrinya.
“Mari ikut saya ke dalam ruangan.” Ucap Naila. Taufik pun hanya mengangguk
dan langsung mengikuti langkah Naila.
“Maaf jika agak keberatan. Sebenarnya ini adalah kamar tidur saya hanya
saja saya bagi menjadi ruangan saya juga karena saya tidak punya ruangan
sendiri. Lantai satu dan lantai dua penuh dengan pelanggan. Saya harap anda
nyaman jika berkomunikasi di ruangan kecil ini.” Ucap Naila.
__ADS_1
“Saya tidak masalah mau komunikasi di mana aja. Yang pentingkan maksud dari
kedatangan saya ke sini.” Ujar Taufiq.
“Oh ya saya hampir lupa. Tadi bunda sudah bilang cuman saya masih belum
terlalu faham. Bisa bapak eh mas maksud saya. Bisa jelaskan secara detail.”
Pinta Naila.
“Pertama kamu boleh memanggil saya dengan sebutan Maas Firman dan saya
harap masalah ini cukup aku, kamu dan bunda kamu aja yang tau sedangkan yang
lain tidak perlu tau. Dan yang kedua saya ke sini untuk mengajak kerja sama..
Saya sudah melihat kinerja anda beberapa hari terkahir ini dan melihat RESTO
anda yang tidak pernah sepi pelanggan malah semakin hari semakin bertambah dan
itu membuat saya tertarik. Untuk itu saya ingin menanamkan modal di RESTO ini.
Denga modal yang saya berikan, anda bisa memperluas RESTO ini dan bisa membuka
cabang baru. Nanti keuntungannya kamu 65% dan saya 35%. Uang yang akan saya
tanamkan juga tidaklah sedikit yaitu 5 miliar. Dan setiap minggu saya akan
memesan 1 juta nasi bungkus beserta air mineral dan makanan ringan tapi untuk
pesanan saya ini, saya akan bayar secara pribadi.” Ucap Taufik menjelaskan.
“Untuk yang pertama saya akan memanggil anda dngan sebuta mas Firman saja
dan saya berjanji hal ini tidak akan bocor kepada siapapun dan hanya saya, mas
Firman, bunda dan tuhan saja yang tau. Untuk yang kedua, mas yakin mau
menanamkan modal sebesar lima miliar di RESTO ini. Mas Firman gak bercanda.
Giman jika ternyata RESTO yang saya buka bangkrut?” tanya Naila hati hati.
“Iya berarti emang bukan rezeki saya dan saya tidak akan menuntut apapun
dari anda.”
“Baiklah jika seperti itu, saya setuju. Tapi untuk 1 juta bungkus per
minggu. Itu Mas Firman yakin. Emang buat apa?” tanya Naila penasaran.
“Untuk saya kasihkan ke Panti Asuhan, Panti Jompo, Fakir miskin.” Jawab
Taufiq tersenyum.
“Ternyata anda adalah orang yang sangat baik. Oh ya terus kapan kita akan
membuat surat perjanjiannya?” tanya Naila.
“Besok. BEsok saya akan datang ke sini jam 8 pagi dengan membawa surat
perjanjiannya.”
“Baiklah jika begitu saya akan tunggu kedatangan mas Firman besok jam 8.”
“Oke, kalau gitu saya pamit untuk diri. Semoga kerja sama ini berjalan
sukses dan bisa saling menguntungkan.” Ucap Taufiq.
“Amin, semoga aja.” Ujar Naila tersenyum.
Setelah pamit, Taufiq pun segera pulang, sebenarnya ia ingin sekali berlama
lama dengan Naila tapi ia gak bisa karna Naila pasti akan curiga dan ia tidak
__ADS_1
mau di ajak kerja sama. Taufiq harus benar benar ekstra sabar. Ia akan terus
berdoa dan berusaha sampai istrinya jatuh ke dalam pelukannya lagi.