Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Will memberikan Nasihat Untuk Jay


__ADS_3


Setelah Ila selesai di makamkan. Jay hanya mengurung diri di kamar. Ia hanya sholat, wiridan dan ngaji sebentar lalu tidur lagi. Nanti bangun setelah mendenger adzan hanya untuk sholat. Jay tak mengisi perutnya dengan makanan sama sekali. Sudah beberapa kali Cinta,  Taufiq, Ani, Ana, Will, Pram berusaha membujuk Jay buat makan namun tetep saja, Jay menolak dan tak banyak bicara hingga mereka pun menyerah satu persatu.


Ila sendiri masih sok, namun ia masih masih mau makan karena bagaimanapun ia masih menyusui yang artinya ia butuh suplai makanan ( Ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi kualitas ASI; kesehatan ibu, kecukupan istirahat, serta asupan makanan yang dikonsumsi.


Ingatlah bahwa tidak hanya kualitas ASI saja yang perlu diperhatikan, tetapi juga kuantitasnya. Maka dari itu, sangat penting untuk menentukan jenis dan jumlah makanan untuk dikonsumsi oleh ibu menyusui.


Pada dasarnya sebagian besar ibu menyusui membutuhkan 500 kalori lebih banyak dibandingkan dengan jumlah asupan kalori normal mereka sebelum kehamilan. Tentunya, kebutuhan kalori setiap individu bergantung dari metabolisme dan aktivitas fisik mereka.


Beberapa pakar di bidang nutrisi menganjurkan agar ibu menyusui mengonsumsi sekitar 2.700 kalori per hari. Namun penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebutuhan kalori ibu menyusui setiap harinya adalah sekitar 2.200 kalori.)


Karena tak ingin putrinya kenapa napa, Ila tetep harus makan jika sudah tiba waktunya makan, karena ia tak ingin kehilangan Angel hanya karena dirinya yang egois. Ila memang sekarang lagi berduka atas kematikan keponakan dan juga saudara kembarnya tapi bukan berarti dirinya harus membiarkan Angel kelaparan. Angel masih terus menyusu di usianya yang sekarang.


Selesai menyusu, Ica akan memberikan Angel kepada Pram dan dirinya akan pergi ke kamar mamanya untuk menghibur Elsa yang sampai sekarang juga masih sok dan tak percaya jika Ila dan Alina kini benar benar telah tiada.


Yang bikin ia tambah sok adalah apa yang di lakukan oleh Ila itu adalah kesalahan yang sangat fatal. Seharusnya walaupun ia sangat sedih karena di tinggal oleh putrinya, tak seharusnya Ila melakukan tindakan itu. Bahkan semua keluarga itu menyayangkan kebodohan Ila dalam menghadapi sebuah masalah. Bunuh diri adalah hal yang tidak seharusnya di lakukan.


Bunuh diri adalah untuk orang yang imamnya lemah.


Jay sendiri juga menyayangkan apa yang telah di lakukan oleh Ila. Dia fikir, istrinya itu sudah berusaha untuk ikhlas mengingat kemaren Ila begitu menurut dengan apa yang di katakan olleh Jay. Walaupun Jay melihat tatapan yang kosong di kedua mata Ila, Jay tak sampai berfikiran bahwa Ila sampai menggantungkan dirinya di atas pohon. Bahkan sedikitpun, Jay tak berfikiran sampai di situ.


Walaupun kemaren memang istrinya itu mencoba bunuh diri dengan pisau namun ketika Jay menasehatinya, Ila mulai luluh dan menurut. Tapi ternyata itu hanya sebuah tipuan, nyatanya Ila masih tetep melakukan tindakan bunuh diri yang  menghilangkan nyawanya sendiri.


Jay memeluk foto Ila yang sedang menggendong Alina, putrinya.


"Sayang, kenapa kamu tega meninggalkan aku sendirian di sini. Kenapa kamu sampai sebodoh itu melakukan hal hal yang sangat di benci oleh Allah. Padahal kamu tau, seberat apapun ujian kita, kita tidak boleh sampai memilih untuk menghilangkan nyawa kita sendiri.


Yank, kamu sudah berhasil membuat hatiku luluh lantak. Aku sudah kehilangan putri kecil kita, dan sekarang aku juga kehilangan kamu sebagai istriku. Apakah kamu sudah puas membuat aku menderita seperti ini. Kenapa kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri tanpa memikirkan bagaimana perasaanku, bagaiman perasaan kedua orang tua kamu dan bagaimana perasaan saudara kembar kamu serta orang orang yang ada di sekitar kamu.


Aku tau ini berat bahkan sangatlah berat tapi bukan berarti bunuh diri menjadi pilihan terakhir. Ada banyak hal yang perlu kita lakukan, mungkin kita bisa mensedekankah sebagian harta kita untuk Alina di sana, serta  memberikan semua barang dan mainan putri kita ke panti asuhan agar amalnya mengalir kepada Alina.


Kita juga bisa membuat anak lagi jika memang kau sangat menginginkan seorang anak setelah kematian putri kita. Kita bisa melakukan banyak hal sayang, tapi kenapa engkau tega membuatku sesedih ini, membuatku merasakan rasa sakit ini. Rasa perih ini jujur membuatku luluh lantak. Rasanya sangatlah sakit, dada ini bahkan terasa sangat sesak.


Yank, bertahun tahun kita menikah, kamu sudah menjadi bagian dalam hidupku. Kamu adalah penyemangat hidupku, kamu adalah teman hidupku, kamu separuh hidupku. Kamu yang selama ini selalu ada buat aku, selalu setia mendampingiku dalam keadaan suka maupun duka. Kamu selalu bisa membuat hari hariku bahagia, kamu selalu membuat aku merasa nyaman berada di dekat kamu.


Lalu bagaimana dengan sekarang? Setelah kamu tiada, apa yang harus aku lakukan. Penyemangat hidupku telah tiada, padahal kamu seperti obat buatku. Kamu seperti vitamin buat aku. Di saat aku lelah, aku akan datang kepadamu untuk membuat tubuhku serta otakku bisa segar kembali seterlah rutinitas yang aku lakukan di luaran sana.


Sayang, kenapa kamu tega membuatku seperti ini? Kenapa kamu tega ninggalin aku yank? Kenapa? Kau hanya memikirkan perasaanmu dan mengabaikan perasaanku. Kau tak peduli dengan hidupku.


Ah, bahkan aku tak tau lagi harus ngomong apa. Kau begitu kejam membiarkan aku harus hidup sendiri tanpa kamu dan anak kita. Kau begitu kejam meninggalkan aku seperti ini seorang diri. Kau begitu kejam sayang." ucap Jay sambil memeluk foto Ila dan juga Alina. Jay benar benar merasakan rasa sakit di dadanya, rasa sesak yang membuat dirinya seperti merasakan rasa sakit yang luar biasa di sekujur tubuhnya.


Jay terus menggumam, ia mengatakan bahwa dirinya sangatlah kecewa dengan apa yang telah di lakukan oleh istrinya itu.


Saat Jay memegang dadanya, Will masuk untuk memeriksa kondisi Jay, namun betapa kagetnya dirinya, melihat Jay yang merintih kesakita sambil memegang dada sebelah kirinya.

__ADS_1


"Jay kamu kenapa?" tanya Wil panik.


"Dadaku sakit, dadaku sesak." jawab Jay. Wil pun segera memeriksa kondisi Jay.


"Jay, kamu tarik nafas lalu hembuskan secara perlahan. Kamu ulangi terus menerus ya." ujar Will. Jay pun menuruti ucapan saudara kembarnya itu. Jay, mengambil nafas lalu menghembuskan secara perlahan sesuai yang Will perintahkan. Setelah beberapa lama, Jay merasa agak baikan.


"Kamu kenapa?" tanya Will. Ia duduk di samping saudara kembarnya itu.


"Aku gak papa." jawab Jay tersenyum walaupun hatinya terasa sangatlah sakit. Nyeri di dadanya juga sudah berangsur angsur mulai menghilang.


"Aku tau apa yang kamu rasakan dan itu sangatlah berat. Bahkan lebih berat dari pada ujian yang aku dan Pram rasakan. Dulu saat aku mendengar istriku menghilang entah kemana, aku seperi orang yang sangat frustasi. Mencarinya bahkan seperti orang gila. Walaupun tubuhku masih terasa sakit, tapi aku masih berusaha dan memaksakan diriku untuk mencari istriku.


Walaupun semua orang memvonis istriku meninggal tapi tidak denganku. Aku merasa yakin istriku masih ada dan masih hidup hanya saja aku tak tau dia ada dimana.


Tapi jujur, rasanya sangat sakit memang. Aku baru aja menikah tapi Allah menguji pernikahanku dengan begitu dahsyatnya. Di saat kamu dan Ila lagi senang senang menimati pernikahan kalian bahkan di saat Pram juga bahagia bersama istrinya. Aku merasa sangat sakit. Apalagi istrimu dan istri Pram waktu itu hamil secara bersamaan. Sedangkan istriku masih hilang bahkan tak ada satupun yang tau dimana dia berada.


Aku hanya bisa berdoa dan mencoba menenangkan diriku dengan membaca ayat ayat suci Al quran sambil terus berusaha mencari petunjuk dimana istriku berada. Jujur, Aku pernah merasa iri dengan kehidupan kalian. Kamu dan juga Pram, kalian terlihat seperti keluarga yang begitu bahagia sedangkan aku, aku merana, aku merasa Allah sangat tidak adil untuk kita bertiga, kenapa hanya aku yang di uji. Sedangkan Allah memberikan kebahagiaan untuk kalian.


Setiap kali aku melihat kalian tertawa bahagia, aku merasa hatiku sakit. Andai istriku ada di dekatku, mungkin aku juga akan merasakan kebahagiaan yang kalian rasakan. Namun sayangnya, aku tak tau dimana istriku berada, dia hilang seperti di telan bumi. Entah aku tak tau apakah dia masih hidup atau sudah mati Namun firasatku selalu mengatakan dia masih hidup hanya saja aku tak tau dimana keberadaannya.


Aku selalu mencari seorang diri walaupun semua orang menyerah dan mengatakan istriku sudah meninggal. Tapi tidak denganku, selama jasadnya masih belum di temukan, aku percaya dia masih hidup.


Jujur, berat bahkan sangat berat ujian yang aku alami. Aku baru beberapa hari menikah namun Allah uji aku, Allah uji pernikahan ku.


Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama, karena saat istriku tiba di rumah ayah dan bunda. Ica malah keguguran. Aku merasa takdir seakan mempermainkan kita semua.


Yah, aku tak menyangka setelah aku menemukan kebahagiaan ku kembali, aku malah melihat rasa kesedihan yang begitu mendalam di mata Pram dan juga Ica. Kenapa, kenapa Allah uji keluarga kita. Apakah karena selama ini hidup kita bahagia bahkan terlalu bahagia hingga kini Allah uji kita dengan ujian yang tiada henti.


Di satu sisi, aku sangat bahagia dengan kehadiran istriku namun di sisi lain, aku merasa sedih dan sangat sedih karena aku melihat kesedihan yang begitu mendalam di hati saudara kembarku.


Apalagi waktu itu Ica sangat frustasi saat tau putra yang ia nanti nantikan untuk lahir di dunia ini ternyata sudah tiada.


Yah, setelah Allah uji pernikahan ku. Kini Allah uji pernikahan Pram dan juga Ila. Aku tau Allah akan selalu menguji hambanya, dan tidak ada manusia yang luput dari ujian yang selalu di berikan kepadanya. Hanya saja aku tak menyangka akan seberat ini.


Dan kini setelah Allah uji pernikahan ku dengan kecelakaan itu hingga membuat aku dan istriku terpisah. Allah juga menguji pernikahan Pram dan juga Ica dengan mengambil buah hati cinta mereka. Dam sekarang Allah uji pernikahan mu.


Aku tau memang berat rasanya jadi kamu, Jay. Kamu kehilangan istri dan anak sekaligus. Bahkan jika aku jadi kamu, aku tak kan mampu bahkan membayangkan nya saja gak bisa.


Mungkin Allah memberikan ujian ini ke kamu, karena kamu adalah orang yang kuat, orang yang mampu melewati semua ujian demi ujian yang datang secara bergantian.


Aku ngerti, bahkan sangat mengerti bagaimana perasaanmu. Tapi aku gak bisa melakukan apa apa, aku hanya bisa menasehati mu seperti ini. Tapi aku harap, kau tak terus menerus terpuruk seperti ini. Kasihan ayah dan bunda. Mereka cemas memikirkan kamu.


Ayah dan bunda sudah tak lagi muda, mereka tak boleh banyak fikiran. Jika kamu seperti ini, ayah dan bunda menjadi khawatir, terutama bunda. Itu akan mempengaruhi kesehatan bunda. Kamu gak mau kan, Bunda ninggalin kita semua seperti Ila dan Alina yang meninggalkan kita? Cukup 2 orang saja, jangan di tambah lagi." ujar Will nyomong panjang lebar.


"Iya Will kamu benar. Aku harus bangkit demi orang orang yang aku sayang. Memang ini berat bahkan sangatlah berat. Tapi aku gak mau bunda sakit dan meninggalkan aku karena terus menerus memikirkan aku. Aku akan berusaha untuk tegar, mungkin memang benar inilah takdir yang harus aku jalani. Semoga Allah memberikan aku kekuatan dan kesabaran untuk bisa melalui semua ini." ucap Jay yang lagi lagi berusaha untuk tegar. Ia gak mau Cinta sakit karena memikirkan dirinya. Jay tak mau menjadi orang yang egois yang memikirkan dirinya sendiri dan mengabaikan perasaan orang orang yang ada di sekitarnya.

__ADS_1


"Jika kamu butuh apa apa ataupun butuh teman curhat. Kamu bisa panggil aku, akan selalu datang dan selalu ada buat kamu. Kita ini saudara kembar. Bahkan sejak dalam kandungan kita selalu bersama bahkan sampai kita dewasa. Hanya saja sejak kita nikah, kita sudag jarang bersama karena kita sudah mempunyai kesibukan masing-masing. Tapi jujur, aku sangat menyayangimu. Kamu adalah saudara kembarku. Walaupun selama ini, aku gak ada di dekat kamu. Tapi kamu selalu ada di hati dan di fikiranku. Aku, kamu, Pram, Ani dan Ana. Kita adalah saudara kandung yang tentu harus saling menjaga satu sama lain.


Nanti jika nanti kamu sudah baikan. Bagaimana jika kita pergi bersama. Jalan jalan seperti dulu lagi." ucap Will.


"Terus bagaimana dengan istrimu?" tanya Jay


"Istriku kan tinggal sama ayah dan bunda. Jadi aku bisa titipkan Aisyah dan Khaleed ke mereka." jawab Will


"Sejak kapan kalian tinggal sama ayah dan bunda?" tany Jay.


"Sejak kemaren. Saat kita kumpul bersama. Kamu pulang duluan bersama anak dan istrimu dan di susul dengan yang lain. Hingga tinggal aku, Aisyah dan putra kami yang belum pulang. Dan saat aku mau izin, aku melihat kesedihan di mata ayah dan bunda. Dan sejak saat itu Aisyah yang mengerti perasaan ayah dan bunda mengajak kami tinggal di sana.


Jujur aku juga merasa bersalah, bahkan sangat merasa bersalah. Dulu rumah ayah dan bunda begitu ramai dengan kehadiran kita. Namun sejak kita menikah, satu demi persatu kita semua meninggalkan ayah dan bunda di rumah itu hingga mereka kesepian namun berusaha untuk nahan dan tak menceritakan bagaimana perasaan mereka. Mungkin mereka takut, takut jika mereka akan membebani kita semua.


Andai aku tau dari dulu kepergian kita membuat ayah dan bunda sedih sekaligus kesepian. Mungkin aku akan memilih tinggal bersama ayah dan bunda.


Namun sayangnya, aku gak peka dengan perasaan mereka. Dan itu membuat aku merasa bersalah karena membiarkan ayah dan bunda bertahun-tahun merasa kesepian. Apalagi perusahaan ayah dan resto bunda sudah mereka berikan kepada Ani dan Ana. Hingga mereka hanya diam di rumah dan gak ngapa ngapain selain yah kamu tau sendirilah, ayah menanam berbagai macam sayur dan buah di sampaing dan belakang rumahnya sekaligus memelihara ikan untuk mengusir kebosanannya. Begitupun dengan bunda yang hampir tiap hari hanya mencoba membuat berbagai macam resep makanan dan kue beberapa kue. Tak ada lagi yang mereka lakukan selain mengulang aktivitas mereka setiap hari.


Aku yakin mereka sangat bosan namun mereka gak bisa berbuat apa apa.


Dan saat aku dan Aisyah bilang akan tinggal di sana, ayah dan bunda terlihat begitu antusias. Bahkan matanya memancarkan kebahagiaan yang bisa di baca oleh semua orang.


Aku sangat bahagia melihat mereka bahagia Hanya dengan tinggal di sana aku sudah bisa membuat mereka bahagia. Andai aku tau dari dulu, mungkin aku akan tinggal di sana sejak dulu dan akan tinggal rumah yang di belikan oleh ayah." ucap Will


"Iya kamu benar Will, sebagai anak kita sudah menjadi anak yang egois. Kita tak pernah memikirkan bagaimana perasaan ayah dan bunda. Will, bolehkah aku tinggal di sana juga. Aku ingin berkumpul bersama dengan ayah dan bunda juga. Lagian jika aku tetep tinggal di sini, aku akan selalu inget dengan anak dan istriku. Bagaimanapun rumag ini terlalu mempunyai banyak kenangan." ucap Jay.


"Aku malah senang jika kamu mau tinggal bersama ayah dan bunda lagi. Ayo kita buat rumah itu menjadi ramai seperti dulu lagi. Lagian rumah ini memang memiliki banyak kenangan dan kamu gak boleh tinggal di sini karena itu akan membuat kamu sedih tiap hari. Oh ya rumahku juga aku kontrakkan namun sampai saat ini belum ada yang datang mengontrak rumah itu. Aku gak berani menjualnya karena bagaimanapun rumah itu pembelian ayah untuk kita semua."


"Iya sama, aku gak tega jika harus menjual rumah ini. Tapi jika aku tinggal di rumah ayah dan bunda lalu bagaimana dengan istrimu. Apakah dia gak keberatan?" tanya Jay


"Aku yakin bahkan sangat yakin, dia gak akan keberatan. Malah dia senang jika kamu mau tinggal bersama kami, bersama ayah dan bunda." jawab Will tersenyum.


"Oh ya bagaimana Ica dan mama Elsa? Apa mereka sudah baikan?" tanya Jay karena yang ia dengar, mereka berdua sangat shok bahkan sampai pingsan begitupun dengan bunda Cinta. Cuma cinta berusaha tegar demi putranya, Jay. Hanya tinggal Elsa dan Ica yang masih belum ikhlas dan belum percaya dengan kematian Ila yang begitu tragis dan mengenaskan.


"Ica sudah baikan, ia sudah mau makan karena bagaimanapun ia sedang menyusui putrinya yang mau gak mau ia harus makan agar Asinya tetep terjaga. Biasanya selesai menyusui, Ica akan langsung memberikan Angel kepada suaminya, Pram.


Sedangkan Ica akan pergi ke kamar Mama Elsa untuk menenangkannya dan memberikan semangat. Memang yang paling terpukul di sini adalah kamu, Mama Elsa dan juga Ica. Tapi kalian bertiga harus bisa melalui ini semua." jawab Will.


"Iya aku akan mencoba untuk mengikhlaskan semua yang sudah terjadi, yang merupakan takdir hidupku. Makasih ya atas semua nasihat nya." ucap Jay.


"Iya sama sama. Sekarang kamu tidur dulu ya. Nanti aku akan bawakan makanan untuk kamu, kita makan berdua di sini." ujar Will.


"Iya."


Setelah itu Willpun pergi dari kamar Jay dan menutup pintu kamar Jay dengan pelan. Wil memberikan waktu sendiri agar Jay bisa istirahat

__ADS_1


__ADS_2