
Setelah jenazah Ana sudah selesai di makamkan. Kini semua orang yang berdatangan mulai pulang satu persatu. Hingga kini hanya tersisa keluarga besarnya saja.
"Nak, kamu belum memberi nama buat putrimu." ujar Cinta.
"Aku akan memberi nama Arshi Ana Syakira. Arshi di ambil dari namaku, Arsha. Ana, di ambil dari nama istriku. Dan Syakira artinya bersyukur atau mensyukuri. Yah aku sangat bersyukur dengan adanya Arshi di samping ku. Karena Arshi akan mengingatkan ku bahwa aku pernah mempunyai seorang wanita hebat yang terus berada di sisiku. Kelak aku ingin Arshi seperti istriku, Ana. Wanita hebat, sholehah, taat sama kewajibannya sebagai hamba Allah dan juga taat pada sang suami." ujar Arsha sambil menggendong Arshi yang tertidur lelap. Arsha mencium pipi Arshi berulang-ulang. Wajah yang hampir sama dengan sang istri akan mengingatkan dirinya dengan seorang wanita yang pernah menjadi istrinya.
Arsha sangat bersyukur mempunyai sang buah hati. Paling tidak Allah masih sayang padanya, Allah tidak mengambil istri dan anaknya sekaligus. Allah masih memberikan dirinya seorang putri yang akan selalu menemani hari-harinya menggantikan Ana, istri tercinta.
"Nama yang sangat bagus." puji Cinta tersenyum dalam tangisnya. Kini ia sudah kehilangan salah satu putrinya. Namun ia bersyukur karena dirinya masih punya keturunan dari Ana sehingga Cinta tak terlalu sedih. Cinta akan menyayangi Arshi sama seperti yang lainnya. Cinta juga akan membantu merawat Arshi hingga ia besar.
__ADS_1
"Nak, jika di perbolehkan. Bunda sama ayah mau tinggal sama kamu. Kami ingin merawat dan membesarkan Arshi. Apakah boleh?" tanya Cinta pelan karena bagaimanapun ia juga harus izin sama Arsha.
"Boleh bunda, boleh banget. Terimakasih sudah mau membantuku merawat Arshi." jawab Arsha tersenyum.
"Sama-sama nak karena bagaimanapun kami juga menyayangi Arshi sama seperti kami menyayangi putri kami, Ana." ujar Cinta.
"Will dan Aisyah, gak papa kan jika ayah dan bunda tinggal bersama Arsha agar bisa merawat Arshi bersama-sama?" tanya Cinta kepada anaj dan menantunya.
"Gak papa bunda." jawab Will dan Aisyah bersamaan.
"Khaleed boleh kapan saja mengunjungi omma dan oppa. Bahkan Khaleed boleh menginap di rumah ini jika Khaleed mau." jawab Taufiq.
__ADS_1
"Khaleed gak mau menginap, kasihan aby dan umy. Tapi Khaleed janji, akan sering-sering ke sini untuk menjenguk dedek Arshi." ucap Khaleed tersenyum.
"Kamu jangan lupa, masih ada Angel dan juga dedek Afnan." ujar Cinta.
"Khaleed gak akan lupa, Khaleed juga menyayangi Angel, dede Afnan dan juga dede Arshi. Nanti Angel mainnya sama Dede Arshi karena sama-sama perempuan. Dan aku mainnya sama dede Afnan karena sama-sama laki-laki." ucap Khaleed menjelaskan yang membuat di sekitarnya tersenyum sampai melupakan kesedihan mereka.
Saat mereka asyik bercanda, Arshi menangis. Cinta dengan sigap langsung membuatkan susu dan setelah itu memberikannya kepada Arsha. Yah Arsha memang belum tau bagaimana cara membuat susu tapi Arsha tau kalau cuma memberikan susu buat putri mungilnya. Arsha dengan telaten menggendong sambil memegang dot. Arshi yang tadinya menangis mulai diam dan fokus menyusu dotnya.
Sebenarnya Arsha sedih karena putrinya belum merasakan bagaimana minum Asi ibunya karena Ana keburu meninggal sebelum melihat Putri yang sudah ia perjuangkan dengan mempertaruhkan nyawanya.
Setelah puas menyusu, Arshi pun mulai tidur kembali. Yah bayi yang baru lahir memang lebih banyak menghabiskan waktunya dengan tidur, tidur dan tidur.
__ADS_1
Setelah memastikan putrinya benar-benar tidur, Arsha menaruhnya di box bayi.
Dan setelah itu ia menghampiri keluarganya dan ngobrol bersama. Walaupun Arsha sedang berduka tapi ia tak mungkin mengabaikan keluarga besar istrinya. Bagaimanapun Arsha harus menghargai kedatangan mereka di rumahnya.