Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Ica bertemu Teman SMP nya


__ADS_3

Setelah bangun tidur, Ica langsung mandi dan sholat dhuhur. Sedangkan Angel masih tidur nyenyak.


Selesai sholat, Ica memasak untuk makan siang. Selesai masak ternyata Angel sudah bangun, Ica pun segera memandikannya dan memakaikan baju. Setelah selesai, Ica mengajak Angel makan siang bareng.


Selesai makan siang, Ica menelvon suaminya dan menanyakan sudah makan siang atau belum. Ternyata sudah.


Karena gak tau harus ngapain? Ica pun meminta izin suaminya membawa Angel ke Mall. Setelah di izinkan, Ica dan Angel pun siap-siap pergi ke Mall dengan di antar oleh sopir.


Sesampai di Mall, Ica menuju ke permainan. Ica membiarkan putrinya main sepuas mungkin tapi Ica tetap di sampingnya dan memperhatikannya karena Ica takut, putrinya kenapa-napa.


"Hei, kamu Ica kan?" tanya temennya.


"Iya, kamu siapa?" tanya balek Ica, karena ia gak tau siapa wanita yang ada di sampingnya itu


"Aku Fani, temen SMP kamu. Kamu gak inget?" tanya Fani, temen SMP nya.


"Fani? Fani yang orangnya gemuk, jerawatan dan suka pakai kacamata tebal?" tanya Ica.


"Iya itu aku." jawab Fani tersenyum.


"Ya tuhan... kamu kenapa bisa secantik ini? Kamu operasi?" tanya Ica. Fanni hanya menggelengkan kepalanya. "Aku gak operasi, aku cuma merawat diri aku. Sejak aku masuk SMA, aku seringkali di bully temen-temen aku dan itu membuatku sedih. Akhirnya aku memutuskan untuk diet, aku menjaga pola makan aku dan rutin olahraga setiap hari. Aku juga berusaha merawat wajahku. Aku mulai belajar make up. Dan untuk mataku, aku juga sering-sering makan buah dan sayur serta rutin memeriksa mataku ke dokter. Akhirnya jadilah seperti ini.


Tapi ini gak instan, aku butuh perjuangan dua tahun lebih agar bisa seperti yang lainnya. Dan setelah itu aku juga mulai berhijab." ucap Fani menjelaskan secara detail.


"Alhamdulillah, aku seneng liatnya. Kamu sekarang sudah cantik dan langsing." puji Ica.


"Iya, Alhamdulillah. Kamu kesini sama siapa?" tanya Fani.


"Sama anakku." jawab Ica.


"Anak? Kamu udah nikah?" tanya Fani.


"Iya, kamu sendiri? Sudah nikah juga?" tanya balek Ica.


"Iya, Alhamdulillah. Aku juga udah nikah." jawab Fani


"Syukur Alhamdulillah. Terus kamu di sini ngapain?" tanya Ica.


"Sama seperti kamu, aku juga menemani anakku bermain." jawab Fani.


"Yang mana anak kamu?" tanya Ica

__ADS_1


"Itu yang pakai baju hitam. Anakku laki-laki." jawab Fanni.


"Oh tampan ya."


"Hehe iya. Anak kamu yang mana?" tanya Fani.


"Itu yang pakai baju warna merah, pakai hijab." jawab Ica.


"Hemm anakmu lucu dan imut, persis seperti kamu."


"Hehe iya dong, namanya juga aku yang hamil dan melahirkan. Kamu sering ke sini?" tanya Ica.


"Enggak juga. Aku cuma seminggu sekali aja kadang juga dua kali tapi jarang. Keseringan seminggu sekali." jawab Fani.


"Oh, kamu ke sini sama suami kamu?" tanya Ica


"Enggak, aku cuma anak aku. Suami aku sibuk dengan istri mudanya." jawab Fani sedih


"Istri muda?" tanya Ica takut salah dengar.


"Iya, dia nikah lagi saat aku hamil 7 bulan." jawab Fani yang berusaha untuk tidak menangis


"Aku gak tau kalau dia nikah lagi, aku taunya setelah melahirkan."


"Terus kamu terima suamimu nikah lagi?" tanya Ica.


"Awalnya enggak, karena aku merasa di khianati dan itu rasanya sakit banget. Tapi aku juga mikir, kalau aku cerai sama dia, bagaimana kehidupan ku dan anakku. Sedangkan aku selama ini gak pernah kerja. Suamiku yang selalu memenuhi semua kebutuhanku dan juga putraku. Jika aku bercerai dengannya, lalu bagaimana nasib aku dan anakku?" tanya Fani dengan suara sendu nya


"Astagfirullah, aku gak bisa membayangkan bagaimana kehidupan kamu selama ini. Jika kamu butuh pekerjaan, kamu bisa menghubungi aku. Kebetulan suamiku CEO, dia pemilik perusahaan. Sangat mudah buat suamiku memberimu pekerjaan. Itu sih jika kamu mau." ucap Ica


"Kalau aku kerja bagaimana dengan nasib putraku?" tanya Fani


"Kamu bisa menyewa babysitter ataupun menitipkan anakmu sama ibumu. Dari pada kamu sakit hati." ujar Ica yang faham bagaimana perasaan temannya itu karena mereka sama-sama perempuan.


"Iya kamu benar. Aku bisa menitipkan anakku pada ibuku karena jujur, aku sudah gak betah di madu seperti ini. Rasanya sangat sakit apalagi suamiku gak adil. Ia sering menghabiskan waktunya bersama istri mudanya. Bahkan suamiku hanya dua kali dalam sebulan mengunjungi ku dan anakku, itupun hanya beberapa jam saja. Suamiku juga menafkahi aku tidak seperti dulu. Sekarang jatahku cuma 25% dari gajinya dan kadang hampir gak cukup memenuhi kebutuhan aku dan juga anakku.


Bahkan di saat anakku sakit dan masuk rumah sakit, suamiku gak datang karena ia sibuk bersenang-senang bersama maduku. Jujur, hatiku sangat sakit." ujar Fani, selama ini ia gak pernah menceritakan bagaimana kehidupannya selama ini. Ia menyimpannya seorang diri bahkan medua orangtuanya aja gak tau bahwa suaminya sudah menikah lagi.


"Kamu yang sabar ya. Aku boleh minta nomer hp mu."


"Boleh."

__ADS_1


Akhirnya merekapun bertukar nomer hp.


"Jika kamu butuh pekerjaan, kamu bisa segera hubungi aku atau kamu butuh pengacara yang sangat handal. Aku siapkan. Aku akan bantu kamu sebisa dan semampuku. Kamu berhak hidup bahagia. Kamu berhak mendapatkan suami yang bisa menyayangi dan mencintai kamu dan juga anak kamu."


"Makasih ya, mungkin ini adalah jawaban doa-doaku. Aku selalu berdoa agar ada seseorang yang bisa membantu ku keluar dari masalah ini." ucap Fani berusaha untuk tegar.


"Iya. Mungkin pertemuan kita kali ini adalah takdir dari yang Maha Kuasa."


"Iya, nanti aku akan menghubungi kamu setelah aku sudah bisa mengambil keputusan." unar Fani.


"Oke, aku tunggu kabar dari kamu. Oh ya by the way, suamimu kerja di mana?" tanya Ica.


"Suamiki kerja sebagai menejer keuangan di perusahaan terbesar di Jakarta. Perusahaan XXX."


"Oh itu kebetulan perusahaan saudara iparku, suaminya Ani. Nama CEO atau Presiden Direktur Utama, Pak Rachel kan?" tanya Ica.


"Iya bener." jawab Fani.


"Gimana jika aku meminta saudara iparku untuk memecatnya. Dan aku pastikan dia tidak akan di Terima kerja di perusahaan manapun. Jika suamimu pengangguran, otomatis ia akan di tinggal oleh istri keduanya. Aku yakin madumu itu mau nikah dengan suamimu karena hartanya aja." ucap Ica.


"Iya, boleh. Mungkin dengan seperti itu. Suamiku aku akan sadar. Bahwa istri keduanya itu gak tulus menyayangi dia."


"Baiklah, nanti aku akan menghubungi saudaraku ya."


"Iya, terimakasih karena kamu mau membantuku."


"Gak papa, santai aja. Sesama perempuan, aku mengerti perasaanmu." ujar Ica tersenyum.


"Iya udah, ini udah hampir sore. Aku pamit pulang ya.


"Iya, kamu hati-hati di jalan."


"Iya, kamu juga."


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Setelah itu Fani mengajak putranya pulang. Fani belum sempat memperkenalkan Putranya kepada Ica bahkan Fani juga belum menanyakan kabar Ila. Tapi Fani akan menanyakan Ila ketika mereka berjumpa lagi.


Sedangkan Ica, ia mengajak putrinya untuk berhenti bermain. Dan setelah itu mereka keliling Mall buat beli baju, mainan dan terkahir makan di resto. Karena mereka lelah jadi mereka beli minuman dan makanan ringan dulu. Sambil melepas rasa lelah.

__ADS_1


__ADS_2