Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama

Ketika Cinta Hanya Tinggal Nama
Mencoba mengingat Masa Lalu


__ADS_3

Keesokan harinya, Taufiq pergi ke RESTO BASMALLAH jam 6 pagi. Tapi sampai di RESTO, RESTO


masih terlihat sangat sepi bahkan pintu masih tertutup rapat.  Taufiq terlalu bersemangat hingga ia ingin


segera datang dan bertemu dengan istrinya. Hari ini Taufiq memakai celana


pendek sampai lutut, sandal biasa, dan juga baju kaos warna hitam yang sangat


kontras dengan warna kulitnya karena kulit Taufiq sangatlah putih bahkan ia


terlihat seperti orang cina. Rambutnya juga sudah di potong dan di tata sangat


rapi. Tak lupa Taufiq menggunakan parfum yang sangat di sukai istrinya. Sungguh


penampilan Taufiq sekarang sangatlah tampan, lebih tampan dari artis korea.


Saat jam menunjukkan pukul setngah tujuh, para pegawai RESTO pun mulai berdatangan. Mereka membukan


pintu RESTO tanpa susah. “Ah aku lupa jika Naila dan ibunya tinggal di RESTO


ini. Ngapain aku lupa hal sepenting itu, sia sia aku nunggu setengah jam di


mobil.” Gumam Taufiq. Ia pun segera turun dari mobil dan pergi menuju ke RESTO.


“Assalamu’alaikum.” Ucap Taufiq.


“Waalaikumsalam.” Balas Sari, juru masak di RESTO itu. Melihat Taufiq, Sari bahkan hampir gak


berkedip karna sangking tampannya Taufiq.


“Maaf, Naila ada?” tanya Taufiq, membuyarkan lamunan Sari terhadap dirinya.


“Oh, ada mas. Silahkan masuk. Saya akan memanggil Kak Naila dulu.” Jawab Sari, ia pun


segera pergi ke dapur menghampiri Naila yang sudah sibuk memasak dari tadi


sehabis subuh. Oh ya semua pegawai RESTO kompak memanggil naila dengan sebutan


kakak karena Naila gak suka jika dirinya di panggil dengan Bu Naila karena itu


terdengar seperti mengejek, ya bagaimana mungkin mereka memanggil Naila dengan


sebutan buk sedangkan usia mereka hampir sama semua bahkan pegawai yang umurnya


di atasnya memanggil Naila dengan sebutan Naila saja kecuali yang sebaya atau


di bawah umur Naila maka mereka harus memanggil Naila dengan sebutan kaka.


“Kak Nai, ada cowok tampan nyariin kaka.” Ucap Sari tersenyum.


“Cowok tampan siapa?” tanya Naila.


“Itu loh yang kemaren ke sini.” Jawab Sari.


“Mas Taufiq tah?’ tanya Naila menerka nerka.


“Kayaknya sih dia ka. Coba kaka ke depan dulu deh, samperin dia.” Ucap Sari.


“Oke, kamu gantiin posisi kaka ya. Kaka mau menemui cowok yang katamu tampan itu.” Naila


tertawa dan ia langsung nyamperin Taufiq.


“Mas Taufiq?” Panggil Naila. Taufiq pun langsung menoleh ke arah Naila.


“Ya Tuhan……cowok ini benar benar tampan banget. Kenapa bisa setampan ini ya dan kenapa aku baru


sadar sekarang. Gila, dia pangeran dari mana sih?” tanya Naila dalam hati.

__ADS_1


“Kenapa bengong Nai?” tanya Taufiq dengan senyuman manisnya.


“Tampan.” Ucap Naila tanpa sadar.


“Ha! Maksudnya apa Nai?” tanya Taufiq tersenyum, senyuman yang sangat di sukai oleh


kaum hawa apalagi lesung di pipinya membuat Naila benar benar terpesona melihat


penampilan Taufiq.


“A..anu..itu…kucingku


tampan.” Jawab Naila gugup karena gak mungkin dia mengatakan isi hatinya kepada


Taufiq.


“Kamu memelihara kucing?” tanya Taufiq, ia masih saja tersenyum karena ia sadar betul


bahwa saat Naila bilang tampan, Naila sedang memuji dirinya tapi Taufiq tidak


boleh membuat Naila malu dengan ucapan yang ia katakan barusan.


“Gak, maksudku kucing tetangga. Oh ya kog mas Taufiq pagi sekali ke sini?” tanya


Naila berusaha untuk menutupi kekagumannya tapi ia sesekali menoleh ke arah


Taufiq untuk melihat ketampanan laki laki itu.


“Karena aku ingin membantumu.” Jawab Taufiq. Taufiq yang sadar dirinya di lihat oleh Naila


malah bersikap sok cool dan imut sehingga Taufiq terlihat begitu menggemaskan.


“Oh.” Jawab Naila simple.


“Andai saja kita halal, aku ingin memelukmu.” Gumam Naila dengan suara kecil yang masih


tapi bagaimana mungkin aku bilang sekarang, aku gak bisa ngungkapin siapa


diriku kepadamu. Kamu dan juga aku harus sama sama bersabar Nai, tunggu


waktunya tiba. Kamu boleh memelukku sepuas mungkin begitupun dengan aku, aku


akan memelukmu setiap hari. Tak akan ku biarkan kau pergi lagi dari pelukanku.”


Ucap Taufiq dalam hati.


“Mas Taufiq, aku akan buatin kamu teh hangat dulu ya. Setelah itu, baru mas


Taufiq  bantuin aku di dapur menyiapkan


pesanan mas yang super duper banyak itu. Aku dan bunda hampir semalaman gak


tidur karena sibuk menyiapkan ini semua.” Ucap Naila, dia memang tidak tidur


sama sekali. Dari tadi malam ia sibuk bikin bumbu dan memotong sayur sayuran,


ia jgua tidak lupa memanggang ayam yang banyaknya sungguh bikin Naila


kelelahan. Sedangkan sang bunda ia membakar sate dan tak lupa ia bikin beberapa


kue. Sekarang tinggal masak nasi, goreng bumbu dan masih banyak lagi yang harus


ia goreng. Tapi dengan di bantu karyawan karyawannya inyaAllah sebelum jam 11


siang, semua pesananan itu akan selesai juga.


“Kenapa kamu gak tidur Nai, gimana jika kamu sakit?” tanya Taufiq hawatir.

__ADS_1


“Bagaimana mungkin aku bisa tidur mas, jika pesananmu begitu banyak.” Jawab Naila dengan


senyuman yang begitu menggemaskan.


“Kamu kan punya karyawan Nai, kamu bisa menyuruh mereka untuk lembur.” Ucap Taufiq.


“Aku gak bisa mas, aku kasihan sama mereka setelah seharian mereka kerja di tempatku.”


“Kamu memang baik Nai. Iya sudah, kamu gak perlu bikinin aku teh, aku akan langsung


ke dapur dan membantu pekerjaan kamu.” Ucap Taufiq, ia pun langsung menuju


dapur di sana ia melihat ada sekitar 15 karyawan yang sudah berkumpul dan


membantu pekerjaan Naila. Semua pegawai Naila yang perempuan benar benar


terpesona dengan Taufiq dan itu membuat Naila cemburu. Nailapun membawa Taufiq


pergi dari dapur itu karena Naila tak akan membiarkan orang lain menikmati


ketampanan Taufiq.


“Nai, aku mau bantu. Tapi kenapa kamu malah membawaku ke sini?” tanya Taufiq, yah Naila


membawa Taufiq ke taman belakang rumah, taman kecil tapi sangat asri karena itu


di buat oleh Naila sejak sebulan yang lalu, itu tempat di buat agar jika Naila


lelah dan butuh istirahat, ia bisa duduk di belakang rumah dan melihat taman


taman yang ia buat sendiri dengan tangannya tanpa bantuan orang lain.


“Aku ingin mas temenin aku di sini.” Jawab Naila cuek, entah kenapa Naila merasa dadanya


begitu nyeri melihat semua pegawainya menatap Taufiq dengan tidak berkedip.


Bagaimana mungkin Naila membiarkan mereka menikmati ketampanann Taufiq. Ia


sungguh gak rela..”Kenapa denganku, ada apa denganku, kenapa aku bisa


seperti  ini, kenapa aku merasa hatiku


begitu sakit melihat mereka menatap mas Taufiq. Aku tidak mungkin mencintai mas


Taufiq secepat ini.” gumam Naila, lagi lagi ucapan itu terdengar jelas di


telinga Taufiq. Naila sekarang hanya bisa diam beribu bahasa memikirkan hati


dan perasaannya yang begitu nyaman ada di dekat Taufiq, ia seperti mengenal


laki laki itu sudah lama tapi di mana. Naila berfikir keras sampai kepalanya


terasa sakit tapi ia tidak menampakkan rasa sakitnya di depan Taufiq.


Bau parfum Taufiq, juga membuat Naila terhipnotis. Ia seperti mengenal bau parfum itu, bau


yang sering di pakai oleh seseorang. “Aaaaaaaaaaa” teriak Naila sambil memegang


kepalanya.


“Apa ada Nai, apanya yang sakit. Kita ke dokter ya…” ucap Taufiq hawatir, tanpa menunggu


jawaban ia langsunng membawa Naila ke dalam mobilnya. Tak lupa Taufiq memberi


tahu kepada Ibu Inah bahwa dirinya akan membawa Naila ke suatu tempat.


Untunglah Ibu Inah gak curiga dan untung juga saat Naila teriak gak ada satupun

__ADS_1


yang mendengar.


__ADS_2